O5.

1.2K 282 37
                                        

Adakalanya pemikiran-pemikiran itu datang sendirinya. Ketika kau sekuat tenaga untuk membuang memori itu, mereka malah terputar tanpa pernah permisi.

Taehyun menghela nafas. Mereka baru saja sampai di Tapaz. Sebuah goa dengan danau di dalamnya. Benar kata Beomgyu, tempat ini seolah membangkitkan ingatan buruk dalam diri mereka.

Dan Taehyun tidak bisa berkompromi dengan itu.

"Kau baik?" tanya Soobin kala mendapati Taehyun terduduk lemas di salah satu batu disana.

Ia hanya mengangguk sambil terus mengatur nafasnya. Terlalu banyak hal buruk yang ia lewati selama hidupnya, kemudian hal-hal itu terputar di otaknya. Seolah tidak cukup menyiksa Taehyun selama bertahun-tahun.

Seseorang menyentuh pundaknya, membuatnya mau tidak mau menoleh. Pupilnya melebar dan jantungnya berdegup kencang kala mendapati orang yang berdiri di sampingnya adalah...

"Ibu?"

Wanita itu tersenyum miring, "Kau melihatku?"

Ketika pertanyaan itu masuk ke rungunya, ia dengan cepat menggelengkan kepala. Tidak, ini tidak nyata. Tempat ini sedang mengambil alih otaknya.

"Taehyun, ada apa denganmu?" lagi-lagi Soobin bertanya.

Ia tidak menjawab. Netranya masih menatap lekat sosok yang berdiri di sampingnya. Nafasnya mulai memburu kala suara wanita itu menusuk telinganya. Suara yang begitu ia kenali dari sosok yang begitu ia rindukan.

"Kau tidak mau menolong ibu?"

"Taehyun! Sadarlah!"

"Kau membiarkanku mati begitu saja?"

"Taehyun mereka tidak nyata!"

"Tolong ibu, nak."

Taehyun menutup telinga dengan tangannya. Ia limbung ke tanah. Membuat yang lainnya mulai panik dan berusaha menenangkannya.

Suara itu tidak kunjung menghilang, malah semakin keras. Rasanya ia ingin tuli sesaat. Sungguh, suara itu sungguh menyesakkan. Belum lagi, kalimat yang terlontar seolah memaksa Taehyun untuk melakukan sesuatu.

"Kalau kau datang lebih cepat, ibu tidak akan mati."

Tidak, tolong jangan ganggu aku.

"Jangan bodoh. Ibu masih bisa selamat."

Rasanya jiwanya hilang dari tubuhnya. Tidak jauh dari tempatnya, sosok itu muncul lagi dan kali ini lebih nyata. Ia menggunakkan terusan berwarna biru muda, persis seperti terusan milik ibunya. Kemudian sosok itu seperti dicekik oleh seseorang, membuatnya terangkat ke udara.

"Jangan ganggu ibuku!"

Tanpa babibu, ia langsung melemparkan belatinya ke sosok yang mencekik ibunya. Bersamaan dengan itu, sesuatu menghantam wajahnya dengan keras. Ia limbung kemudian semuanya menggelap.

— 🗡—

Soobin mengacak rambutnya frustasi. Ia susah payah mengunci pikirannya tapi sepertinya Taehyun terpengaruh dengan tempat ini. Dan setelah kehebohan yang anak itu ciptakan, mereka terpaksa masuk ke goa ini lagi.

Mereka-, Beomgyu, Chaeryoung, Soobin dan Yeonjun. Sisanya terpaksa menunggu di luar goa. Mencegah Taehyun berhalusinasi lagi dan mengobati Huening Kai yang tertusuk belati Taehyun.

Mereka berempat terpaksa masuk lagi untuk mencari pedang Alexandrite yang -menurut Beomgyu- Lord Hoseok terakhir pergi ke tempat ini. Beomgyu tau karena ia satu-satunya yang dibekali gulungan-gulungan kertas itu. Semuanya tertulis jelas disana.

THE AMETHYST: AlexandriteTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang