13.

1K 250 35
                                        

Taehyun mengeratkan tali sepatunya kemudian menatap pantulan dirinya di cermin. Luka menghiasi sekujur tubuhnya. Beberapa diantaranya masih basah. Syukurnya ia tidak merasakan perih sekalipun. Entah ia sudah mati rasa atau karena ia punya luka yang lebih sakit daripada itu.

"Kau sudah selesai? Soobin meminta kita berkumpul."

Taehyun menatap gadis itu dari pantulan cermin. Gadis yang entah sejak kapan memporakporandakan isi kepalanya. Ia tersenyum simpul kemudian berbalik. Tangannya meraih sebuah shot gun — yang ia temukan di rumah ini, lalu melemparnya.

Chaeryoung yang kaget dengan gerakan Taehyun yang tiba-tiba, berusaha menangkap shot gun itu walaupun gagal.

"Dengarlah, Lee Chaeryoung," Taehyun maju beberapa langkah untuk mendekati Chaeryoung, "Kalau aku tidak bisa melindungimu, tolong pakai itu. Membunuh untuk menyelamatkan dirimu itu tidak sepenuhnya salah."

Chaeryoung menatap shot gun di tangannya, "Apa maksud dari kalimat 'kalau aku tidak bisa melindungimu'?"

"Menurutmu apa?!" nada suara Taehyun meninggi.

Gadis berambut coklat itu terkikik pelan, "Aku bahkan tidak meminta kau-"

"Baiklah, ku akui itu pilihanku," potong Taehyun. Nada suaranya melunak namun semakin mengintimidasi, "Sebagian jiwaku mengatakan bahwa aku- a..ku harus melindungimu."

Jujur Taehyun merutuki dirinya dalam hati. Bagaimana bisa seorang Kang Taehyun — yang bahkan tidak takut pada penyihir — terbata-bata hanya karena bicara dengan seorang gadis bernama Lee Chaeryoung? Lucu.

Chaeryoung semakin menarik sudut bibirnya, "Baiklah. Tapi kau harus berjanji untuk tetap hidup."

Taehyun mendecak, "Tidak ada alasan untuk itu."

"Lalu apa alasan aku hidup kalau kau mati?"

Deg!

Chaeryoung membuang wajahnya ke samping, "Apakah aku terlalu jujur?" tuturnya, lebih pada diri sendiri.

"Hey, lovebirds, udah selesai belum?"

Taehyun memutar bola matanya malas lalu berjalan meninggalkan Jisu —yang berdiri diambang pintu dan Chaeryoung.

— 🗡 —

"Kau yakin mereka ada dipuncak Amethyst?"

Beomgyu mengangguk mantap sambil memasukkan pedangnya, "Kalau aku tidak salah hitung, besok adalah bulan merah."

"Artinya kita harus menyelesaikannya hari ini?" tanya Yeji lagi.

Beomgyu menghela nafas lalu mengangguk. Karena sudah semua berkumpul, ia menoleh ke Soobin yang baru saja selesai bersiap-siap, "Karena kau leadernya, tidak mau sampaikan sesuatu pada kami?"

"A-ku?"

"Lord Namjoon adalah leader kami, dan tanggung jawab itu diberikan padamu."

Soobin menggaruk kepalanya canggung, "Ah, Ya baiklah."

Seluruh isi ruangan menaruh atensi pada laki-laki bertubuh jakung itu. Sampai-sampai Soobin gugup, sungguh, ia tidak tahu harus bilang apa. Tahu gini ia menyiapkan pidato dulu dari semalam.

"Kita sudah sampai sejauh ini. Puncak Amethyst berada bebeapa meter dari sini. Yang perlu kita lakukan adalah mengembalikan permatanya, seperti apa yang Beomgyu bilang semalam,"

Semua orang mengangguk mengerti.

"Tolong untuk tetap saling melindungi tanpa mengorbankan diri. Paham kan? Aku mau kalian semua hidup."

THE AMETHYST: AlexandriteTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang