Jeram 13

9.2K 1K 49
                                        

Tap your star! 💫

Warning


___________________

Cause all the kids are depressed.
Nothing ever make sense.
We're not feeling alright.
Staying up till sunrise.

-Jeremy Zucker






















Shaka pikir Papanya tidak akan datang dan mengira Mahen hanya menipunya. Mahen bilang, Papanya dan Miranda terlibat adu mulut. Mereka bertengkar, dan Mahen terang-terangan bilang bahwa ia membenci Harun karena membuat Miranda marah hingga menangis. Iya, Shaka juga jelas marah. Namun fakta bahwa Harun adalah ayah kandungnya seperti sebuah tamparan keras, bahwa ia memiliki ayah yang tidak sebaik kelihatannya. Bahwa ayahnya sudah mematahkan banyak kepercayaan untuk hasrat pribadinya.

Namun, tamparan Harun begitu nyata. Langkah marahnya saat menghapus jarak antara dirinya dan Shaka juga begitu nyata. Pria itu berjalan tergesa dengan setelan kantor, lalu meraih lengan Shaka hingga anak itu bangkit dari duduknya kemudian mendaratkan telapak besarnya kepipi Shaka tanpa tiding aling. Sebagai sapaannya setelah kembali bertemu dan bertengkar dengan Mama kemarin.

Seperti mengerti bahwa keberadaannya tak lebih dari tempat pelampiasan kemarahan Papa, Shaka hanya diam diperlakukan kasar oleh Harun. Ia tau, ini bukan hanya tentang Rayyan yang kambuh, tapi ini juga tentang kehidupan rumah tangganya. Tapi apa tidak bisa pria ini menanyakan keadaan anaknya terlebih dahulu, atau mengelus punggung Shaka dan berkata bahwa ini semua akan baik-baik saja?

Shaka sudah seperti mayat hidup sekarang.

"Kamu sama Papa belum selesai!" ujarnya marah lalu menghempas lengan Shaka hingga membuat sang empu terduduk dengan keras dikursi rumah sakit dan masuk keruangan Rayyan dirawat.

Seolah tidak merasakan apa-apa. Shaka bangkit dari duduknya untuk mengintip ke dalam ruangan dimana Rayyan dirawat, hanya untuk melihat bagaimana Papa menggenggam jemari Rayyan dan mengusap kepalanya perlahan. Hanya untuk merasakan bagaimana hatinya kini meremuk menjadi serpihan kecil yang tidak dapat disatukan kembali.

***




Shaka yakin bila ayahnya ini sakit jiwa. Karena ia kira amarahnya sudah mereda setelah melihat bungsu kesayangannya jatuh pingsan hingga dirawat diatas keranjang pesakitan. Namun nyatanya tidak, nol besar! Hingga pria yang ia panggil Papa ini menyeretnya ketoilet rumah sakit dan menguncinya, hingga terdengar beberapa orang harus mencari toilet lain untuk melakukan aktivitasnya.

Kali ini Shaka yakin Papanya sangat sangat sangat marah. Dari caranya menggenggam erat leher Shaka hingga anak itu sulit bernafas, lalu melepasnya dan mulai mendaratkan telapak tangannya untuk menampar, menulak, memukul kepala Shaka tanpa ada penolakkan yang berarti dari anaknya.

"Jujur sama Papa! Kamu kasi tau Mama soal Mirandakan?!" tanyanya sambil meremas bahu Shaka kuat. Shaka meringis, rasanya seperti tulangnya kini sedang diremukan.

"Gak, bukan Shaka. Shaka gak kasih tau Mama soal tante Miranda. Mama tau sendiri," jawab Shaka. Ia ingin sekali menangis, bahkan suaranya sudah bergetar, namun air matanya tak kunjung turun untuk membuang sedikit sesak.

"Gak mungkin! Dia bilang sendiri dia tau dari orang lain! Dan yang tau masalah ini Cuma kamu sama Papa!!" bentak Harun. Wajahnya sudah memerah menahan amarah. Sedangkan Shaka terus-terusan merintih menahan sakit saat Harun seolah memainkan tempo remasannya pada bahu Shaka. Mengeras lalu mengendur. Begitu berkali-kali.

Shaka's Ending ✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang