Tubuhnya sudah tenggelam sepenuhnya. Sebenarnya ia berhasil melepaskan diri dari mutan air itu. Namun karena ia tidak bisa berenang ke permukaan, mutan itu kembali menarik tubuhnya.
Saat itu, samar-samar ia melihat seseorang berenang mendekat. Orang itu berhasil menarik pinggangnya dan mereka mulai berenang ke permukaan.
Butuh waktu lama untuk sampai ke pinggir danau karena mutan air itu terus berusaha menarik tubuh mereka. Tapi berkat kerja keras Taehyun, Soobin dan Yeji yang menembakkan seribu anak panah, mutan itu berhasil di lumpuhkan.
Ryujin mengatur nafasnya ketika dirasa sudah aman. Lalu ia mendongak untuk melihat siapa yang baru saja nyebur untuk menyelamatkannya.
"Masih tidak mau berterimakasih?"
"Ck! Aku tidak butuh bantuanmu."
Di hadapannya berdiri seorang Choi Yeonjun dengan sok kerennya. Entah kapan ia dapat itu, tapi sekarang ia sudah menjepit batang rumput di bibirnya.
"Harusnya kubiarkan kau mati tenggelam."
Ryujin memutar bola matanya.
"Unnie! Kau tidak apa-apa?"
Sialan. Satu lagi orang yang paling menyebalkan di dunia ini. Ia menangkis tangan Yuna yang hendak membantunya berdiri, "Minggir!"
Yuna langsung cemberut melihat kakaknya yang pergi dengan wajah masam. Yeonjun yang melihat itu langsung menepuk pundak Yuna.
"Kakakmu seperti orang gila."
Dengan nada penuh penyesalan, Yuna berbisik kepada udara, "Aku yang membuatnya seperti itu."
Sebenarnya Yeonjun mendengarnya dengan sangat jelas. Ia sedikit prihatin dengan Yuna yang sepertinya sangat kecewa. Tapi Yeonjun tidak mau ambil pusing, itu privasi mereka.
Mereka melanjutkan perjalanan ke timur. Langit semakin gelap dan angin bertiup agak kencang. Membuat mereka sedikit kedinginan.
Huening Kai merapatkan sedikit jaketnya. Entah kenapa hutan terasa semakin mengerikan. Semakin kesini hutan semakin luas rasanya. Mereka tidak bisa melihat apapun kalau saja Taehyun tidak berinisiatif membuat obor.
Huening Kai sebenarnya merasa sedikit lega karena mereka bersepuluh sekarang. Sebelum bertemu mereka, ia lebih memilih untuk diam di atas pohon atau bekas rumah warga sampai matahari terbit lagi.
"Kita istirahat disini." sahut Soobin setelah selesai mengecek sekitar.
Yeonjun dan Beomgyu langsung membuat api unggun dari kayu yang Yeonjun kumpulkan dari tadi. Huening Kai dan Soobin berusaha membangun atap dari daun pisang, jaga-jaga kalau turun hujan.
Sedangkan Taehyun sedang mencabut bulu ayam tanpa perasaan, seolah ia punya dendam pribadi dengan ayam itu. Dan para gadis bertugas untuk memasak ayam, daging babi yang dibawa Yeji, ataupun mengumpulkan pisang untuk mereka makan.
Tugas menjadi lebih ringan apabila dikerjakan bersama.
Selesai makan malam, mereka sempat ngobrol untuk rencana besok. Setelah itu, mereka langsung mengambil tempat untuk istirahat.
Tapi tidak dengan Ryujin. Gadis itu duduk di depan api unggun. Menatap kosong benda yang semakin lama semakin habis dimakan api.
Ia duduk bersisihan dengan Ryujin, membuat gadis itu memutar bola matanya setelah menyadari keberadaannya.
"Kau tidak suka ditemani?"
"Tidak kalau itu kau."
Yeonjun menghela nafas. Ia mencabut batang rumput liar kemudian menjepitnya diantara bibir. "Kenapa kau begitu membenciku? Padahal aku keren."
KAMU SEDANG MEMBACA
THE AMETHYST: Alexandrite
FanfictionBUKU PERTAMA DARI SERIES AMETHYST "𝙆𝙞𝙩𝙖 𝙥𝙪𝙣𝙮𝙖 𝙨𝙖𝙩𝙪 𝙢𝙞𝙢𝙥𝙞 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙨𝙖𝙢𝙖 𝙪𝙣𝙩𝙪𝙠 𝙢𝙚𝙢𝙗𝙖𝙣𝙜𝙪𝙣 𝙝𝙖𝙧𝙞 𝙚𝙨𝙤𝙠." - Kepada senja di ujung bumi, tolong semangati lima anak adam dan lima anak hawa yang sedang memperjuangka...
