Malapetaka Bahagia

23 2 0
                                        

Apa spesialnya seorang tukang kelapa parut? Saban hari jambaki sabut, sabut dikupas lalu dibelah, dibelah lalu diparut pakai mesin, batoknya dijual jadi bahan arang, tapi siapa yang mau beli juga, masih jauh dari hari raya.

"Bang, batok kelapanya masih banyak?"
"Banyak nih, mau berapa kresek?"
"Wah."
"Kenapa?"
"Gak laku ya bang?" Tertawa sambil lari.
"Berengsek." Gusarku pelan.

Muak benar saban hari begini, tapi apa mau dikata, aku tetap harus memarut guna menyambung penghidupan.

Sambil tangan kananku memegang kelapa yang diparut putar mesin, tangan kiriku menyesap rokok puntung semalam. Tak lama, mataku menyesat ke buah dada ibu-ibu yang lewat. Dari sanalah malapetaka mengundang senyum dimulai, tangan kananku ikut terparut mesin, pergelangan habis, pendarahan hebat terjadi, lantai warung amis oleh simbah darah, perlahan mata mengabur, melemas, tubuh minta merebah, tak bertenaga lagi, kini aku terkapar, hebatnya tiada sedikitpun teriak yang kulontarkan, maksudku, aku tak perlu bantuan pedagang lain.

Malam tiba, aku kembali menyesap rokok puntung tadi, melayang sambil tersenyum, melihat aku yang lainnya dikubur cahaya bulan dengan lengan kanan yang terparut sebagian.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Jul 17, 2020 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Cerita Tapi Singkat Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang