Berkat dorongan dari Yeri, Jaehyun akhirnya bisa terlepas dari rasa penyesalan itu.
Ia keluar dari kamar dan suasana rumahnya sudah berbeda. Tidak ada lagi keributan yang dibuat bundanya saat masak. Tidak ada lagi pertengkaran antara dia dan jisung yang rebutan piring.
Yang ia rasakan sunyi. Padahal belum segenap sebulan ayahnya meninggalkan mereka. Tapi, kesunyian ini sudah seperti setahun lamanya menginap dirumah Jaehyun.
Ketika ia sudah didapur. Sekelibat bayangan ayahnya muncul dipikirannya. Ia jadi ingat saat masih sekolah dasar. Jaehyun dan ayahnya sedang memasak untuk merayakan hari ibu. Tetapi bukannya masakannya enak malah rasanya hambar. Belum lagi mereka berdua membuat dapur sangat berantakan sehingga bunda yang melihatnya jadi mengomel. Gagal sudah rencana mereka untuk memberi kejutan ke bundanya. Ia tersenyum mengingat itu.
Jaehyun menggulung lengan bajunya sampai siku. Ia akan masak hari ini untuk bunda dan jisung tentunya. Ia membuka kulkas untuk mengecek apakah ada bahan yang bisa ia gunakan hari ini.
Disana ada beberapa bahan yang sudah layu yang waktu itu ia beli bersama Yeri. Bahan makanan itu seharusnya dimasak untuk menyambut kepulangan ayahnya, tapi...
Jaehyun menghela nafasnya. Ia lalu mengeluarkan semua bahan yang ada dikulkasnya lalu memilah sayur yang sudah busuk dengan yang masih bisa dimakan.
Jangan kalian pikir Jaehyun akan menghancurkan dapur kali ini. Jaehyun pernah sesekali membantu bundanya memasak jadi ia tau cara memasak yang 'normal' tanpa menghancurkan dapur.
Dengan telaten ia memotong sayuran,mengaduk telur dan menjadikannya telur dadar.
Setelah selesai semua. Jaehyun mulai menata makanan diatas meja makan. Berbarengan dengan itu jisung muncul lengkap dengan seragam sekolahnya.
"Lo sekolah hari ini?" Tanya Jaehyun.
Jisung mengangguk. "Iya bang. Icung mau sekolah aja hari ini. Kalau terus dirumah icung malah makin sedih jadinya. Makin keinget ayah."
Jaehyun mengangguk mengerti. Memang benar. Sulit dipungkiri, dirumah ini banyak sekali kenangan yang ditinggalkan ayah. Buktinya dirinya sendiri merasakan itu.
"Abang sendiri gak sekolah?"
Jaehyun menggeleng lemah "Abang mau nemenin bunda dulu hari ini."
"Bunda masih dikamar?" Tanya Jaehyun.
"Bunda masih gak mau keluar bang. Icung udah bujuk bunda tadi. Tapi kayaknya bunda masih butuh waktu sendiri" Jelas Jisung yang kini sudah menyuapkan nasi beserta telurnya ke mulut.
Jaehyun menghela nafas beratnya. "Ya udah lo makan disini. Abang mau ke kamar bunda dulu"
Dikamar Bundanya. Jaehyun melihat bunda Jessica tengah duduk menghadap balkon sambil memegang foto pernikahannya.
"Bunda" panggil Jaehyun yang mendekat ke arah bundanya.
Penampilan bundanya sangat miris. Rambut yang biasanya tersisir rapi kini terlihat sangat kusut tak terawat. Kantung mata yang membengkak dan menghitam. Pipinya yang makin hari semakin tirus.
"Bunda ayo kita makan bareng. Disana udah ada icung loh" Jaehyun mengelus lembut tangan bundanya. "Lihat nih pipi bunda makin tirus. Abang gak suka liat bunda kayak gini. Abang juga udah masak loh buat bunda. Ayok bun cicipin masakan abang"
Sebagai jawaban,Bundanya hanya menggeleng lemah tanpa ada niat menatap Jaehyun. "Bunda jangan gini terus. Ayah bakalan sedih kalau liat bunda gini terus"
Mendengar Jaehyun menyebutkan ayah membuat Bunda Jessica menitikan air matanya lagi. Jaehyun mengelus kedua lengan bundanya. Melihat bundanya seperti sudah tenang, ia lalu menuntun ke luar kamar menuju ke meja makan.
Tapi sebelum sampai dimeja makan. Tiba tiba bundanya terjatuh lemas sambil menangis.
"Bunda!" Jisung menjadi ikut khawatir melihat kondisi bundanya kali ini.
Tangisan bundanya semakin menjadi jadi. Suara tangisan itu mampu menyengat hati Jaehyun yang sudah sangat sakit melihat kondisi bundanya. "Bunda udah gak kuat bang! Bu-bunda udah hancur!" Kata bunda disela sela tangisannya.
"Bunda....jangan...gini" Jaehyun tidak sanggup melihat bundanya seperti ini.
Bunda Jessica menatap Jaehyun dengan pandangan yang lemah. "Bu-bunda gak tahan disini bang. Setip sudut rumah ini ada banyak kenangan yang ayah tinggalin buat bunda. Apa bunda boleh egois kali ini?"
"Egois untuk apa bun?"
Bunda meremas kedua tangan Jaehyun menyalurkan rasa duka yang ia rasakan.
"Maafin bunda...."
"Bunda juga ingin bangkit dari semua ini. Tapi kenangan dari ayah seakan menghantui kepala bunda" Bunda Jessica memberi jeda memejamkan matanya untuk menahan tangisannya.
"Bunda mau kita pindah ke amerika"
Jaehyun sangat sayang bundanya. Ia tak ingin melihat Bundanya terpuruk seperti ini. Tanpa memikirkan yang lain, ia menyetujui permintaan bundanya.
"Ayo kita mulai hidup baru disana bun."
Lalu bagaimana dengan yeri?
. . . . . .
"Yer, semenjak jaehyun sekolah lagi gue perhatiin dia banyak ngelamun. Kenapa ya?"
Yeri yang awalnya tengah asik mengaduk minumannya jadi menatap ke arah Lucas.
"Ya jelas lah. Mungkin dia masih berduka cas" Sahut si Somi yang diangguki juga dengan Yeri.
"Ahh tapi gue ngerasa aneh aja gitu" lanjut lucas lagi yang masih kekeh dengan pendapatnya.
"Bener kata somi. Mungkin itu cuma perasaan lo aja kali. Gue gak ngerasa aneh tuh"
Bohong
Sebenarnya yeri merasakan juga ada yang berbeda dari Jaehyun. Ia sudah merasakannya semenjak hari pertama Jaehyun kembali sekolah. Tapi ia tidak ambil pusing soal itu. Mungkin saja itu karena Jaehyun masih berduka.
"Ya tapi--
Belum sempat Lucas menyampaikan pendapatnya lagi tapi ia sudah ditahan oleh Yeri.
"Sstt Jaehyun udah dateng. Jangan ada yang ngomongin itu lagi" Kata Yeri sambil memberikan pandangan ke arah Jaehyun yang mendekat bersama Haechan disebelahnya.
"Widihh asik bener kayaknya. Ngobrolin apa nih?" Haechan yang baru datang langsung nyempil duduk disamping somi pacarnya.
"Ngobrolin lo. Kita bingung kenapa kita mau temenan sama anak dekil kayak lo!"
Haechan mendengus mendengar hinaan dari Lucas. Ia langsung mencomot satu kripik yang sedang dimakan Somi. Lalu melemparnya ke arah Lucas "Jahat bener tu mulut!"
"Gue lebih kasian sama lo yang tiap hari jadi obat nyamuk mulu" Balas Haechan yang kali ini membuat Lucas mendelik ke arahnya.
Tanpa memperdulikan perdebatan antara Lucas dan Haechan. Yeri mengusap tangan Jaehyun dengan lembut. "Kamu mau makan apa? Biar aku yang pesenin"
"Gak perlu. Aku gak laper."
"O-oh oke"
Kenapa dengan Jaehyun? Kenapa berbeda?
Yeri ingin sekali bertanya dengan Jaehyun tapi ia takut nanti akan malah menambah rumit semuanya. Jadi dia akan hanya diam. Menunggu Jaehyun yang akan datang padanya dan mencurahkan semua padanya.
Tapi sampai kapan Yeri harus menunggu?
_ _ _ _ _ _
Udah siap kan?
KAMU SEDANG MEMBACA
PACAR GENIT [JAERI] ✔
Fanfiction"Masih mending gue genitnya sama cewek daripada sama cowok. Hayoo gimana?" -Jaehyun Highest rank: #1 in jaehyunyeri #1 in jaeri #1 in hunri #3 in redvelved #8 in jungri
![PACAR GENIT [JAERI] ✔](https://img.wattpad.com/cover/227522029-64-k636332.jpg)