11. Pernyataan Cinta yang Pertama

2.5K 270 6
                                        

11. Pernyataan Cinta yang Pertama

Byuuur!!! Cipratan air kolam berenang melompat keluar kala Bima dengan sengaja digotong dan dilempar ke dalam kolam berenang karena kalah main bilyard. Setelah berhasil melempar Bima ke kolam berenang mereka semua tertawa.

Bima yang tak mau basah sendirian bergerak naik dan mulai menarik temannya satu persatu. Rivan, Gio, Xavier, Erland, dan Edo berlari tanpa arah, menghindari Bima. Bima mengejar sekenanya, dan berhasil menarik Edo, Gio dan Erland ke dalam kolam berenang.

Alex dan Diva yang memang sedang asik berjemur di kursi santai di pinggir kolam berenang hanya tertawa melihat tingkah laku teman-temannya.

Milly dan Diandra keluar bersamaan dari dalam villa. Rivan berlindung di belakang punggung Milly dan Xavier berlindung di belakang punggung Diandra. Saat Bima mulai mengejar Rivan dan Xavier, mereka berdua memeluk perempuan di depannya.

Suasanya menjadi hening, kala mereka cukup terkejut melihat pemandangan yang membuat mereka tercengang. Xavier yang dengan reflek memeluk Diandra dari belakang.

"Ehem!" Bima berdehem. "gue narik Alex aja! Yuk, Lex!" Bima menarik tangan Alex lalu mengajaknya berenang.

Setelah insiden berdehem itu, Xavier dengan cepat melepaskan pelukannya. Diandra yang masih terkejut hanya diam di tempat.

"Sorry, Di, gue reflek!" ucapnya.

"Iya." jawab Diandra.

Xavier yang salah tingkah malah dengan sukarela menceburkan dirinya ke dalam kolam renang. Sementara Diandra masuk ke villa untuk mengambil beberapa camilan untuk teman-temannya.

"Menang banyak lu, Bro!"
"Bisa aja tatakan baskom modusnya!"
"Rasanya apa, Men? Deg-degan gak lo?"
"Yah, bertambah satu saingan gue!"

"Gak sengaja gue, Bro!" jawab Xavier tanpa beban.

Perasaan Xavier? Tentu saja deg-dengan. Dia memang tidak pernah memeluk perempuan seperti itu kecuali Maminya. Bahkan dia sendiri gak tahu harus apa setelah tidak sengaja memeluk Diandra. Memang Xavier baru saja merasa baru-baru ini Diandra cukup mengisi pikirannya. Tapi untuk perasan mendalam pada gadis itu sepertinya masih terlalu jauh.

Tak lama Diandra keluar dari Villa dan membawa dua piring yang berisi camilan. Diva yang melihat temannya kerepotan itu buru-buru meraih satu piring dari tangan Diandra untuk dibawanya.

"Camilan, Guys!" Diandra menawarkan pada teman-temannya.

"Istri idaman banget nih!"
"Makasih, Diandra yang cantik bak bidadari!"
"Repot-repot amat, Di!"
"Sering-sering ya, Di!"

Sahutan-sahutan berisik dari mereka yang sudah basah semua itu membuat Diandra tersenyum. Gio keluar naik dari kolam berenang, mendekati Diandra dan mencoba camilan yang dibawa Diandra. Tapi tiba-tiba Gio menggendong Diandra ala bridal style dan menceburkan Diandra ke dalam kolam berenang.

"Giooooo!!!" teriak Diandra. Gio malah tertawa. Sontak mereka ikut tertawa dan mencipratkan air ke arah Diandra.

Selang waktu beberapa menit, Rivan dan Alex mengukuti jejak Gio yaitu menggendong pacar mereka masing-masing dan menceburkannya ke kolam berenang. Sisy sibuk memotret dari balkon atas keseruan Kakaknya itu dan teman-temannya. Namun hasil jepretan itu lebih kepada seseorang yang berhasil mencuri perhatiannya.

* * *

Sore harinya, mereka berjalan-jalan di kebun teh yang letaknya di belakang villa Xavier. Tetapi tentu saja mereka harus mengendarai mobil untuk sampai ke pekarangan kebun teh tersebut karena mereka harus memutar cukup jauh.

Setelah turun dari mobil, Sisy berjalan mendekati Erland. Langkahnya tanpa disadari Erland karena Erland sibuk dengan kameranya.

"Land, fotoin gue dong!" pinta Rivan yang sudah berpose merangkul Milly. Erland memotret pasangan sejoli itu beberapa kali.

"Land, kita juga dong!" Diva ikut nimbrung. Dia sudah siap berpose memeluk pinggang Alex. Erland mengikuti permintaan temannya itu.

"Kak Erland, kita foto berdua yuk!" ajak Sisy yang disetujui Erland. Sisy yang juga membawa kamera langsung memberikan kameranya pada Edo, yang langsung di potret Edo.

Selanjutnya Edo memepercepat langkahnya mendekati Diandra yang terlihat sibuk memotret dengan kamera handphonenya.

"Land, fotoin gue sama Diandra dong!" pintanya. Diandra yang menyetujui untuk foto dengan Edo hanya tersenyum menatap kamera.

Setelah memotret Edo dengan Diandra, Erland yang tadinya ingin berfoto juga dengan Diandra menghentikan langkahnya kala Sisy menahan lengannya.

"Gimana kalo kita semua foto bareng?"

"Eh, boleh juga tuh!" jawab Diva.

"Gue ambil tripod di mobil dulu ya." kata Sisy. Bima menyusulnya.

"Sy, lo juga bukannya pura-pura gak ngerti, kan?" tanya Bima ketika Sisy membuka bagasi mobil dan mengambil tripod.

"Maksud Kak Bima?"

"Lo tau kan siapa yang Erland suka?" Sisy pura-pura sibuk untuk menghindari pertanyaan Kakaknya. "Sy!"

"Apa sih, Kak Bima?!"

"Gak usah pura-pura gak tau!"

"Ya, Erland suka sama Diandra! Terus kenapa? Apa aku gak boleh suka sama Erland?!"

"Kak Bima gak ngelarang, tapi jangan nyakitin diri sendiri, Sy!"

"Nyakitin diri sendiri gimana? Kak Diandra jelas-jelas gak suka sama Erland."

"Tau dari?"

"Ya keliatan, Kak!"

"Tapi yang Kak Bima liat, kamu tuh kayak lagi motong pergerakan Erland gitu loh!"

"Pergerakan apa?" Sisy masih pura-pura tidak tahu.

"Kalian itu lagi jadiin Kak Diandra taruhan apa gimana, sih?"

"Ngawur!"

"Ya abis yang aku liat, kayak lagi saingan aja gitu! Jangan-jangan Kak Bima ikutan juga?"

"Kak Bima tuh belum mau setia sama satu perempuan, Sy. Sedangkan kalo yang kayak Diandra emang untuk diseriusin."

"Jadi, mereka?"

"Emang sama-sama suka sama satu perempuan. Tapi saingan sehat."

"Wow!"

Malam harinya, mereka tidak barbeque seperti malam sebelumnya. Mereka makan masakan istri Pak Diman yang terkenal pintar masak masakan Sunda itu. Setelah makan, mereka berkumpul di ruang santai. Diandra, Diva, dan Milly karaoke yang direcoki Gio dan Alex. Rivan, Xavier, Edo, dan Erland main bilyard, sedangkan Bima sedang video call dengan pacarnya di kamar.

Tiba-tiba Sisy mengirim pesan untuk Erland dan meminta Erland pergi ke balkon yang letaknya tidak jauh dari ruang santai.

"Kenapa, Sy? Loh, kirain sama Bima!"

"Gue suka sama lo, Kak!"

Erland cukup kaget dengan pernyataan Sisy yang tiba-tiba itu. Kedua alisnya terangkat. Setelah beberapa menit, Erland tersenyum dan mengacak-acak rambut Sisy.

"Anak manis!"

"Stop ngacak-acak rambut gue dan bilang gue manis seolah-olah yang gue bilang tadi kayak pernyataan sayang dari adik ke kakaknya!" Sisy meninggikan suaranya. "Pertama, gue bukan adik lo! Yang kedua, gue serius! Lo gak mau pertimbangin, Kak?"

Senyum Erland mengembang lagi, "Gue udah suka sama perempuan lain, Sy, sorry banget." jawabnya lembut.

Baru Erland berbalik badan dan niat meninggalkan Sisy, Sisy menahan lengan Erland, "Kak Diandra, kan? Make a deal with me! Kalo lo ditolak Kak Diandra, tolong kasih kesempatan buat gue, Kak!"

Erland tidak berkata apa-apa. Dia berusaha melepas lengannya dari Sisy lalu pergi meninggalkan Sisy di tempat itu. Sisy mengacak-acak rambutnya frustasi. Baru kali ini dia sesuka ini dengan seorang pria dan baru kali ini dia seperti ditolak.

* * *

Me And The Six PrinceCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang