31. Our Holiday

1.2K 142 2
                                        

31. Our Holiday

Villa pribadi milik keluarga Xavier di kawasan Nusa Dua Bali cukup luas. Satu kamar tidur utama yang luas dan dua kamar tidur lainnya. Para perempuan tidur di kamar tidur utama.

Byuuuur!
Rivan, Bima, Alex, dan Erland langsung berenang.

"Gila, seger banget!"

"Selamat menikmati, Bro!" ucap Xavier.  Kedua tangannya sibuk memegang stick playstation. Mereka hanya terhalang pintu kaca. Xavier sendiri sedang bermain playstation bertanding bola dengan Edo.

"Xav, pinjem mobil lo dong! Gue sama Diandra mah belanja cemilan nih!" ucap Diva.

"Tuh di laci!"

"Pinjem yang Lambo, boleh gak?"

Xavier tertawa, "Kalo Diandra yang nyetir boleh kok!"

"Gak mau!" tolak Diandra.

"Lagian kan lu mau belanja, entar gembolannya mau taro dimana, Divalex?" sahut Edo.

"Aku anter aja yuk, Div!" Alex menawarkan diri.

"Kamu lama! Belum bilasnya, belum ganti bajunya!"

Diandra mengambil kunci di dalam laci dan memberikannya pada Diva.

"Gak apa-apa deh! Kapan lagi gue nyetir Mercy!" kata Diva.

"Hati-hati ya, Beiby!" ucap Alex.

"Jagain Diandra ya, Div!" pesan Xavier.

"Diandra udah gede, Xav! Bucin banget sih lo!"

"Aku berangkat ya, Xav." ucap Diandra.

"Hati-hati, Sayang."

Diva dan Diandra sibuk memindahkan kantong belanja dari keranjang ke dalam bagasi mobil. Mereka belanja banyak hari ini. Beberapa camilan, beberapa minuman ringan, aneka jus, dan daging serta bumbunya untuk mereka barbeque. Setelah itu Diva mengemudikan mobilnya ke sebuah restaurant Pizza untuk membeli beberapa loyang Pizza.

"Di, gue salah fokus sama cincin lo deh! Lo udah tunangan?" tanya Diva. Dia yang sedang mengemudi membagi pandangannya dengan Diandra.

Diandra tersenyum malu, "Cuma hadiah, Div."

"Yakin?"

"Iya."

"Lo serius sama Xavier?"

"Menurut lo?"

"Pertanyaan yang sebenernya gue udah tau jawabannya sih! Rencana kalian berdua selanjutnya apa?"

"Kalo lo gimana?"

"Kan gue nanya duluan."

"Hahaha, iya deeh! Mungkin abis ini, gue bakal kerja di kantor pusat perusahaan keluarganya Xavier."

"Serius lo?"

Diandra mengangguk yakin, "At the request of his mother sih, Div. Selain gue udah kenal sama Maminya, gue mau bantu juga. Tapi gue udah minta ke Mami untuk gak menspesialkan gue. Kasih gue posisi yang menurut dia gue layak di posisi itu."

"Sumpah ya, Diandra, mungkin kalo gue jadi cowok, gue bakal mati-matian buat ngerebut lo dari Xavier! Sepertinya gue jatuh cinta sama lo!"

"Jijay ya!"

Diva tertawa. "Terus Xavier?"

"Hmmm, masih belum pasti. Kayaknya dia bakal lanjut kuliah S2 sambil ngeraba-raba semua pekerjaan orang tuanya."

"Lo gak pengen lanjut S2? Sayang kan! Lo pinter banget."

"In my planning sih, Div, kebetulan pihak kampus nawarin gue beasiswa S2, tapi kalo gue pake beasiswa kampus, gue terikat. Gue harus mau jadi dosen disana."

"Ambil aja tawarannya, Di."

"Kan gue janji mau kerja di perusahaan orang tua Xavier. Makanya gue kerja dulu, ngumpulin uang, baru lanjut S2. Mungkin kerja dulu setahun."

"Tertata banget ya hidup lo!"

Diandra tertawa, "Terus lo sendiri gimana sama Alex?"

"Gue sama Alex ngelamar di perusahaan yang sama dengan posisi yang sama. Meskipun kemungkinannya kita berdua bisa kerja barengnya kecil sih."

"Good plan."

"Tapi mungkin gue juga niat mau buka usaha."

"Usaha apa?"

"Toko bunga. Kebetulan Alex sama Xavier kan join usaha. Mungkin gue bakal join sama mereka."

"Terus?"

"Terus mungkin dua sampe tiga tahun berikutnya kita nikah. Gue juga gak mau nikah lama-lama sih, Di!"

"Gue suka rencana lo, Div."

"Ya meskipun gak sekeren rencana lo sih!"

* * *

Adel baru keluar dari kamar dan melihat Edo yang sedang main playstation dengan Xavier. Pandangannya beralih pada Xavier. Xavier memang lebih tampan dari Edo, Xavier juga lebih mapan dari Edo. Tapi kenapa pria seperti Xavier memilih Diandra, bukan dirinya.

Adel duduk di tengah antara Xavier dan Edo. Xavier dan Edo merasa risih. Edo yang memang tidak suka kalau ada perempuan asing di dekatnya langsung melempar stick. Lalu bangkit dan meninggalkan tempat itu.

"Hai, Xav." sapanya. "Denger-denger lo jadian sama Diandra ya? Selamat ya!"

"Thanks!"

Xavier beranjak dari tempatnya dan masuk ke dalam kamar.

"Lu kenapa ninggalin gue main ps, Bro?" tanya Xavier pada Edo yang sedang santai main handphone.

"Males gue, ada dia!"

"Lu ada masalah sama dia?"

"Gak ada sih! Tapi risih aja! Lu sendiri kenapa kesini?"

Xavier tertawa kecil, "Sama kayak lu, Bro."

"Lu dulu bukannya sempet deket sama dia?"

"Gak juga sih."

Edo terkekeh, "Ada yang lu sembunyiin?"

"Gak ada, Bro."

"Bro, ini lu kalo sampe nyia-nyiain Diandra, lu tau kan berapa banyak tangan yang bakal ngerebut dia dari lu?"

"Gue tau, Bro. B*go aja gue nyia-nyiain Diandra."

"Pokoknya lu jangan aneh-aneh ya."

"Gue pernah ada masalah sama dia."

"Kenapa?"

"Dia pernah bilang suka ke gue, terus banding-bandingin dirinya sama Diandra. Dia mikir dia lebih oke dari Diandra."

Edo tertawa, "Kasih kaca, Bro!"

"Pengennya. Tapi gue waktu itu lagi gak bawa kaca. Emang gue cowok apaan kemana-mana bawa kaca."

"Bener juga lu!"

Obrolan mereka terjeda. Suasana hening.

"Abis ini lu mau kemana?"

"Gimana kalo ke Jimbaran? Dinner?" saran Xavier.

"Maksud gue, rencana hidup lu setelah ini,  bangs*t!"

"Menurut lu apa yang diharapkan orang tua dari anak tunggalnya?"

Edo manggut-manggut paham, "Berat juga ya jadi lu."

"Kalo lu?"

"Mungkin gue ikutin jejak Bokap ngelamar ke perusahaan minyak luar."

"Wow, semangat ya, Bro. Lu nyoba ngelamar di perusahaan keluarga gue bisa kok!"

"Wah, makasih loh tawarannya. Tapi gue berusaha dulu. Terus, lu serius sama Diandra?"

"Pertanyaan lu seakan mau nikung, Bro!" Xavier tertawa, "Lu tau kan kalo gue gak bisa kalo gak sama Diandra."

"Bener juga!"

Obrolan mereka terhenti. Mereka memandanh langit-langit kamar. Tanpa sadar mereka berdua tertidur lelap.

* * *

Me And The Six PrinceCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang