Tubuh Sonya terpaku di tempat.
Bala Halimun, Kalong Ireng dan semua penghuni padepokan yang telah mencukur rambut dan meneteskan darah, semuanya terpaku di tempat. Kalong Ireng berubah kembali jadi manusia berpakaian hitam biasa. Semua mata berubah putih. Memancar sinar ke atas. Begitu pula dengan Sonya. Bedanya, matanya memancarkan sinar lembayung. Selendang-selendangnya menyusut jadi pendek dan berubah jadi sabuk saja. Sonya berdiri terpaku di pinggir kolam.
Kolam hitam bergejolak lagi. Kali ini yang dimuntahkan adalah rohnya Waras. Rohnya berputar-putar berdesing mencari tubuh yang telah disembunyikan Abah Depe. Dia tak mungkin kembali lagi ke tubuh Wati. Berputar-putar tak karuan, akhirnya dia menemukan tubuhnya disimpan di dalam peti mati di salah satu kuburan yang dipendam hanya selapis tanah saja.
Waras yang asli tersadarkan. Dia batuk-batuk meludah tanah. Tubuhnya terasa layu sebab terkurung berjam-jam di dalam kotak pengap ini. Untunglah Abah Depe telah mengungsikan penghuni peti sebenarnya. Pasti gatal-gatal dia meniduri jasad asing. Waras mendorong tutup peti sekuat tenaga. Dia menyadari, esensi pendekar putihnya tersisa sangat sedikit. Namun setidaknya, kalau berada di tubuh yang asli, sudah cukup untuk bertempur.
Tutup peti mati terpental. Waras lompat dari sana. Dia segera lari ke balai besar. "Kok, pada diam semua?" Waras heran.
Dia mencermati situasi. Ada Kalong Ireng dalam wujud manusia. Dendam kesumat yang tersimpan dalam jiwa Pendekar Putih sebelum-sebelumnya menumpuk. Rasanya Waras ingin menghajarnya di tempat. Tak tahan, Waras menghajar mukanya. Kalong Ireng berdebum jatuh, tubuhnya tetap mematung, matanya menyala putih. "Ada apa ini ya?"
Waras menemukan Sonya. Segera dia berlari mendekatinya. "Sonya! Sonya!"
Sonya tidak merespon panggilan Waras. Penampilan Sonya sudah berubah. Oh, sudah menjadi Astacakra rupanya, syukurlah. Tapi aneh. Waras bisa merasakan gejolak di dalam diri Sonya. Sebuah pertarungan di relung jiwa. Dia juga melihat adanya bercak hitam. Dia colek dan hirup. Baunya busuk sekali.
Ingatan dormannya muncul, itu adalah racun Kalong Ireng! "Bahaya!" Kalong Ireng telah menyuntikkan racun perusak sukma. Dia khawatir yang diserang bukanlah sukma Sonya, melainkan entitas Astacakranya. Kalau dibiarkan, Astacakra Kelima akan terkontaminasi!
Waras mesti ikut campur dalam pertempuran dalam relung jiwa Sonya. Dia ambil sikap semadi, dia meragaksukma. Rohnya masuk melalui mulut Sonya.
Gelap.
Di mana Sonya?
Di mana pertempuran sukma itu?
Tiba-tiba ada kekuatan tak kasat mata yang menarik Waras. Rasanya seperti masuk ke ruang hampa itu lagi. Dia melayang di tengah ruang kegelapan. Di depannya, sosok Sonya yang berpendaran warna lembayung dan dilingkupi bayang-bayang ular besar tengah bertarung dengan sosok mirip Sonya namun pendarannya warna emas yang lama kelamaan terkontaminasi menjadi hitam.
Racunnya pasti tengah menggerogoti inti Astacakranya. Waras mendorong diri menuju Sonya.
"Sonya, kamu pasti bisa. Kerahkan jati dirimu. Jangan mau kalah. Ini adalah tubuhmu," kata Waras.
Sonya yang asli menggeram. Pertarungannya tidak saling menyerang, namun saling dorong tangan. Keduanya saling mencengkeram. Di atas mereka terdapat cincin keemasan. Waras menebak, siapa pun yang berhasil melewati cincin itu, akan mengendalikan tubuh Sonya seutuhnya. Jangan sampai Astacakra yang terkontaminasi menang!
Waras mengambil tempat di belakang Sonya asli. Dia mengerahkan sinar putihnya. Sonya yang sedang berjuang agar sinar lembayungnya mengalahkan sinar emas kehitaman Astacakra terkontaminasinya, mengerang mengerahkan seluruh tenaga yang ada. Dengan bantuan Waras, ada sedikit harapan dia bisa mengambil alih tubuhnya lagi.
Perlahan-lahan sinar emas kehitaman itu berkurang dari sosok Sonya lembayung. Kini pendaran lembayung perlahan-lahan mencaplok emas kehitaman. Sayangnya itu hanya beberapa kedip mata saja. Dorongan sinar putih dari Waras malah membuat roh Waras terpental. Di bawah posisi mereka, ada lubang hitam yang mengisap roh Waras. Memaksanya keluar.
Ada suara menggelegar yang menggetarkan roh Waras. Jangan ikut campur pertarungan ini! Waras terlempar keluar, masuk kembali ke tubuhnya dan terkapar lemah.
Pertarungan itu masih berlangsung. Tubuh Sonya di atas tanah kini gemetaran. Tanah yang dipijaknya bergetar. Kerikil-kerikil, daun-daun melayang ke atas.
Bahkan tubuh Waras dan seisi padepokan juga perlahan-lahan ikut terangkat. Sinar yang keluar dari mata mereka semakin terang membutakan. Waras tak ada pilihan lain selain menutup matanya, khawatir buta.
Hening berdenging. Waras terempas ke tanah kembali. Dia membuka mata, sinar yang keluar dari mata seisi padepokan telah sirna. Sonya juga sudah tidak berdiri gemetaran lagi. Dia terbaring lemah.
Waras segera menghampirinya dengan tertatih.
"Sonya?"
Sonya membuka mata, "Aku..."
"Ya, kamu Sonya. Kamu Astacakra."
"Kau siapa?"
"Aku Pendekar Putih."
"Oh." Sonya mendudukkan diri dibantu oleh Waras.
"Kamu ingat siapa dirimu?" Waras ingin memastikan. Dia merasakan adanya energi yang semakin detik semakin besar.
"Aku.... Panca Sonya."
Waras membelalak.
KAMU SEDANG MEMBACA
ASTACAKRA #5 PANCA SONYA
FantasyWaras si Pendekar Putih, dijemput siluman dari masa depan untuk menyusup ke suatu padepokan. Tugasnya adalah untuk mengawasi seorang anak siluman berdarah campuran, Sonya Ruri, agar tidak salah menempuh jalan kehidupan di bawah asuhan antek Kalong I...
