Jeram 20

9.4K 1K 44
                                        

Tap your star! 🌟















Sudah lewat tengah malam, kelihatannya justru air laut sedang memasang. Anginnya bertiup lebih kencang dan kilatan-kilatan petir semakin banyak menampakkan diri. Meski sudah hampir subuh, namun bulan diatas sana masih terang meski disekitarnya dikelilingi awan hitam yang tipis.

Keduanya termenung cukup lama setelah menghabiskan cukup lama perbincangan ringan seraya menikmati angin laut yang mengombang-ambing jiwa mereka. Seolah mencoba keras membawa lari beban mereka. Shaka meringsut, lalu menarik ingusnya naik, sepertinya dia terkena flu lagi. memang agak sedikit pusing, tubuhnyapun sakit semua, tapi ia tidak merasa ngantuk sama sekali. Memiliki Mahen disampingnya benar-benar membantu, baginya presensi Mahen seperti matahari ditengah hujan.

"Lo oke?" tanya Mahen setelah melihat pergerakkan Shaka yang sedikit tidak nyaman, hidungnyapun sudah memerah.

Shaka menggeleng, "Gak papa kok. Gue emang gampang flu."

"Yaudah yuk pulang. anginnya makin kenceng gini," ajak Mahen. Namun lagi-lagi Shaka menggeleng.

"Yaudah, gue balik duluan deh, nanti nyokap gue nyari lag--," Mahen mengatup mulutnya rapat-rapat saat dirasa salah bicara. Memandang wajah Shaka yang masih sama seperti pertama kali ia datang didermaga dengan rona kemerahan dihidungnya membuat Mahen dilanda dilema.

Rasa simpatinya untuk Shaka benar-benar besar, sejak tau bahwa Mamanya mengacaukan pikiran anak SMP yang sedang labil dalam emosi itu beberapa kali membuat Mahen susah tidur. Bagaimana caranya anak sekecil itu bertahan sambil melindungi adiknya dari orang dewasa yang kasar mengacak-acak hidupnya. Namun Miranda tetaplah ibunya, ia menyayanginya sebagaimana orang lain menyayangi ibu mereka. Ia tau betul perlakuan ibunya bukanlah sesuatu yang dapat dibenarkan, keduanya salah. Namun fakta bahwa Harun adalah ayahnya juga andil membuat kepalanya nyaris pecah.

Shaka meraih tangan Mahen saat cowok dengan potongan rambut lebih pendek itu berjalan pelan untuk meninggalkan dermaga yang akhirnya terpaksa terhenti. Shaka mengangkat tangan Mahen, menyibak lengan jaketnya hingga luka sayat malam itu terekspos ikut terkena tiupan angin.

"Ini kenapa?" tanya Shaka, wajahnya masih sedatar tadi namun kali ini keningnya mengkerut sedikit. Kelihatan sekali bahwa cowok kurus ini sedang khawatir.

"Cuman insiden kecil. Tapi gak apa-apa kok," jawab Mahen sambil memukul pelan bahu Shaka.

"Gara-gara gue ya?" Mahen menggeleng cepat.

"Gak kok! Ini cuma insiden!"

"Jangan sakitin diri lo buat orang lain. Lo gak salah. Gue yang bakal urus--."

"Stop! Stop bilang kalau lo yang bakal urus semuanya, stop bilang kalau lo bakalan nanggung ini sendirian, Shak!"

Mahen seketika merinding saat Shaka tiba-tiba mengembangkan senyumnya dan tangannya tidak kuasa terangkat untuk menepuk kepala anak yang lebih rendah sedikit darinya itu. Lagi-lagi dadanya terasa seperti terhimpit. Mengapa hanya memandang Shaka dari jarak sedekat ini hatinya juga ikut teriris?

"Gue ngelakuin pilihan yang tepat!" katanya antusias. kemudian Mahen menggernyit dan cowok bermata hitam pekat itu melempar pandangannya ke depan, kearah mercusuar.

"Buat nyapa Bang Mahen lagi. Makasih udah berani datengin aku ditaman waktu itu, soalnya waktu itu aku benar-benar bingung mau ngapain. Tapi Bang Mahen berani datang dan ngasi aku alasan," ucapnya sedangkan Mahen sudah berkaca-kaca.

Mahen menjepit kepala Shaka masuk disela lengannya lalu memukul kepalanya pelan. "Sekarang kalau ada yang mau lo sampein tuh ngomong aja! Jangan dipendem-pendem! Muka lo jelek kalau lagi stres gitu!"

Shaka's Ending ✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang