16.

1.7K 265 18
                                        

Warning ⚠️ : Suicide, please skip if you can't handle it.

Katanya didetik-detik terakhir sebelum seseorang itu mati, mereka akan memutar memori yang indah. Walaupun selama hidup ia tidak mempunyai banyak kenangan indah, setidaknya ia bisa tersenyum dibalik kobaran api yang mulai melahap rumahnya.

Entah kenapa ia merasakan kehangatan dalam hatinya ketika ia memikirkan bahwa masih ada orang yang percaya padanya. Orang-orang yang entah sejak kapan mengambil alih isi hatinya, membuatnya berpikir bahwa hidup di dunia ini sebenarnya tidak buruk. Hanya saja, halaman suram yang kita tulis dalam buku kehidupan terlalu membekas dibanding halaman-halaman indah lainnya.

Entah, sepertinya ini hanya imajinasi bodohnya.

Ia menatap langit-langit kamarnya yang mulai menghitam dimakan api. Sebentar lagi tubuhnya juga akan ikut menghitam dan berubah menjadi abu.

Dibalik kesadarannya yang mulai menghilang, sudut matanya menangkap presensi seorang laki-laki jakung dengan kulit putih dan rambut kecoklatan, berusaha memadamkan api. Disusul oleh seorang gadis yang melompat masuk ke dalam kamarnya —padahal api belum berhasil dipadamkan.

"Choi Soobin!"

Soobin kenal betul suara itu. Entah kenapa terdengar sangat familier di telinganya. Wajah itu— wajah yang tenang namun menyiratkan sedikit kekhawatiran. Ia sering melihatnya tapi entah dimana. Soobin tidak ingat apa-apa.

Sang gadis menyentuh lehernya kemudian mengangkat tubuhnya yang lemas. "Kau masih disini. Tetaplah bersama kami."

Tapi siapa kalian?

"Huening Kai, ayo angkat dia!"

— 🗡—

Disisi lain, gadis itu berlari sekuat tenaga menyusuri lorong gelap dan lembab itu. Keadaan disini kacau balau setelah ada laporan bahwa rumah sakit jiwa ini memperlakukan pasiennya dengan sangat tidak adil.

Mereka sering menggunakan para pasien wanita sebagai alat pemuas nafsu para petinggi negara. Sedangkan pasien laki-laki dijadikan budak tanpa bayaran apapun. Bukannya menyembuhkan, mereka justru membuat pasien-pasien disini tambah gila.

Beberapa dari mereka berhasil kabur dan melaporkan apa yang terjadi di dalam sini. Itulah mengapa banyak sekali polisi dan tim medis yang berlalu lalang disini.

Rumah sakit jiwa ini tidak terlalu besar, tapi sosok yang ia cari belum juga ketemu. Sudah hampir tiga kali ia mengecek seluruh ruangan yang ada tapi hasilnya nihil.

Ia berhenti di teras rumah sakit untuk menetralkan nafasnya sejenak. "Dimana sih..." erangnya frustasi.

Kemudian ia tidak sengaja menoleh ke arah halaman belakang rumah sakit. Dan rasanya hatinya baru saja berpindah dari tempatnya.

Sosok itu ada disana. Duduk disebuah ayunan tua sambil memegang payung untuk melindungi dirinya dari rintik hujan yang mengguyur Seoul dari tadi.

 Duduk disebuah ayunan tua sambil memegang payung untuk melindungi dirinya dari rintik hujan yang mengguyur Seoul dari tadi

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
THE AMETHYST: AlexandriteTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang