Arus 10

10.4K 1.1K 33
                                        

Tap your star! ✨

_____________
We were so beautiful
We were so tragic

-Lauv



















Sudah bertahun-tahun.

Shaka tau hal ini akan terungkap, sepandai-pandainya Harun menyimpan Miranda sekalipun di dalam peti kecil disebuah pulau didunia Ini. Tuhan selalu punya cara untuk menunjukannya pada dunia. Hanya saja Shaka tidak pernah menyangka, bahwa akibatnya pada sang Ibu akan sebesar ini. Hal ini pasti membuat Nadin trauma, apa lagi ini sudah yang kedua kalinya.

Seperti badai susulan. Namun siapapun masih belum siap.

Keadaan masih sesunyi malam dan sedingin kutub utara, namun berbeda dengan Harun. Shaka dapat melihat jelas api yang menyala-nyala dimata Ayahnya. Sebuah pisau panjang seolah siap ia lemparkan untuk menyayat Shaka bila dugaannya benar. Bila tuduhannya tentang Shaka yang memberitahu Nadin perihal Miranda benar.

"Nadin," panggil Harun kemudian. Namun istrinya tidak bergeming, masih tergugu menikmati perih hatinya setelah dikhianati.

Bila boleh jujurpun, Shaka ingin tau bagaimana ini bisa terjadi.

Semuanya tertoleh seketika saat Rayyan tanpa ekspresi yang berarti, meninggalkan ruang keluarga dan pergi kekamarnya dengan penuh tanda tanya dikepala Shaka. Namun sikapnya tak pelak juga mengkhawatirkan.

Fokus Harun dan Shaka kembali tertuju pada Nadin saat perempuan itu berusaha berdiri dan berhadapan dengan Harun dengan mata yang tak kalah membara. Bagi Shaka, ini seperti akan sebuah akhir dari dunia. Setelah Nadin menghempas kasar tangannya, Shaka tau, ia harus mulai mengkhawatirkan masa depan.

"Kamu menjalin hubungan lagi sama Miranda?!"

"Kamu tau dari mana, Din?" tanya Harun. Jujur saja membuat Shaka naik pitam. Kenapa justru itu yang Papanya pikirkan sekarang?

"Ada yang memberi tau aku. Sekarang kamu jujur! Karena aku udah lihat semuanya!"

Tepat setelah itu, mata Harun justru tertuju pada Shaka dengan tajam. Membuat yang dipandang semenyeramkan itu ciut dengan tangan mendingin. Meski ekspresinya kini seperti tidak ada takut-takutnya.

"Siapa?!"

"Sekarang, kamu gak perlu tau siapa. Aku cuma mau tanya, kamu maunya kita gimana? Kalau kamu masih sama Miranda, kita cerai! Aku gak sudi terlibat dalam hubungan seperti ini, Run," Papar Nadin dengan dada naik turun menahan amarah yang meletup-letup.

Lengannya kembali digandeng Shaka, sebenarnya sedikit membawa kekuatan untuknya menatap mata Harun yang seolah ingin menerkam. Namun Harun justru menarik baju Shaka kasar dari belakang Nadin. Membuat pemuda itu terseok sambil meringis saat ditarik paksa sang Ayah kesisinya.

"Shaka, Papa mau ngomong."

"GAK! Aku yang mau ngomong sama Shaka! Kamu pergi sekarang, terserah ke mana. ke tempat Miranda juga aku udah gak peduli!" pekik Nadin akhirnya yang kemudian menarik lengan Shaka naik kelantai dua. Meninggalkan Harun dengan emosi sekaligus ngilu yang meremas hatinya telak.

Setelah menjauh dari Harun. Dibalkon lantai dua yang dikunci dari luar, ditiup angin malam yang bertiup kencang. Menerbangkan rambut Mama juga kaos tipis Shaka, dibawah lampu jalan yang remang-remang tanpa sempat menghidupkan lampu balkon, Ibu dan anak itu terkurung sunyi untuk sesaat. Sama-sama meresapi rasa sakit masing-masing. Nadin yang masih mengontrol air matanya yang luruh enggan berhenti dan Shaka yang seketika hilang minat pada bintang yang terlihat terang malam ini setelah diguyur hujan sepanjang sore.

Shaka's Ending ✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang