G E N I T 23

2.2K 197 56
                                        

"YERI!"

Jaehyun jatuh tersungkur dihadapin Yeri yang sudah tak sadar bersimbah darah. Matanya berair melihat Yeri dengan seragam sekolah yang penuh darah.

Dengan tangan bergetar ia mencoba menggapai kepala Yeri untuk dipangkunya.

"Ye-yer buka matamu! Buka!" Jaehyun menepuk nepuk pipi yeri berharap Yeri membuka matanya. Air mata Jaehyun sudah mengalir deras. Ia tidak peduli dengan pandangan orang lain. Yang ia pikirkan sekarang hanya Yeri.

"Yeri! Tolong sadar yer! Tolong...." Melihat Yeri yang tidak membuka matanya membuat Jaehyun semakin khawatir. Ia terus menepuk nepuk pipi Yeri. Ia sendiri tidak sadar kalau tangannya sudah penuh tertempel darahnya Yeri.

"KALIAN LIAT APA? TOLONG PANGGIL AMBULANCE!" Teriak Jaehyun ke orang sekelilingnya.

"Maaf.....maafin aku yer"

Sampai ambulance datang. Jaehyun tidak henti hentinya menggumamkan kata maaf sambil mencium tangan Yeri.

Sesampainya dirumah sakit. Yeri segera dibawa ke ruang operasi. "Tolong selamatkan yeri dok!" Pinta Jaehyun sambil mencengkram bahu dokter itu.

"Kami akan melakukan yang terbaik. Tolong bantu juga dengan doa." Dokter itu segera ke ruang operasi.

Tubuhnya merosot. Jaehyun menjambak rambutnya sendiri. Ia merasa kecewa dengan dirinya sendiri yang tidak becus menjaga Yeri.

Kalau saja bisa. Ia ingin bertukar tempat dengan Yeri sekarang. Seharusnya ia yang mengalami itu. Bukan yeri!

Ia yang sudah menyakiti Yeri. Ia sudah membuat Yeri menangis. Lalu kenapa sekarang hal ini menimpa Yeri? Sudah cukup Jaehyun yang membuat luka dihidup Yeri. Jangan ada lagi yang lain.

Tiba tiba ada cahaya yang muncul didepannya. Jaehyun sampai menutup matanya karena terlalu silau. Dari cahaya itu ada sesosok pria memakai jas putih yang keluar. 

"Jaehyun" panggil sosok itu mendekat ke arah Jaehyun.

Perlahan mata Jaehyun terbuka. Pertama yang ia lihat adalah sepatu pantopel serta celana panjang yang sama sama berwarna putih. Ia mendongakkan kepalanya dan betapa terkejutnya ia kala melihat siapa sosok didepannya.

"A-ayah?" Ia sampai terjungkal kebelakang karena saking terkejutnya.

Donghae menatap anaknya itu dengan tatapan yang tajam.
"Iya ini ayah. Cepat berdiri!"

Jaehyun segera berdiri. Ia tidak mengerti. Mengapa ayahnya bisa disini? Padahal sudah jelas jelas saat itu ia sendiri yang melihat pemakaman ayahnya.

Apakah ini arwah ayahnya? Ia melihat ke sekelilingnya dan baru menyadari kalau lorong ini mendadak menjadi sepi. Tidak ada yang lewat. Hanya ada dirinya dan juga ayahnya. Bulu kuduk Jaehyun seketika berdiri.

"Kamu sudah buat ayah kecewa Jaehyun" Kata Donghae dengan bibir pucatnya itu.

Jaehyun kembali memusatkan pandangan ke ayahnya.
"Maksud ayah apa?"

Mata tajam Donghae tidak henti hentinya menatap Jaehyun.
"Ayah pernah bilang ke kamu dulu, untuk menjaga orang yang kamu cintai nanti. Tapi ternyata kamu tidak melakukan itu. Kamu buat Yeri menangis. Ini semua karena kamu Jaehyun. Kamu yang menyebabkan Yeri harus berada disana."

Jaehyun tersentak. Ayahnya sampai datang menghampirinya karena ini. "A-ayah. Jaehyun buat keputusan ini karena memang gak ada pilihan lain yah. Jaehyun gak mau nyakitin Yeri. I-ini semua juga demi kebaikan Yeri"

"DAN KEPUTUSAN KAMU ITU SALAH JAEHYUN!" Suara Donghae meninggi membuat Jaehyun menunduk tidak berani menatap ayahnya itu. "Kamu sudah buat dia menangis. Kamu sudah buat dia kecewa karena keputusanmu.  Itu yang kamu bilang demi kebaikan Yeri?"

"Karena kesalahan kamu ini ayah tidak mempercayakan kamu lagi untuk bersama Yeri."

Kepala Jaehyun mendongak mendengar itu. Segala pikiran buruk hinggap dikepalanya.

"Yeri akan menderita disini. Dia akan lebih bahagia jika ikut pergi"

"Pergi? Yeri pergi kemana?" Dalam hati ia berharap bahwa pikiran buruknya itu tidak benar.

"Yeri akan ikut dengan ayah. Disana dia akan lebih bahagia. Dia tidak akan menangis lagi karena kamu Jaehyun!"

Sontak saja kepala jaehyun menggeleng keras. Tidak! Ini tidak boleh terjadi!

Jaehyun sampai berlutut didepan ayahnya. Ia tidak mau Yeri ikut pergi dengan ayahnya.
"Jangan ayah! Jaehyun mohon jangan! Biar Jaehyun saja yang ikut dengan ayah jangan Yeri ayah!"

"Ini semua kesalahan kamu Jaehyun, jadi kamu tidak bisa pergi dari dunia ini. Kamu harus merasakan penyesalan yang sangat mendalam dulu didunia ini."

Donghae mulai menjauhi Jaehyun melangkah menuju keruang operasi. Jaehyun merangkak mencoba menahan kaki ayahnya namun ternyata ia tidak bisa menggapainya. Tangannya malah menembus kaki ayahnya.

"Ayah jaehyun mohon..." lirih Jaehyun. Air matanya kembali mengucur keras. Ini tidak boleh terjadi! Lebih baik dirinya yang menyusul ayahnya. Biarkan dirinya dihukum dialam sana dan biarkan Yeri berbahagia disini bersama orang lain yang lebih pantas untuknya.

Sedetik kemudian. Bersamaan dengan suara 'tittt' yang terdengar dari dalam ruang operasi. Ayahnya keluar dengan menggandeng Yeri. Mereka menuju ke arah sinar yang ada didepan Jaehyun.

Kedua mata Jaehyun terbuka lebar melihat itu. Jantungnya mencelos. Tubuhnya lemas seketika.

Yeri dengan gaun putihnya terlihat sangat cocok untuknya dan wajahnya bersinar menambah kecantikannya. "Jaehyun"

"Terima kasih udah jadi pacar aku selama ini. Terima kasih kamu udah dengan tulus mencintai aku. Selama 4 tahun kita udah bersama. Saling berbagi rasa suka dan duka. Dan sekarang itu sudah berakhir jaehyun"

"Yer.."

Yeri tersenyum ia berjongkok menyamakan tingginya dengan Jaehyun. "Aku bakalan ikut ayah kamu. Aku seneng banget ternyata ayah donghae sayang banget sama aku!"

Air mata Jaehyun tidak hentinya mengalir bercampur dengan keringat. Ia ingin menyahuti Yeri, tapi Mulutnya seakan susah untuk mengatakan satu kata saja.

"Kamu bahagia disini. Jaga bunda sama jaga icung. Bilang juga sama mama papa kalau aku udah bahagia sekarang." Yeri mengusap air mata yang mengalir dipipi Jaehyun. "Jangan nangisin aku. Kamu seharusnya tersenyum karena setelah ini gak akan ada lagi beban dipikiran kamu tentang aku lagi."

TIDAK! KAMU BUKAN BEBAN YERI! Ingin rasanya jaehyun mengatakan itu. Tapi mulutnya sangat susah untuk dibuka.

"Semoga kamu bisa dapetin yang lebih baik dari aku. Aku pergi jae." Yeri berdiri mendekat kembali ke arah donghae yang sudah menunggu daritadi. Ia melambaikan tangannya. "Selamat tinggal Jaehyun."

Jaehyun mencoba berdiri tapi tubuhnya seakan terkunci tidak bisa digerakan. Perlahan sinar itu hilang berbarengan dengan Yeri dan donghae.

Setelah sinar itu hilang tubuh Jaehyun langsung bisa berdiri. Ia langsung berlari ke arah sinar itu tapi yang ada hanyalah tembok putih.

"TIDAK!! YERI JANGAN PERGI!!" Jaehyun menangis histeris sambil memukul tembok itu.

Kini Yerinya sudah pergi. Dan kepergiannya lagi lagi karena Jaehyun.

Semua orang yang Jaehyun sayangi pergi karena dia.

_ _ _ _ _ _ _ _

Ampunn🤡🤡

Btw aku suka baca comment kalian kemarin😙

Saking semangatnya aku sampe lupa bales comment kalian hehehe

Makasi banyakk berkat kalian aku punya semangat buat ini hehehe

Untuk endingnya?

Sad atau happy?






PACAR GENIT [JAERI] ✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang