O2.

1.6K 339 22
                                        

Entah mimpi buruknya yang menjadi nyata atau dirinya yang tertarik masuk ke dalam mimpi buruknya. Tapi semua hal disini sama persis seperti mimpinya.

Mutan, monster, permata, dan tempat bernama Amethyst. Semua hal itu pernah ia mimpikan. Bahkan ia ingat jelas bagaimana gambaran-gambaran itu terputar di kepalanya, seolah ia memiliki memori tersendiri akan hal tersebut.

Sinar matahari mulai menusuk celah matanya. Tubuhnya masih sakit luar biasa dan tenaganya belum sepenuhnya pulih. Tapi ia tetap mencoba membuka matanya.

Ia mendapati dirinya sedang menumpangi punggung seorang laki-laki. Pantas saja dari tadi ia mendengar deru nafas seseorang dengan sangat keras. Ia menegakkan kepalanya kemudian menepuk pelan pundak sang laki-laki.

Seolah mengerti, sang laki-laki mengangguk pelan. Tapi ia tetap tidak berbicara. Kemudian hening lagi. Hanya terdengar langkah kaki dan deru nafas yang semakin lama semakin memberat.

"Kau- bisa turunkan aku."

Sang laki-laki menurut. Ia menurunkan sang gadis kemudian mendudukkannya di sebuah batang pohon yang tumbang. Lalu ia ikut menghempaskan bokongnya di tanah. Tenaganya sudah terkuras habis karena menggendong gadis ini selama dua jam.

"Kau siapa?"

Sang laki-laki masih bergeming.

"Aku Choi Jisu atau kau bisa panggil aku Lia."

Ia mengangguk lalu tersenyum ramah. Jisu  menggaruk kepalanya. Orang ini tidak bisa bicara atau gimana? Kenapa dari tadi hanya mengangguk?

"Kau siapa?"

Masih hening.

"Terimakasih. Kalau kau tidak suka aku disini, aku akan pergi."

Sang laki-laki mengangkat tangannya, mengisyaratkan Jisu untuk kembali duduk. Dan ia mengikuti. Kemudian sang laki-laki menggerakkan tangannya.

"Kau-"

Jisu sempat menarik nafas sebelum melanjutkan, "Bisu?"

— 🗡 —

"Haruskah kita bawa?"

"Memangnya masih hidup?"

"Dadanya masih bergerak. Artinya dia masih hidup."

"Yasudah sana gendong!"

"Kok aku sih?!"

"Masa aku?!"

Ia berusaha membuka matanya sekalipun ia benar-benar tidak punya tenaga. Maniknya menangkap dua orang berdiri tidak jauh dari tempatnya. Mereka terlihat sedang berdebat. Salah satunya adalah seorang gadis dengan rambut panjang yang diikat menyerupai ekor kuda. Satunya lagi adalah seorang laki-laki bertubuh tinggi dan berkulit putih seputih susu.

"Hei? Kau masih hidup?" tanya sang laki-laki.

Ia mengangguk lemah. Syukurnya ia masih hidup. Entah ia harus senang atau tidak, karena jujur ia sudah tidak tahan. Terakhir ia baru saja ditusuk kuku seekor mutan besar yang menjijikan. Kukunya menancap indah di perutnya. Ia juga ingat bagaimana ia pingsan di bawah pohon ini karena darah tak kunjung berhenti. Anehnya, kuku itu sudah hilang dari perutnya. Darahnya juga sudah berhenti karena perutnya sudah dibalut kain hitam.

"Aku akan menggendongmu. Permisi ya, nona muda."

Setelah ijin sopan dari sang laki-laki, ia mengangkat tubuhnya untuk naik ke punggungnya. Setelah hampir berjalan selama 15 menit, mereka tiba di sebuah rumah yang terbuat dari kayu. Terlihat sangat usang, namun masih berdiri kokoh.

THE AMETHYST: AlexandriteTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang