7 - New House

2.2K 170 8
                                        

"Seperti kopi, kau harus menambahkan gula di dalamnya agar rasanya tidak terlalu pahit. Maka, seperti itulah kehidupan, kau perlu bahagia agar hidup mu tidak terasa pahit."
-Leece

~•~

Kejadian dimana Jennie membantu Jongin memasangkan dasi pria itu membuat seluruh isi rumah bersorak meriah dari lantai dua rumah ini. Terutama Lalisa, gadis itu memberikan sorakan paling meriah disana

Haechan kecil yang melihat adegan mesra dari orang dewasa ini hanya bisa tersenyum malu dengan telinga dan wajah yang sudah memerah

"Kenapa rame sekali?" Tanya Tn. Choi begitu si kepala rumah tangga ini keluar dari kamarnya dan melihat beberapa orang yang tampak tertawa renyah bersamaan

"Jongin dan Jennie bermesraan disini, Appa." Ujar Junmyeon yang menggendong Chenle kecil yang sudah siap dengan seragam sekolah bocah itu, tapi Chenle kecil masih saja terlihat mengantuk

"Hai Chen, ayo sarapan." Ujar Jisoo seraya menyentuh hidung Chenle kecil terus menerus. Chenle kecil yang risih dengan perlakuan Jisoo langsung saja membuka matanya sembari mengerucutkan bibirnya

"Chen engga mau masuk sekolah, eomma." Jisoo menggelengkan kepalanya. "Ah ah! Tadi malam siapa yang berjanji supaya engga bandal lagi? Atau eomma bakalan per—"

"Hajima!" Potong Chenle kecil dan langsung membenarkan posisi duduknya dan Jisoo langsung tersenyum merekah saat melihat Chenle kecil yang begitu antusias nya

"Kalau gitu harus sarapan biar berangkat sekolah, nee?" Kata Jisoo dan langsung di angguki setuju oleh Chenle kecil yang masih berada di pangkuan sang Ayah

Junmyeon hanya tersenyum saja melihat sang putra yang di kenal dengan keras kepala tapi begitu nurut mendengar setiap rincian yang Jisoo katakan

Lalisa dan Sehun datang bersamaan tanpa ada Jeno kecil di antara mereka, Jeno yang masih berusia empat tahun sangat dilarang keras oleh Sehun untuk pergi ke sekolah

"Dimana Jeno?" Tanya Tn. Choi sebagai seorang kakek dan sebagai orang yang selalu memangku Jeno kecil saat sarapan di pagi hari

"Jam lima pagi tadi Jeno terbangun dan meminta susu. Jadi aku buatkan seperti yang di ajari oleh ahjumma lalu Jeno tidur kembali jam setengah enam pagi tadi." Rinci Lalisa selaku teman tidur Jeno kecil, Ny. Choi yang mendengar itu langsung saja tersenyum hangat kepada Lalisa

"Maaf sudah merepotkan mu, Lisa-ah." Kata Ny. Choi yang langsung mendapatkan gelengan kepala dari Lalisa

"Engga apa-apa, Nyonya Choi." Kata Lalisa yang langsung mendapatkan hentakan sendok dan garpu yang di bantingkan ke atas meja makan

"Kenapa masih manggil, Nyonya? Harusnya eomma bukan nyonya, paham?" Kata Ny. Choi membuat Lalisa bergidik ngerih saat mendapatkan tatapan horor itu dari sang calon ibu mertuanya

Melihat Lalisa yang di marahi oleh Ibundanya, Sehun hanya bisa tersenyum sembari melihat wajah Lalisa yang di tekuk ke dalam. Namun senyuman itu pudar kala melihat mata Lalisa yang sudah berlinang airmata

Sehun mengelus-elus punggung Lalisa. "Mianhae, Lisa-ah." Kata Sehun melihat sang Ibunda lalu memberikan kode kalau Lalisa hampir menangis hanya karena di tegur sedikit keras oleh Ny. Choi, padahal Ny. Choi hanya berniat bercanda kepada Lalisa

"Uljima, Lisa-ah." Kata Sehun dan menarik Lalisa agar menyenderkan kepalanya di dada bidang pria duda itu. Semua yang ada di meja makan hanya diam saja walaupun mereka sudah tidak tahan untuk segera bersorak ria

"Eomma, Lisa menangis karena dirimu. Ayolah." Lalisa langsung membenarkan posisi duduknya sembari menggeleng lemah

"Mianhae, eomma." Ny. Choi hanya mengangguk sembari tersenyum manis kepada calon menantunya yang paling muda

"Jangan terus meminta maaf, aku yang salah karena terlalu kasar padamu, jadi jangan menangis lagi, oke? Tadi aku hanya berniat untuk bercanda dengan mu, Lisa-ah." Lalisa mengangguk sembari menyeka air matanya

"EOMMA!" Seru Jeno kecil yang langsung berlari dari lantai dua rumah ini. Jeno kecil berlari-larian di tangga membuat sang ayah langsung berdiri dengan mulut yang penuh dengan makanan

"Jeno jangan berlari, eomma mu disini." Ujar Sehun yang menjemput putranya yang berlari penuh antusias itu. Begitu sampai di hadapan Lalisa, Jeno kecil langsung memeluk Lalisa dengan erat sembari duduk di pangkuan gadis itu

"Bahkan aku sudah merindukan mu, eomma." Kata Jeno kecil pada Lalisa membuat gadis itu tersenyum hangat

"Lebay sekali." Renjun kecil membuka suaranya dengan mulut yang masih terisi penuh dengan roti sandwich yang tadi di buatkan oleh Chaeyoung

"Sirik tanda tidak mampu. Pergi sekolah saja sana, hush!" Usir Jeno kecil kepada Renjun kecil yang malah memberikan ekspresi konyolnya kepada sang sepupu

"Ini mau pergi juga, kok!"

~•~

"Aigoo! Mommy! Kenapa kau membawa banyak koper besar kemari?" Tanya Jisoo kepada sang Ibunda yang baru saja datang kerumah Ny. Choi yang menjadi tempat tinggal keempat gadis ini beberapa hari belakangan ini

"Aku membawa baju-baju kalian, sepatu kalian juga beberapa makeup yang kalian butuhkan. Semuanya ada disini." Kata sang Ibunda begitu santainya dan tepat pada saat itu Ny. Choi baru saja kembali dari ruang tv

"Eomma yang menyuruh mommy kalian untuk membawa barang-barang keperluan kalian selama disini. Jadi, jangan pikirkan untuk segera pulang hanya karena alasan tidak membawa baju ataupun sepatu atau bahkan yang lainnya."

Rincian Ny. Choi itu membuat keempat gadis itu menganga tanpa sadar. Bagaimana bisa sang ini calon mertua mereka ini sangat pengertian? Huh!

Kini hanya mereka yang berada di ruang tamu setelah Lalisa berhasil menidurkan Jeno kecil yang masih membutuhkan susu cair saat bocah kecil itu ingin tidur

"Mendekatlah, ada beberapa hal yang perlu aku katakan kepada kalian, besan dan menantu ku."

~•~

"Menarilah sesuai iringan musiknya, seperti halnya kau menari di atas takdir mu.
Kau harus berhenti bermain-main dengan takdirmu, nikmatilah maka Tuhan mu akan tersenyum bangga kepada mu sebagai hamba-Nya."
-Leece

Arranged Marriage [Blackxo vers.]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang