Barangkali Jisu masih bisa menikmati senja dari bawah sini, walaupun masih lebih indah dari balkon rumahnya. Ia menatap bagaimana zang horizon membiarkan dirinya berlapis warna jingga yang hangat. Kemudian semakin lama akan semakin menghitam, meninggalkan mereka dalam gelap tanpa pengampunan.
Jisu menatap satu persatu temannya. Yeonjun hilang, entah ia bisa selamat setelah terjun sebegitu tingginya atau tidak, tapi Jisu berharap Yeonjun masih hidup. Chaeryoung, Taehyun dan Beomgyu menghilang. Soobin dan Yeji terlihat sangat putus asa.
Ryujin jadi semakin sensitif setelah kejadian di tebing kemarin. Ia bahkan tidak menyahut ketika diajak bicara, seolah jiwanya tertinggal disuatu tempat.
Yuna dan Huening Kai tetap bersikap biasa -ribut dan selalu melucu-. Setidaknya mereka berusaha untuk mengembalikan keadaan yang tiba-tiba kaku luar biasa. Barangkali orang-orang seperti mereka memang diciptakan untuk mengalahkan toksin semesta.
"Kau tau parasit kalau berdiri jadi parastand?" celetuk Huening Kai.
Disambut oleh tawa keras seorang Shin Yuna yang terkesan dibuat-buat. Lalu Huening Kai akan melucu lagi dan Yuna tertawa lagi. Dan begitu seterusnya.
"Bisa diam tidak?! Kepalaku sakit!"
Yeji menghentikan langkahnya untuk menoleh ke belakang. Ia menghela nafas kasar atas dasar sengaja untuk menyadarkan mereka ini bukan saatnya berantem.
Langit mulai menggelap dan titik-titik air mulai jatuh dari langit. Mereka belum dapat tempat istirahat karena rumah-rumah disini sudah hancur setengahnya. Bagaimana kalau hujan semakin deras?
"Menurutmu itu tidak lucu?" tanya Yuna polos sambil menatap kakaknya.
Ryujin mendecak, "Humormu buruk sekali sama buruknya dengan eksistensimu di dunia ini."
Yuna cemberut, "Unnie selalu bilang aku yang paling buruk."
"Ck! Ya memang. Hidupku semakin buruk ketika kau lahir. Kenapa kau harus lahir? Dasar bajingan."
Yuna berdiri kaku disana. Air matanya menggenang di pelupuk matanya. Ia tau Ryujin begini karena perbuatannya tapi ia tidak pernah menduga kata-kata itu akan keluar mulutnya.
Soobin yang dari tadi diam mulai tidak sabar, "Shin Ryujin! Demi Tuhan. Bicaralah yang benar."
Ryujin melemparkan tatapannya pada laki-laki jakung disebelahnya, kemudian ia memutar bola matanya, "Hiduplah di rumah sakit jiwa. Jadilah boneka seks dan tersiksa setiap saat." Ryujin mendekatkan dirinya ke arah Soobin lalu berbisik, "dan kau akan tau seberapa buruk perbuatan Shin Yuna kepadaku."
setelah itu ia berjalan mendahului Soobin, tidak lupa menabrak bahunya kasar.
Semua yang ada disana menatap punggung Ryujin yang berjalan menjauh. Kemudian beralih ke Yuna yang menunduk dalam sambil menahan tangisnya.
Jisu menghela nafas kemudian menengadah untuk menatap matahari yang mulai hilang dari pandangan.
Kepada senja diujung bumi, tolong kami.
— 🗡 —
BUGGGHH!!!
Mereka baru berhasil keluar goa ketika Beomgyu melayangkan satu pukulan keras di rahang Taehyun. Membuat laki-laki itu tersungkur sambil memegangi rahangnya.
"Beomgyu, apa-apaan?!"
Ia baru saja akan melayangkan satu pukulan lagi tapi suara berat itu mengintrupsi. Ia menoleh untuk mencari sumber suara. Maniknya menangkap seorang laki-laki blonde berdiri di dekat sungai. Wajahnya pucat seperti mayat hidup. Apa anak ini habis berenang di sungai?
KAMU SEDANG MEMBACA
THE AMETHYST: Alexandrite
FanfictionBUKU PERTAMA DARI SERIES AMETHYST "𝙆𝙞𝙩𝙖 𝙥𝙪𝙣𝙮𝙖 𝙨𝙖𝙩𝙪 𝙢𝙞𝙢𝙥𝙞 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙨𝙖𝙢𝙖 𝙪𝙣𝙩𝙪𝙠 𝙢𝙚𝙢𝙗𝙖𝙣𝙜𝙪𝙣 𝙝𝙖𝙧𝙞 𝙚𝙨𝙤𝙠." - Kepada senja di ujung bumi, tolong semangati lima anak adam dan lima anak hawa yang sedang memperjuangka...
