"papa mengambil semua uangku saat pulang. Gaji dari bar ini sudah habis untuk biaya sekolah jovi. Aku sudah tidak ada jam pagi untuk minggu ini, Jadi tidak bisa berkerja di kafe. Sisa uang ku sekarang bahkan tidak akan cukup untuk bertahan hidup 1 minggu." Aku bisa melihat wajah frustasi di wajah Ellie.
Sepertinya gadis remaja itu adik Ellie. Penampilan mereka sangat berbeda. Gadis remaja itu sangat trendi. Sangat terlihat jelas baju yang dipakainya itu cukup bermerk.
"Kalau begitu pinjam lah ke teman mu. Kau bisa membayarnya nanti saat telah dapat gaji lagi" Au speechless mendengar perkataan tanpa beban dari gadis remaja itu. Bagaimana bisa dia mengatakan itu dengan mudahnya.
"Tidak. Pergilah, Disini tidak baik untuk anak seusia mu" Bagaimana bisa Ellie masih setenang itu. Dia bahkan masih terlihat peduli pada remaja itu. remaja itu berdecih
" Aku tidak sepolos yang kau kira. Jangan kau pikir aku akan besikap sok suci sepertimu. Apa gunanya punya tubuh bagus jika tidak bisa menggaet lelaki kaya? Belajar la dari mama. Dia punya banyak uang karena itu. Ku beri tahu padamu. Tubuhmu ini cukup bagus. Wajahmu juga not bad, tapi tak ada gunanya jika tak kau terus sok suci seperti ini. Lebih baik kau manfaatkan daripada berakhir sia-sia saat kau dijual oleh mama atau papa.Harga Virginity mu pasti sangat mahal"
Aku terbelalak. apa katanya? Memang bukan hal baru seorang perempuan lose virginity di usia remaja. Bahkan di usia 13 dan 14 tahun. Yang membuatku terkejut adalah, Gadis itu dengan santai mengatakan bahwa dia memanfaatkan tubuhnya untuk mendapatkan uang. Bahkan ibu nya juga. Dan apa katanya tadi? dijual? Aku tidak habis pikir. Menjual anak mereka sendiri. mereka bukan manusia. mereka lebih buruk dari binatang. Karena bahkan binatang buas pun tidak akan menyakiti anaknya sediri.
"Kalau begitu kenapa kau masih meminta uang pada mu? miinta lah pada pacar-pacarmu itu"
"Aku sedang tidak punya mangsa. Lelaki kaya di sekolahku terlalu membosankan." Aku merolling mataku.
"sudahlah. Aku harus kembali bekerja. Pulang lah kerumah. Hati-hati. Ini sudah larut" Remaja itu belum juga pergi malah kulihat sepertinya ia malah menghubungi seseorang
" halo ma." dia memnghubungi ibu nya? Ku kira dia akan menghubungi temannya. Ini sedikit mencurigakan
"Dia cuma pelayan di bar. Aku sudah bilang kan, gadis sok suci seperti dia mana mungkin mau menjual tubuhnya."
"iyaa... aku bisa menjamin bahwa dia masih Virgin. mama tenang saja. ngomong-ngomong, Berapa harganya?"
"Apa? itu terlalu murah. Harganya gadis virgin bahkan bisa lebih dari $ 50.000." apa -apaan ini? mereka benar-benar akan menjual Ellie?
"bagaimana mama bisa berhutang hingga $20.000? Astaga, mama benar-benar sudah gila" Kalian bukan hanya gila, tapi tidak waras. bagaimana bisa kalian menjual keluarga kalian sendiri. Sangat ingin ku teriaki itu kepada mereka
" Baiklah-baiklah. Kapan transaksinya?" Aku memasang kuping dengan sangat baik. tak ingin ketinggalan informasi penting ini.
"lusa? aku benar-benar tidak sabar ingin punya uang yang banyak" Gadis remaja itu sudah berjalan menjauh dari. Ku lihat jam di tanganku. Pukul 11. Ellie akan pulang sebentar lagi. Mungkin aku akan menunggunya di mobil. Aku berencananya melihat hingga dia selamat di rumah.
.
.
.
.
.
.
.
*author pov
Ellie berjalan keluar dari bar bersama Nicolas. Sampai di depan bar mereka berhenti.
"Kau benar-benar yakin bisa sendiri? Aku bisa menemanimu sebentar" Raut cemas terpampang jelas di wajah Nicolas. Ellie mengangguk
"pulanglah. Istrimu pasti sangat panik sekarang. Kalian harus cepat membawa putri kalian ke dokter"
"Baiklah. Kumohon berhati-hatilah. Aku tidak ingin kehilangan adiku lagi" Ellie mengangguk dan melambaikan tangannya sambil berjalan untuk menyebrangi jalan raya.
Ellie berjalan menyusuri trotoar yang temaran karena pencahayaan lampu yang kurang memadai. Tak ada bangunan di sekitar sini. hanya pepohonan yang dibatasi oleh pagar beton setinggi dada lelaki dewasa.
Sesampainya di halte, Ellie duduk di bangku yang disediakan di halte itu. Ia melirik ke jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Pukul 12.18. Masih 12 menit untuk bus selanjutnya. Di kota super sibuk ini. Bus hampir sedia 24 jam. Bus pertama pukul 5 pagi dan bus terakhir pukul 2 dini hari.
Sebuah mobil Audy tipe R8 V10 hitam berhenti di depan Ellie. Jendela kaca sebelah Ellie terbuka, menunjukkan wajah si pengemudi yang sangat familiar bagi Ellie.
"Kau sudah mau pulang? Masuklah, biar ku antar" Ellie menatap acuh pada si pengemudi, Tanda menolak
" Kau mengacuhkan ku?" tanya Gio tak percaya. Gio keluar dari mobil, berjalan memutari mobil dan membukakan pintu yang berada tepat di depan gadis itu berdiri.
" Ayolah, biar ku antar kau pulang. Tidak baik seorang gadis cantik pulang sendirian selarut ini"
"bisakah kau berhenti mengganggu ku?"
"Asalkan kau masuk dan membiarkanku mengantarmu pulang. Ayolah, ini semakin larut dan aku juga ingin segera pulang ke rumah dan tidur" Melihat tidak ada pergerakan dari Ellie, Gio pun berinisiatif mendekati Ellie dan menarik Ellie agar masuk ke mobilnya. Dengan pasrah Ellie masuk ke mobil lelaki itu. Ia tahu melawan pun akan percuma. Lelaki ini sangat keras kepala.
Mereka terdiam cukup lama hingga Gio membuka percakapan.
"Besok kau juga bekerja?" Ellie diam, tak berniat menjawab pertanyaan itu.
"Ku sarankan besok kau bersembunyi saja. Aku merasa akan ada hal buruk yang akan terjadi pada mu besok" Ellie menatap bingung Gio. Ia merasa sifat laki-laki itu mendadak berubah, tidak seperti pertama kali mereka bertemu dan saat di kantin tadi siang.
" Aku serius. Kau sebaiknya bersembunyi besok. Jauhi semua orang dan tempat-tempat yang sering kau datangi seperti tempat bekerjamu"
"Hal buruk apa lagi yang bisa terjadi padaku? Tidak ada hal baik yang datang pada ku. Aku sudah terbiasa dengan semua hal buruk sepanjang hidupku" Ellie tersenyum pahit, dan Gio melihat itu. mereka terdiam lagi beberapa saat, dan lagi-lagi Gio membuka percakapan
" Hei, bagaimana jika kita menjadi teman?"
"Kau tahu? laki-laki dan perempuan tidak berteman. Tak ada pertemanan yang murni antara lelaki dan perempuan. Cepat atau lambat, Salah satu dari mereka akan jatuh cinta. Dan aku tidak berencana untuk merasakan nya. Jatuh cinta terlalu mewah untuk ku" Gio terdiam sebentar.
"Semua orang berhak jatuh cinta, bagaimana bisa kau berkata itu hal yang terlalu mewah untukmu?"
"entahlah... Aku hanya berfikir seperti itu. Hidup ku berat sejak kecil. Bahkan aku tidak bisa bermimpi untuk hidup bahagia dan menemukan cinta sejati seperti remaja seumuranku. Mungkin aku akan selalu hidup seperti ini sepanjang hidupku. Aku bahkan tidak akan terkejut jika hidupku bisa lebih buruk dari ini nantinya" Gio menoleh ke Ellie, tapi Ellie membelakanginya sehingga Ia tak tahu ekspresi seperti apa yang sedang di tampilkan Ellie sekarang.
.
.
.
.
.
TBC
KAMU SEDANG MEMBACA
Into Happines
CasualeAku tidak mengerti ini apa. Yang pasti, aku tertarik padanya sejak pertama kali bertemu -Georgio Nathaniel Madison- Gabriella Geraldine hanyalah salah satu dari banyaknya orang yang mengalami ketidak adilan dunia. Di umurnya yang hampir 20 tahun, ta...
