BALA PANCASONYA

49 9 0
                                        

Waras mundur ke belakang. Sonya yang dilihatnya sekarang tidak seperti Sonya yang kemarin. Dia sudah berubah sama sekali. Ketidakpastian apakah Sonya yang ini karena sudah berhasil mengambil alih tubuhnya dan berakibat pada perubahan sikap, sebab jiwanya mengalami kerusakan, atau ini sama sekali bukan Sonya? Bahwa Astacakra yang telah terkontaminasi sepenuhnya mengambil alih tubuh Sonya. Ketidakpastian ini membuat Waras gentar.

Dia mundur mencari tempat aman.

"Sonya, ingat jati dirimu! Ingat Rura Sonja dan Larasati!"

Sonya tampak tidak menggubris perkataan Waras. Sonya menghampiri Kalong Ireng.

Wah, kalau dia menghampiri Kalong Ireng, bisa dibilang ini masih Sonya yang asli. Namun mungkin ada hal yang benar-benar berubah. Sonya tampak sadis.

"Sonya! Jangan!"

Kalong Ireng yang mulai sadarkan diri, membelalak. Dia dicekik oleh Sonya. Tubuhnya diangkat, dibawa melayang lima meter. Kalong Ireng kesakitan, suaranya tercekat. Kakinya menendang-nendang.

Selendang Sonya bergerak kembali. Mereka saling memilin dan berubah jadi tombak keras nan runcing di ujung. Sonya melempar Kalong Ireng yang segera memanfaatkan waktu itu untuk menyerang balik Sonya. Ki Jugo dan Nyi Ratapi akhirnya sadar. Keduanya langsung membantu Kalong Ireng.

"Sonya, ini kami! Kau tak sepantasnya menyerang junjungan kami Kalong Ireng," seru Ki Jugo.

Mata Sonya menyala lembayung, menatap tajam Ki Jugo dan Nyi Ratapi.

Terlebih dahulu Sonya mengempas Kalong Ireng yang baru mau memberi jurus tapak seribu dengan selendangnya. Kalong Ireng kena tamparan selendang itu begitu telak, tangannya sampai patah, dia terempas tinggi, mau berubah jadi sosok kelelawar pun kesulitan.

Menanti Kalong Ireng jatuh dari langit, Sonya melesat turun dan menyerang Ki Jugo dan Nyi Ratapi. Gerakan tangannya seperti menyayat, ada empasan angin menyusul, melempar Ki Jugo dan Nyi Ratapi sampai menghancurkan tembok bilik mereka sendiri. Mendongak ke atas, Sonya melemparkan tombak selendangnya ke arah Kalong Ireng yang sedang terjun bebas. Tombak tertancap pada dada Kalong Ireng, menembus hingga punggung. Kalong Ireng jatuh tak berkutik. Darah hitam keluar dari mulutnya.

Waras melongo menyaksikan kesadisan Sonya. Dia kemudian mengangkat batu besar dari gapura makam, mengangkatnya dengan ekor selendang yang meliuk-liuk seperti ular. Batu itu dilempar secepat kilat, mengarah ke tempat jatuhnya Ki Jugo dan Nyi Ratapi. Bilik mereka kini luluh lantak. Sementara Ki Jugo dan Nyi Ratapi melompat kalang kabut menghindari serangan Sonya yang kini melemparkan tombak-tombak selendang berujung runcing.

Ki Jugo dan Nyi Ratapi melakukan jurus empas samudera bersama-sama. Gelombang angin yang terasa basah membendung cepat melenyapkan tombak-tombak itu. Mereka loncat dan berubah jadi soang. Sonya terbang. Selendangnya menjulur panjang dan menyepak-nyepak dua soang Ki Jugo dan Nyi Ratapi. Sibuk menghindari sepakan selendang, keduanya tidak tahu ada selendang yang meliuk dan melilit leher mereka. Sonya membawa turun keduanya, menghantamkan mereka ke tanah. Waras mendengar suara tulang patah.

Sonya berlenggak seperti ular, tangannya menyatu ke atas. Selendangnya memanjang dan berubah jadi besar, lalu membentuk ular raksasa. Rahang dan taring panjang mengancam ke arah Ki Jugo dan Nyi Ratapi. Mereka dilumat sekejap oleh ular selendang raksasa. Waras melihat darah muncrat ke sekitar.

Kalong Ireng yang terluka parah tak bisa sembuhkan diri, melihat itu semua dengan ngeri. Dia pun bingung, apakah dia telah berhasil mengirim racun ke inti Astacakra atau malah membuatnya semakin sadar.

Kalong Ireng berupaya membangkitkan kembali Bala Halimunnya tapi tak berhasil. Dia sudah terlampau terluka. Darah hitamnya membuat tanah sekitarnya berasap.

Tak lama setelah kematian Ki Jugo dan Nyi Ratapi, perlahan-lahan guru-guru siluman padepokan bangkit. Mereka menyadari mahaguru telah dibunuh oleh Sonya. Mereka hendak balaskan dendam. Sonya diserbu oleh sekumpulan binatang. Sonya ambil kuda-kuda, dia mengumpulkan bola energi di sekitar perutnya, lalu mendorongnya ke depan. Bola energi itu berpendarkan lembayung, menggilas sekumpulan binatang dan menelannya ke dalam pusaran bola. Semakin lama bola itu menyusut, begitu pula dengan yang ada di dalamnya. Terjadi ledakan darah ketika bola itu lenyap tak bersisa. Kalong Ireng tak percaya, jurus apa itu? Inikah yang disebut anak siluman campuran begitu berbahaya? Sebab tidak pernah diketahui, dia berada di pihak mana?

Wisana sebenarnya sudah sadar sedari tadi, hanya saja dia memilih aman. Dia tidak ingin mati konyol dibunuh Sonya. Dia menyaksikan itu semua. Kini Sonya terbang dan merentangkan tangannya. Angin berpusar mengelilinginya.

Wisana melihat Waras, si penyusup. Dia yakin itu orang yang telah mencuri roh Wati dan merasuk ke dalam. Wisana hendak memberi pelajaran!

Tapi sebelum itu terjadi, Wisana terseret oleh pusaran angin, begitu pula dengan murid-murid padepokan lainnya. Semua terseret pusaran angin.

Di udara, Waras melihat semacam pertunjukkan tarian yang melibatkan angin puting beliung. Murid-murid padepokan berputar-putar mengelilingi Sonya dengan pose tegak. Ada semacam petir yang merambat di dinding angin puting beliung itu. Rambatan petir berwarnakan lembayung itu menembus setiap tubuh murid padepokan termasuk Wisana. Dari mata pusaran angin, muncul asap kehijauan, membumbung menjadi sebentuk jamur raksasa. Sonya melesat semakin tinggi ke atas.

Waras berlindung di balik pohon beringin. Sebab pusaran angin yang begitu kencang itu menghancurkan setiap bangungan di padepokan. Makam porak poranda. Jasad Eyang Dayadigda terlempar jauh. "Edan!" seru Waras.

Waras tidak tahu apa yang terjadi. Apa yang diperbuat Sonya terhadap murid-murid padepokan?

Waras mencari keberadaan Kalong Ireng, tapi dia tidak menemukannya. Dia pasti sudah kabur.

Berangsur-angsur gemuruh angin mendekati badai itu menghilang. Sonya turun bersama dengan murid-murid padepokan. Mereka menjejak mantap ke tanah, di atas puing-puing reruntuhan padepokan.

Sonya membuat tombak dari selendangnya dan dia lesatkan ke salah satu murid. Tombak itu tertancap di perutnya, tapi dengan mudah murid itu mencabut tombak dan lukanya langsung sembuh.

Waras membelalak. "Pancasona!"

Itu artinya, Sonya menyelesaikan yang menjadi tujuan semua murid padepokan ini. Waras melihat salah satu murid dengan mudah berubah jadi hewan.

Murid-murid itu berbaris di depan Sonya, semuanya menjatuhkan diri berlutut. Sonya merentangkan tangan, matanya benderang lembayung. Waras menyaksikan sambil sembunyi. Sudah tak mungkin baginya untuk mengarahkan lagi Sonya jalan mana yang mesti ditempuh. Anak siluman berdarah campuran itu sudah menemukan jalannya sendiri.

Di atas mereka semua, muncul semacam portal dengan pinggiran berupa awan lembayung. Turun perlahan-lahan menelan mereka semua. Zap! Lenyap dari pandangan.

Waras mendesah panjang, kecewa pada dirinya, dia tidak tahu ke mana Sonya lenyap bersama murid-murid padepokan.

"Apakah aku berhasil, apakah aku gagal?" Waras terlalu lemah untuk memikirkan itu lebih lanjut. Segenap jiwa raganya luluh lantak.

ASTACAKRA #5 PANCA SONYACerita yang bikin terobses. Temukan sekarang