Kisah cinta seorang Kris Lee dan Lalisa kwon. Mereka bertemu kembali setelah 10 tahun berpisah. Lalu benih cinta mulai muncul. Perjuangan dan hasil.
Bagaimana hasil dari perjuangan mereka?
Jiyong mendorong kursi roda Lisa menuju rumah besar dan mewah itu. Jangan lupa ditemani Cheerin istri tercintanya. Hari ini, Lisa sudah dibolehkan untuk pulang. Tapi, ia juga harus meminum beberapa obat yang tentu.. pahit.
"Appa, aku ingin disini. Sendiri."
Jiyong menghentikan langkahnya. Lalu terdiam sejenak sembari menatap sekeliling taman depan rumah. Mungkin putrinya butuh sendiri.
"Baiklah,"
Setelah itu, Jiyong dan Cheerin menjauh. Meninggalkan Lisa yang sedang menikmati setiap hembusan angin sembari memejamkan kedua matanya tenang.
Sekarang, pikirannya dipenuhi oleh pemuda bernama Kris Lee itu. Kalimat yang ditulis di surat itu, masih ia ingat. Sakit. Hatinya sakit jika mengingat itu. Ia membuka kembali surat yang ia genggam sedari tadi. Surat yang hanya berisi 6 kalimat itu sudah membuatnya sedih.
°° Aku membencimu, Lisa. Aku pergi. Meninggalkanmu.
Kris Lee.
°°
Lisa tersenyum miris. Kenapa? Kenapa Kris tiba-tiba membencinya? memang apa kesalahan yang sudah ia lakukan sehingga membuat Kris membencinya? sampai-sampai pergi meninggalkannya?
"Jika kau membenciku, aku juga membencimu, Kris Lee."
"Aku lebih membencimu, Kris. Mengapa kau dengan teganya meninggalkanku disaat aku mencintaimu seperti ini? lebih baik kita tak bertemu. Jika kita tak bertemu waktu itu, kau tak akan membuat hidupku seperti ini. Aku takkan mencintaimu sedalam ini. Mencintaimu hanya membuatku sakit."
"Aku akan melupakanmu, Kris. Aku akan... menerima Sehun."
"Jinjja?"
Lisa menoleh, dan melihat Sehun yang sedang menatapnya dengan senyuman. Lisa terdiam sejenak lalu mengangguk.
Lisa terkesiap. Sehun memeluknya dengan tiba-tiba. Sehun tentu senang karena Lisa bisa menerimanya. Meski ia tau Lisa masih memiliki perasaan pada Kris. Karena Sehun sudah bilang. Lisa menerimanya sedikit saja, itu sudah membuat seorang Oh Sehun senang.
Sehun melepaskan pelukan itu lalu menatap Lisa, dan tersenyum tipis. "Aku senang, Lisa."
Lisa tak menjawab. Ia hanya menatap bunga didepan sana sembari menikmati hembusan angin yang menerpa wajah cantiknya.
"Sehun,"
"Hm?"
"Buat aku mencintaimu."
Sehun terdiam sejenak sembari menatap wajah cantik Lisa yang sedang menatapnya teduh. Lalu ia tersenyum tipis sembari menggenggam tangan kanan Lisa dengan lembut.
"Tentu."
. . . .
Mata tajam itu menatap sekeliling ruangan itu. Kris melangkah ke koper hitamnya lalu membukanya. Ia sudah berada di Kanada 5 jam yang lalu. Dan sekarang, ia berada di Apartemen nya yang bisa dibilang luas.
Mata tajamnya menatap foto seorang gadis cantik yang sedang tersenyum dengan manisnya.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Gadis itu---Lalisa Kwon.
Kris menggeleng pelan. Lalu menutup foto itu dengan pakaian nya. Ia tak boleh seperti ini. Gadis itu sudah bahagia dengan sahabatnya. Ia harus berusaha merelakannya. Ia tak boleh menjadi orang ketiga di hubungan mereka berdua.
Kris melangkah keluar dari Apartemennya. Saat berada diluar, ia melangkah mencari Mini market terdekat. Tapi matanya tak sengaja melihat seorang gadis didepan sana yang sedang dikerumuni oleh beberapa pria yang sudah berumur. Gadis itu menangis terduduk diaspal.
Memang. Ini sudah tengah malam. Jadi tak ada yang membantu gadis itu karena keadaan nya yang sepi.
Kris berlari kearahnya lalu memukul para pria itu, sampai tergeletak tak berdaya diaspal. Lalu Kris menatap gadis itu dengan datar.
Gadis itu berdiri lalu memeluk Kris dengan erat. Tak bisa dipungkiri ketakutan gadis itu. Ia memeluk Kris sembari menangis sesegukan.
"Sorry."
Ucap gadis itu sembari melepaskan pelukannya. Yang hanya diangguki oleh Kris.
Drrtt! Drrtt!
Kris menatap nama kontak panggilan itu lalu mengangkatnya.
"Yak! kau sudah sampai belum?! kenapa tak menelfonku!"
Kris memutar bola matanya malas ketika mendengar ocehan Xiumin disana. "Aku sudah sampai. 5 jam yang lalu."
"BENARKAH?! 5 jam yang lalu?!"
"Ya."
"Mengapa kau tak menghubungi--"
"Lupa."Potong Kris. Ia tak mau mendengar ocehan sang kakak lebih lama.
"Lupa?! bagaiman kau bisa melupakan Hyungmu yang tam---"
Tut.
Panggilan itu berakhir sepihak. Lalu menaruhnya di saku celananya.
"Kau, orang Korea?"
Pertanyaan itu membuat Kris menoleh lalu menatap gadis itu dengan salah satu alis yang ia naikkan.
"Eoh."
"Aku juga orang Korea."
"Jinjja?"
"Iya. Aku sudah lama tinggal disini. Kau sendiri?"
"Pendidikan."
"Ah, begitu. Jika begitu, perkenalkan."Ucap gadis itu sembari mengulurkan tangan kanannya pada Kris.
"Namaku, Jennie. Jennie Kim."
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Kris Lee."Jawab Kris yang tak membalas uluran tangan dari Jennie. Ia hanya menatap Jennie dengan datar. Tak ada ekspresi apapun.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Sekarang, pulanglah."Ucap Kris dingin sembari menatap Jennie dengan datar.
"Aku, takut jika nanti ada---"
"Telpon saja keluargamu."
"Aku tak bawa ponsel."
Kris menghela nafas kasar. Jadi ia harus mengantarkan Jennie? merepotkan saja. Dan juga ia tak membawa ponsel untuk meminjamkannya pada Jennie. Kris menatap keatas langit yang sudah gelap. Benar, ia tak boleh meninggalkan Jennie sendirian. Mengingat hari sudah malam, tentu itu bahaya untuk gadis seperti Jennie.