2

1.2K 83 2
                                        

Hari Rabu, setidaknya ada menu baru. Tentu dengan tambahan salad yang menyegarkan, apa lagi jika disantap setelah jam olahraga.

" Anak-anak kalian bisa melanjutkan olahraga nya sendiri. Dan ingat minggu depan pengambilan nilai lari jarak jauh!"

" Baik Pak!"

Kumpulan anak-anak itu menyebar, ada yang melanjutkan olah raga ada juga yang kekantin.

" Taehyung kau mau ganti baju?"

" Ah, ayo kekantin dulu! "

Mari kenalan dengan si bocil, sahabat Taehyung sejak berumur 6 bulan. Bukan karena tetangga, hanya karena keduanya bertemu di salah satu rumah sakit swasta untuk melakukan pengecekan.

Begitu beruntung, ibu keduanya adalah teman SMA dan semenjak itu ke dua keluarganya saling mengakrabkan diri.

Ah iya lupa, nama bocil itu Jimin. Sebenarnya Jimin tak sependek itu, hanya saja jika bersanding dengan Taehyung tubuhnya sedikit terlihat menciut. Yah mungkin pengaruh gen, umur tak memengaruhi.

Keduanya melesat ke arah kantin, Jimin lebih dulu memesan semangkuk bakso dengan kuah pedas level 5. Berbeda dengan Taehyung, bocah pemilik senyum kotak itu sejak tadi sudah menggenggam sebungkus nasi yang dibawanya dari rumah.

" Taehyung..."

" Hmmm..."

" Tumben diem banget, aneh gitu."

Taehyung melirik sebal kearah Jimin, sebenarnya bocah itu ingin mencicipi sedikit bakso milik Jimin. Hanya saja ia tak seberani itu,

" Ya masa aku ngomong terus... Kamu lah gantian..."
Sebenarnya Taehyung tau, bocil satu ini kemungkinan akan curhat sesuatu tapi malu. Jadi sejak tadi ia menunggu Jimin untuk berbicara lebih dulu.

" Tau nggak..."

"Gak..."

" Ishhh Tae! Dengerin dong..." Taehyung lagi-lagi mengangguk, bocah lugu itu sejak tadi curi-curi pandang pada kuah merah bakso milik Jimin.

" Aku mau ngajuin diri jadi kandidat lomba dance antar provinsi, t-tapi nanti bokap nggak bolehin... Gimana dong!"

" Sukurin, " Taehyung balas mengejek, bocah satu ini memang kadang menyebalkan.

Jimin memukul pelan tangan Taehyung, membuat si empu mengaduh namun tetap menampilkan senyum puasnya.

" Bentuin ngapa... "

" Hilih ogah! " Taehyung kembali menjawab.

" Masa sama sahabat sendiri gitoooo" kedua belah bibir Jimin sedikit maju beberapa senti, membuat ia terlihat seperti bebek marah.

" Ya emang gini terus mau apa?" Taehyung masih tetap adu lirik dengan kuah bakso milik Jimin, sayang sekali sepertinya kali ini Jimin sadar bocah singa satu ini ingin mencicipi bakso miliknya.

" Aku kasih bakso ini deh... Bantuin ya...."

Sekilas mata Taehyung melebar tidak percaya, bagaimana Jimin bisa tau jika ia ingin bakso.

"Deal...." oke, sepertinya Taehyung terlalu kalap akan rasa bakso milik Jimin. "Mana Baksonya..."

Jimin cepat-cepat menutupi mangkok Baksonya dengan kedua tangan.

" Ets... Bantuin dulu!"

Taehyung memutar bola mata jengah, ia tak habis pikir bagaimana Jimin bisa tak mempercayainya.

" Iya... Iya..." Taehyung mengeluarkan hp kecilnya. Ia mengetikan beberapa huruf disana dan ting... Bunyi surat terbang keluar,

"Dah... Nanti sore jam 5 tanya Bokap... Pokok jangan telat!"

Jimin buru-buru menyodorkan mangkok bakso dengan senyum kebanggaannya.

" Makasih Taetae imutttt"

Taehyung tak menggubris, dia lebih mementingkan bakso yang dimintanya tadi. Jarang-jarang ia bisa makan pedas seperti ini.

"Jim pedas!"

"Emang..."

" Issshh...." bocah dengan senyum kotak itu buru-buru menyedot minuman miliknya, matanya memerah dengan bulir-bulir air mata yang hampir jatuh.

Bukannya membantu Jimin malah tertawa keras, dengan tingkat jail yang sudah melebihi batas normal segera merebut kotak minuman yang masih disedot oleh Taehyung.

" Hahahahahaha!" Jimin cepat-cepat berlari dengan kotak minuman yang telah ada ditangan. "Sukurin! Makanya jangan Nakal."

Tinggalah Taehyung dengan nasib sialnya, mata memerah dengan lidah menjulur lengkap sekali. Bulldog

" Jimin!!!"

*****

Sebenarnya ini sudah sangat terlambat untuk masuk kelas, tapi Taehyung seakan tak peduli. Ia lebih memilih berkutat dengan lidahnya yang terbakar dan mendinginkannya dikulkas kantin. Ah lebih tepatnya mulutnya disumpal dengan sebatang es krim rasa coklat dan berbaring dilantai. Abaikan ini.

Bocah itu sudah malas memikirkan pelajaran, syukur Jimin mau bertanggung jawab. Ia tadi sempat mengizinkan Taehyung untuk tidak masuk kelas. Alasan yang klise sakit, padahal tidak separah itu.

Kalo diingat-ingat ini sebenarnya hal wajar bagi Taehyung. Ia memberi dan ia yang akan mendapatkan kesialan itu.

Sedikit penjelasan, bocah yang sekarang sedang tepar karena bakso pedas tadi adalah salah satu makhluk martabak di bumi.

Cara kerjanya masih rahasia, tapi mottonya begitu nyata! " Keberuntunganku milikmu, kesialanmu milikku." Tidak jelas siapa yang membuat, hanya percaya akan keberadaan Taehyung maka semua kebahagiaan akan mendatangimu.

" Taehyung kenapa masih ada disini?"

Taehyung tersentak sedikit, ia segera bangun dari tiduran ya dan menoleh kebelakang.

Parah, ternyata Pak Seokjin alias guru lesnya. Dan Sialnya lagi dia mengajar disini. Tamat riwayat mu Tae!

"A-anu... I-itu..."

" Taehyung, ikut Bapak ke bk sekarang."

"T-tapi Pak saya sudah minta izin!" Taehyung memberanikan diri, ia mengeluarkan surat izinnya tadi.

Pak Seokjin mengambil alih surat izin milik Taehyung tadi, ia sedikit membenarkan kacamatanya dan lanjut membaca.

" Tapi kamu tidak terlihat sakit? Malah makan es? "

" I-ini lidah saya terbakar Pak..." Taehyung buru-buru menjulurkan lidahnya yang memerah, membuat Pak Seokjin tetap tak mengerti dengan tingkah anak didiknya satu ini.

" Huh... Tetap saja izin ini tidak berlaku, kamu ini belajar berbohong dari mana! Ayo ikut bapak... "

Taehyung buru-buru memelas, ia meraih tangan gurunya itu.
" Jangan dong Pak, saya mau lanjut pelajaran nih. Janji deh!"

" Baik, tapi waktu les nanti kamu akan tetap dihukum. " Guru berkacamata itu pergi meninggalkan Taehyung sendiri.

" Aish... Kenapa target kali ini makin rumit! Papa! Anakmu perlu bantuan Huweeeee"

Tbc

Alurnya dah keliatannnn

SuncloverTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang