14.

1K 262 18
                                        

Langit memang sudah mendung dari tadi. Gak heran kenapa hujan ikut andil dalam perjuangan lima anak adam dan lima anak hawa dipuncak Amethyst. Dibawah rintik hujan yang menurutnya menganggu, Beomgyu masih berusaha keras menyusun permata di Alexandrite.

Mereka mati-matian menghadapi empat penyihir yang kelewat sakti. Walaupun mereka kalah jumlah, tapi para penyihir baru berhasil dilumpuhkan dua orang. Sedangkan komplotan mereka sudah tiga orang yang terluka parah.

"Pedangnya kurang satu!" tutur Chaeryoung yang baru saja selesai menyusun enam pedang diatas sebuah meja batu.

Beomgyu menghela nafas. Ia memerhatikan satu-satu temannya. "pedangnya Yeonjun, itu pedang lord Taehyung." bisik Beomgyu.

Chaeryoung mengangguk. Dengan sigap ia berlari menghampiri Yeonjun yang sibuk menghabisi makhluk hitam yang berterbangan kesana kemari.

Beomgyu kembali fokus pada gulungan kertas dan permata-permata itu. Tapi pikirannya melayang kesana kemari. Salah satunya adalah fakta bahwa di sini ia menemukan jasad Lord Jimin dan Lord Jin. Harusnya mereka tidak disini —kalau mereka menyelesaikan tugas masing-masing. Pantas saja mutan-mutan di hutan sangat banyak.

Tapi Beomgyu mensyukuri bahwa pedang mereka masih disini. Setidaknya, walau harus kembali merasakan duka, ia bisa melakukan sesuatu yang benar untuk Amethyst.

Ia sudah hampir selesai menyusun permata Alexandrite, tapi Raja Willam membuatnya terlalu rumit. Gulungan-gulungan kertas ini sungguh tidak membantu. Andai saja Lord Namjoon tidak merasuki tubuh Soobin yang kelewat idiot itu, pasti semua ini sudah kelar!

"ARGGGHH!" pekik Soobin tiba-tiba.

Lihat saja kan? Beomgyu menaruh atensinya pada laki-laki itu. Tadinya ia sibuk membantu Taehyun mengalahkan penyihir berambut blonde. Entah apa yang terjadi tapi sekarang Taehyun tersungkur di tanah sambil mengerang kesakitan.

Dan Soobin, anak itu berada dalam kukungan sang penyihir berambut blonde. Walau sudah penuh darah dan luka, penyihir itu masih kuat berdiri. Sungguh mengejutkan.

"Menyerahlah!"

"Ck!" Ryujin mendecak sebal.

Sang penyihir semakin mendekati belatinya ke kulit Soobin, membuat darah merah mulai keluar dari sana. "Menyerah atau anak ini kujadikan makan malam."

Yeonjun tertawa terbahak-bahak, "Jangan Soobin, dunia akan sepi tanpa badut seperti Soobin."

Soobin meringis. Bukan karena belati yang menggores kulitnya, tapi karena Yeonjun baru saja menyebutnya badut. Badut teriak badut!

Sang penyihir mendecak. Ia menunjuk Yeonjun dengan belatinya, "Bagaimana kalau kau saja?"

"Daging Yeonjun tidak berkhasiat." celetuk Huening Kai.

Terdengar tawa Ryujin yang terdengar sangat puas. Sang penyihir hampir saja melempar belatinya kala Beomgyu buka suara,

"Jung Eunbi..."

Sang penyihir membeku. Ia menelan salivanya kasar. Tangannya yang semula mengukung Soobin melemas, "Kau- kau dari mana tahu nama itu?"

Beomgyu menghela nafas. Ia melirik ke arah Chaeryoung kemudian menunjuk Alexandrite dengan dagunya. Semoga saja Chaeryoung mengerti kodenya. "Akan aku jelaskan. Tapi lepaskan anak bodoh itu dulu."

Sang penyihir mendorong Soobin hingga tersungkur di tanah. Ia memutar badannya, menatap Beomgyu dengan mata merahnya yang menyeramkan.

"Tidak seharusnya aku meninggalkanmu. Aku tahu aku salah. Maafkan aku."

Mata itu semakin lama semakin memicing.

"Aku... Jeon Jungkook. Aku terperangkap dalam tubuh ini karena itulah aku harus meninggalkanmu disana," tuturnya kemudian mengulurkan tangan, "Kau bilang kau tidak menginginkan ini, lepaskan kalungmu dan ayo tinggal di dunia nyata seperti apa yang sudah kita rencanakan."

Wajah sang penyihir berubah menjadi seperti manusia biasa. Matanya yang semula merah juga berangsur-angsur menghitam. "Aku memang tidak mau ini. Tapi semuanya sudah terlanjur. Amethyst sudah hancur. Dan kau meninggalkanku."

"Aku tidak akan mengulanginya. Percayalah padaku."

Bersamaan dengan itu sebuah dentuman besar terdengar. Terdapat sebuah lubang di langit yang mengeluarkan cahaya putih keemasan. Lubang itu berasal dari Alexandrite dengan sepuluh permata yang sudah tersusun dengan benar.

Beomgyu menengadah menatap langit. Makhluk-makhluk hitam dan para mutan mulai terhisap masuk ke dalam lubang. "Kau akan terseret masuk kalau kau tidak lepas kalungnya. Lepaskan itu, Eunbi!"

Eunbi baru akan melepaskan kalungnya kala sebuah pedang menembus dadanya. Dibelakangnya berdiri seorang wanita sambil tersenyum miring.

"Apa yang kau lakukan, Umji?!"

"Semua keluargaku sudah mati. Dan Eunha harus ikut mati, Jeon Jungkook."

Sesaat setelah mengucapkan kalimat itu, sang penyihir ikut terseret masuk ke dalam lubang. Begitupula tubuh Eunha dan penyihir lainnya.

Yeji menengadah menatap langit. Bagaimana langit yang semula gelap dan kelam berubah menjadi biru muda. Ia berusaha berdiri sekalipun tubuhnya sudah terluka parah, kemudian ia tersenyum. "Kita berhasil, kan?"

"Kita berhasil?" tanya Jisu lagi setelah selesai mengobati leher Soobin yang terluka. Jisu berlari kecil untuk menghampiri Chaeryoung yang masih takjub dengan apa yang terjadi.

"Jisu unnie..."

"Kau melakukannya dengan baik!" sahut Jisu kemudian memeluk gadis itu.

Yeonjun mendudukan dirinya di tanah sambil menatap gadis yang sedang tersenyum menatap langit. "Aku tidak menyangka kau bisa tersenyum."

"Aku lebih tidak menyangka aku menyukaimu."

Yeonjun mengerutkan keningnya, "Apa? Kau bilang apa, Shin Ryujin?"

Ryujin langsung membuang mukanya, "Anggap saja kau tidak dengar apa-apa."

Yeonjun hanya terkekeh kemudian mengusak pelan rambut Ryujin. Membuat Ryujin semakin salah tingkah.

Disisi lain, Huening Kai merebahkan dirinya disebelah Soobin dan Yuna. "Sudah selesai, Hyung."

Mereka akhirnya bisa bernafas lega. Melihat perubahan derastis setelah lubang itu tercipta di langit, kemudian perlahan-lahan menutup. Kali ini mereka setuju dengan pernyataan bahwa dunia bisa baik-baik saja setelah badai.

— 🗡—

THE AMETHYST: AlexandriteTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang