O1.

2.2K 362 23
                                        

Adakalanya kau harus menerima pemberian semesta sekalipun kau tidak menginginkannya. Seperti halnya permata yang selalu menghantui hidupnya beberapa tahun belakangan ini. Katanya permata itu adalah hadiah, tapi juga tanggung jawab yang menambah beban hidupnya.

Anak panahnya melayang dan mengenai tepat di tubuh seekor babi. Sejurus kemudian, sang babi limbung. Melihat itu, ia segera melompat turun dari tempat persembunyiannya.

Ia mengeluarkan pisaunya kemudian membelah tubuh sang babi tanpa belas kasih. Hidup seperti ini sebenarnya menyebalkan. Susah sekali mendapat hewan buruan karena hutan ini hanya dipenuhi oleh mutan dan monster-monster aneh yang menjijikan. Tempat ini benar-benar terkutuk.

Setelah selesai memotong tubuh babi menjadi potongan terkecil, laki-laki itu beranjak dari sana. Kemudian maniknya menangkap sesuatu di bawah pohon. Sepertinya... seorang manusia.

Dugaannya benar, seorang wanita dengan rambut coklat panjang sedang tertidur disana. Entah ia tidur atau sudah mati. Alih-alih mengecek wanita itu, ia mendecak kemudian beranjak dari sana.

"Tolong..."

Sang laki-laki tetap melanjutkan perjalannya seolah-olah ia baru saja kehilangan fungsi telinganya. Ia malas berurusan dengan manusia, terutama wanita. Selain karena ia memang tidak punya perasaan, wanita itu merepotkan.

Kang Taehyun, kau memang tidak punya hati.

"Sudah kubilang kan?"

—🗡—

"Bisakah kau diam?!" gerutu sang gadis berambut sebahu itu.

Gadis disebelahnya mendengus. Akhirnya ia memilih untuk diam. Kalau tidak, ia bisa memastikan pisau Ryujin akan menancap di tubuhnya.

Hari semakin malam tapi mereka belum menemukan tempat istirahat. Sudah hampir dua jam mereka menyusuri padang rumput tanpa istirahat. Dan rasanya, sebentar lagi kaki Yuna akan lepas. Ia sedikit menyesali sudah menguras tenaganya untuk berbicara. Tapi sungguh, mulutnya tidak tahan.

"Bisakah kita istirahat sebentar?"

"Tidak."

Yuna mengangguk lemas. Sebenarnya ia sudah menduga jawaban Ryujin. Yang ia lakukan akhirnya pasrah sambil terus berjalan. Percuma saja kalau ia berdebat dengan gadis ini. Tapi kalau ia istirahat sendiri, Ryujin tidak segan akan meninggalkannya.

Tadi pagi saja, Ryujin meninggalkannya karena masih ingin tidur. Untungnya ia cepat sadar dan segera menyusul Ryujin. Ketika Yuna protes karena ditinggal, Ryujin menjawabnya dengan sangat enteng.

"Jangan bersamaku apabila menghambat. Pergi saja sendiri."

Hal itu berhasil membuat Yuna menciut. Tidak ada yang lebih kejam dari Shin Ryujin. Ia benar-benar tidak bisa dipatahkan.

Langkah kakinya terhenti kala Ryujin berhenti. Ia baru hendak bertanya tapi suaranya langsung tercekat. Di depannya berdiri seekor serigala dengan tubuh besar dan berbulu lebat. Tubuhnya besar dan tingginya kurang lebih 3 meter.

Yuna menelan salivanya kasar. Ia melihat pergerakan tangan Ryujin yang mengisyaratkan ia untuk ke belakang tubuh Ryujin. Ia menurut, karena yah... ia penakut.

Sang serigala mengeram, diikuti dengan Ryujin yang mulai mengeluarkan crossbownya. Beberapa detik setelahnya, pertarungan terjadi. Ryujin mati-matian berusaha membunuh sang serigala, namun sang serigala terlalu kuat. Sedangkan Yuna hanya berusaha menghindari pertarungan itu.

"ARGHH!!" Ryujin mengerang kala tubuhnya berhasil ditahan sang serigala. Kali ini ia kalah, sang serigala seperti sudah siap memakannya.

Hampir saja-

THE AMETHYST: AlexandriteTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang