Digenggam Bapak dan Dipeluk Ibu (Puisi)

10 2 0
                                        

Punggung basah, termangu, lima jam memaku, membeku di tengah pemakaman baru. Tukang gali silih ganti bersimpati, sepenting itukah kabar hati?

Kembali ke rumah. Kupandangi sebuah lukisan di ruang tengah. Dengan pipi basah, kuingat lagi harapan yang dijalurkan pada lukisan ini. Harapan yang sehari-hari melagu. Harapan mereka yang jadi penghuni makam baru.

Dengan bekal: digenggam Bapak melalui tasbih dagangannya. Dengan dipeluk Ibu melalui kain putih dagangannya, kuberdiri lagi menghadap lukisan agung kebanggaan rumah. Lukisan yang kian hari memudar, tapi harapannya terus terpancar. Dua belas tahun berlalu sejak hari itu. Kini kalian ikut denganku, menyapa lukisan yang dibeli patungan dari uang hasil dagangan. Sebuah lukisan rumah yang dibalut Kiswah. Kita benar-benar ke sana Pak, Bu.

Cerita Tapi Singkat Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang