Apa spesialnya seorang tukang kelapa parut? Saban hari jambaki sabut, sabut dikupas lalu dibelah, dibelah lalu diparut pakai mesin, batoknya dijual jadi bahan arang, tapi siapa yang mau beli juga, masih jauh dari hari raya.
"Bang, batok kelapanya masih banyak?"
"Banyak nih, mau berapa kresek?"
"Wah."
"Kenapa?"
"Gak laku ya bang?" Tertawa sambil lari.
"Berengsek." Gusarku pelan.
Muak benar saban hari begini, tapi apa mau dikata, aku tetap harus memarut guna menyambung penghidupan.
Sambil tangan kananku memegang kelapa yang diparut putar mesin, tangan kiriku menyesap rokok puntung semalam. Tak lama, mataku menyesat ke buah dada ibu-ibu yang lewat. Dari sanalah malapetaka mengundang senyum dimulai, tangan kananku ikut terparut mesin, pergelangan habis, pendarahan hebat terjadi, lantai warung amis oleh simbah darah, perlahan mata mengabur, melemas, tubuh minta merebah, tak bertenaga lagi, kini aku terkapar, hebatnya tiada sedikitpun teriak yang kulontarkan, maksudku, aku tak perlu bantuan pedagang lain.
Malam tiba, aku kembali menyesap rokok puntung tadi, melayang sambil tersenyum, melihat aku yang lainnya dikubur cahaya bulan dengan lengan kanan yang terparut sebagian.
KAMU SEDANG MEMBACA
Cerita Tapi Singkat
CasualeKusuguhi rekan-rekan pembaca dengan yang ringkas-ringkas saja. Semoga suka. Jangan lupa berkomentar, kutunggu kritik dan sarannya, kalau suka, jangan lupa bilang-bilang, eh maksudnya masukan ke reading list atau perpustakaannya, supaya bisa terpanta...
