Waterfall 21

10.2K 1K 19
                                        

Tap your star! 🌟

After all of this, i don't think about anything else. Except being with you forever---

__________________________



Mahen menatap lembaran brosur universitas-universitas negeri di Indonesia itu dengan malas. Bahkan pikirannya sendiri entah melayang ke mana. bukannya memilih dan merencanakan kelulusannya, Mahen justru terbawa kembali oleh memori malam itu. Malam kelam dimana ia kembali melihat sisi gelap Shaka, seseorang yang selalu patah dimatanya, seseorang yang selalu mampu memporak-porandakan pikirannya.

Dikepalanya selalu terbayang-bayang oleh wajah tanpa harapan cowok itu, belum lagi rasa penasarannya tentang apa yang terjadi setelah ia sampai dirumah. Apa anak itu baik-baik saja? Apa dia juga sudah berusaha bangkit menyusun masa depannya sendiri? Hal itu seketika membuat Mahen merasa dunia tidak adil, apa boleh ia menyusun rencana begini sedangkan anak lain yang mana keluarganya sedang tidak baik-baik saja karena Miranda sedang sambang keterpurukkan. Apa ia boleh seperti ini?

Semuanya amat menyiksa bagi Mahen, hingga bernafaspun sulit baginya. Ia tiba-tiba saja meragukan fakta bahwa Harun adalah Ayahnya, orang yang ia cari selama ini. Seolah semua kejadian yang ia lihat selama ini tidak pernah mengarah ke sana. Pertama kali Harun hadir, juga perihal Kakeknya yang memaksa keduanya mereka menikah bukanlah hal yang benar. Kakeknya justru menentang keras hubungan keduanya. Harun tidak pernah sekalipun bertemu Kakeknya.

Belum selesai memikirkan kekacauannya, bunyi pintu dibuka berhasil membuyarkan lamunan Mahen. Miranda masuk dengan nampan berisi penuh buah semangka. Wanita itu tersenyum seperti seorang Ibu yang paling lugu didunia. Seolah ia adalah wanita yang sempurna, yang memiliki segalanya. Senyumannyapun tidak mampu Mahen tolak, hingga meski hatinya teriris mengingat kelakuan Ibunya ia tetap membalas senyum itu dengan senyum termanis yang dapat ia ukir.

"Udah pilih mau ke mana?" tanya Miranda. Mahen menggeleng sambil meraih semangka diatas nampan.

"Kayaknya aku ambil Univ di Jakarta aja."

"Lho, katanya mau ke UGM?" Mahen tersenyum miring sambil membalas tatap mata sang Mama yang masih teduh.

"Aku mau nemenin Shaka," ucapnya. Seketika senyum Miranda luntur dan tatapanya berubah menjadi petir disiang hari.

"Mahen? Kamu bergaul sama anak itu?"

"Anak yang mana? Anak yang Mama rebut Papanya?" Miranda melotot, nampan yang berisi penuh semangka itu tergeletak begitu saja diatas meja. Percikannya bahkan membasahi brosur-brosur Universitas diatas meja belajar Mahen. Sedangkan Ibu dan anak itu masih beradu pandang, saling bertukar kilat emosi yang berbeda.

"Harun itu Papa kamu! Mama dia yang rebut Harun dari Mama!"

"Buktinya mana? Surat nikahnya mana? Akte aku yang gak pernah Mama kasih liat mana?! Coba aku mau liat?"

"Kamu gak perlu surat-surat itu, kamu itu anaknya Harun! Harun Papa kamu!"

"Aku capek hidup kayak gini, Ma! Mama kira enak? Setiap aku liat Shaka, aku selalu kebayang selama ini hidup tanpa Papa! Sekalipun Shaka ada Papanya orang itu gak pernah ada buat dia. Mama kepayang gimana pusingnya Papa sendiri malah tidur dirumah orang lain? Mama pernah gak Miki gimana perasaan aku setiap Om Harun ke sini?"

"Enggak kan?"

Ada jeda sejenak sebelum Mahen kembali mengambil alih, sedangkan Miranda kembali bungkam. Melihat bagaimana Miranda mulai berkaca-kaca sanggup menggoyahkan pertahanannya.

"Hubungan Mama sama Om Mahen itu udah nyakitin banyak orang. Entah Mama, Om Harun, Mama Shaka, Shaka, bahkan aku, gak ada yang baik-baik aja sama situasi ini, Ma. Aku gak peduli Om Harun itu Papa aku, aku udah terbiasa hidup tanpa Papa, yang aku butuhin Cuma Mama. Aku mau hidup normal sama Mama tanpa takut merasa aku udah ngerebut kebahagiaan orang lain, setidaknya ketenangan buat Shaka," ujar Mahen bahkan tanpa terasa air matanya sudah meluruh menciptakan arus dipipinya.

Shaka's Ending ✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang