Entah sejak kapan hal ini dibebankan di pundaknya. Tapi mereka benar-benar tidak melakukan apa-apa sampai Soobin siuman. Ketika Soobin bangun, mereka langsung menghujani seribu pertanyaan dan mau tidak mau, Soobin harus memutar otak untuk mengambil keputusan.
Katakanlah bahwa ia merasa seperti berada dalam sebuah kelompok militer yang dipimpin oleh seorang kapten. Pada akhirnya, keputusan kelompok ada di tangan sang kapten. Kemudian tanpa sadar, mereka menunjuk Soobin sebagai kaptennya.
Soobin selalu mengambil keputusan dengan cepat, karena ia memang begitu. Memiliki ayah seorang komandan militer membuatnya cepat tanggap. Kemudian ia akan menyalurkan ide-idenya, yang lainnya setuju, dan ia akan mengambil keputusan.
"Yeonjun kau disebelah kanan, aku disebelah kiri."
Keputusan pertamanya setelah siuman adalah mengangkat beton yang menghimpit kaki Taehyun. Hanya itu yang terlihat 'emergency'. Tempat ini sebenarnya aman, hanya pintu keluarnya yang tertimbun tanah. Walau agak sempit dan banyak barang, tapi tempat ini terlihat kokoh.
"Kai kau bisa tarik Taehyun setelah betonnya terangkat?"
Huening Kai langsung mengangguk dan mengambil posisi.
"Bersama. 1..2..3"
Beton berhasil terangkat -sedikit-, tapi cukup membuat rongga hingga kaki Taehyun bisa terlepas dari sana. Begitu melihat kesempatan itu, Kai langsung menarik Taehyun menjauh dari sana.
Jisu yang seolah memiliki tanggung jawab untuk mengobati, langsung melihat kaki Taehyun yang membiru. Sepertinya mereka terlalu lama menunggu Soobin bangun.
"Kau bisa mengobatinya?" tanya Soobin.
Jisu mendengus, "Aku butuh es tapi aku yakin tidak ada es disini."
"Ya, tidak ada. Aku sudah keliling. Isi ruangan ini hanya persediaan senjata dan gulungan-gulungan seperti milik Beomgyu." jelas Yeji yang ikut duduk disamping Jisu.
Kai bangun untuk membuka beberapa gulungan kertas tersebut, "Aku selalu penasaran bagimana Beomgyu mengerti semua aksara-aksara ini."
"Ah, bodohnya aku baru menyadari Beomgyu tidak ada." tutur Soobin, lebih seperti monolog.
Tidak seperti Soobin, mereka sudah menanyakan hal itu dari tadi. Diam-diam mereka berharap Beomgyu masih hidup dan mau membantu mereka keluar dari sini.
"Bagaimana keluar dari sini?"
Pertanyaan Yuna membuat Soobin kembali berdiri. Ia menatap tumpukan tanah yang menutupi jalan keluar tanpa celah. Ia menggaruk tengkuknya gatal. Rasanya disaat seperti ini, ia selalu terbebani karena harus mencari jalan keluar. Bahkan ia mencoba menyembunyikan kepanikannya. Kalau tidak, mereka yang ada disana malah tambah panik.
"Pedangnya masih padamu?"
"Bisa-bisanya kau memikirkan pedang, Hwang Yeji." sahut Yeonjun yang dari tadi terdengar sangat frustasi.
Yeji mendengus, "Trus dimana?"
Yeonjun mengangkat bahunya acuh tak acuh. Hal itu mengundang helaan nafas panjang dari sang gadis berambut coklat.
"Kalau kita keruk tanahnya, bisa tidak ya?"
Yeji ikut berdiri disamping Soobin. Sama halnya seperti wakil kapten, Yeji selalu disana untuk berdiskusi dengan Soobin ketika semuanya sudah kehilangan akal. Yeji ini sosok yang tenang dan pemikirannya selalu jangka panjang. Dalam waktu singkat ia bisa membuat plan A, plan B, sampai plan Z.
"Sepertinya harus kita singkirkan dulu meja itu, kemudian kita bisa pakai tanah untuk naik ke permukaan."
Soobin mengangguk membenarkan, "Akan kucoba. Yeonjun, kemari."
KAMU SEDANG MEMBACA
THE AMETHYST: Alexandrite
FanfictionBUKU PERTAMA DARI SERIES AMETHYST "𝙆𝙞𝙩𝙖 𝙥𝙪𝙣𝙮𝙖 𝙨𝙖𝙩𝙪 𝙢𝙞𝙢𝙥𝙞 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙨𝙖𝙢𝙖 𝙪𝙣𝙩𝙪𝙠 𝙢𝙚𝙢𝙗𝙖𝙣𝙜𝙪𝙣 𝙝𝙖𝙧𝙞 𝙚𝙨𝙤𝙠." - Kepada senja di ujung bumi, tolong semangati lima anak adam dan lima anak hawa yang sedang memperjuangka...
