BAB 3 : THE PAST

758 27 0
                                        

"Ana!" teriak Reihan sambil menggoyang-goyangkan tubuh Ana ketika  Ana semakin menariki rambutnya.

"Ana ada apa?  Hei! sadarlah ini aku Reihan!" ujar Reihan.

"Reihan," lirih Ana.

Reihan langsung menarik Ana dalam dekapannya, "tenanglah aku di sini,  tenanglah!" ujar Reihan dengan cemas sambil mengusap lembut punggung belakang Ana.

Cklek!

"Reiha ...."

Seorang gadis tiba-tiba memasuki ruangan Reihan, Ana spontan mendorong tubuh Reihan dan merapikan dirinya, Reihan yang merasa kikuk pun berdehem sebentar.

Gadis tadi sontak terkejut dan langsung menghampiri Reihan dan menarik sebelah lengan Reihan, menyuruhnya berdiri.

"Apa yang kamu lakukan, Reihan?" tanya gadis tadi.

"T-tidak ada, jangan salah paham, Liana," jawab Reihan kepada gadis yang bernama Liana itu.

"Apa begini kelakuanmu ketika aku tidak berada di sampingmu, Reihan?!" tanya Liana dengan nada sedikit tinggi.

"Dia hanya sebatas sekretarisku Lia, dengarkan aku, kamu jangan salah paham," jelas Reihan sambil memegang kedua pundak Liana.

Liana mendekati Ana yang masih sibuk merapikan dirinya, "He kamu!" ujar tegas Liana sambil mencengkeram lengan Ana, Ana hanya bergumam dan seketika meringis ketika merasa sakit pada pergelangan lengan kanannya.

Plak!

Reihan sontak terkejut ketika Liana dengan sengaja menampar Ana, tangan kiri Ana menjalar menyentuh pipinya yang mulai memanas, Liana menampar Ana begitu keras sehingga kelima bekas jemari Liana berbecak di pipi halus milik Ana.

"Lia apa yang kamu lakukan?! sudah aku bilang kamu hanya salah paham!" ujar Reihan.

"Salah paham? Lalu bisa jelaskan kepadaku apa yang kalian lakukan tadi ketika aku baru memasuki ruanganmu? Pasti dia mencoba menggodamu tadi, dia pantas mendapatkannya Reihan, dia wanita penggoda!" ujar Liana, Ana semakin membolakan matanya merasa terkejut atas apa yang dikatakan Liana, wanita penggoda? Batin Ana.

"Maafkan saya Nona, apa yang Nona Lia lihat tadi itu hanya sebuah kesalah pahaman, dan maaf saya wanita baik-baik, Pak Reihan yang meminta saya kesini dan memberikan saya bekal makan siangnya, namun belum saya makan, kalau begitu saya permisi," ujar Ana lalu beranjak pergi meninggalkan ruangan Reihan.

Ana sedikit berlari menuju kamar mandi untuk membasuh wajahnya yang terlihat sedikit acak-acakan, Ana melamun sejenak, menelisiri wajahnya dan bekas barut misterius pada kepalanya.

"Amel," gumam Ana.

"Nama itu tidak begitu asing di ingatanku, aneh sekali, sepertinya ada sesuatu yang disembunyikan oleh ayah bunda ketika aku koma dulu, aku harus menanyakannya nanti," gumam Ana.

FLASHBACK ON

"Biar aku saja yang menamainya, George," ucap seorang laki-laki paruh baya yang berdiri tepat di pintu kamar rawat.

"Bagaimana sayang?" tanya George pada istrinya Alena yang masih terbaring di ranjang pesakitannya, Alena tersenyum lalu mengangguk menyetujuinya.

“Baiklah, apa nama yang akan kamu berikan, Baek-Hyeon?”

"Bagaimana dengan, Anastasya George Amelina?" ucap seorang laki-laki yang dipanggil Baek-Hyeon itu

"Nama yang bagus," puji Jeon Aera, istri Jeon Baek-Hyeon.

"Aku dan istriku memang sudah memikirkan nama itu untuk anakmu, George," ujar Baek-Hyeon.

PAK BOSSTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang