Bagi anak perempuan, kasih sayang seorang Ayah tidak akan pernah bisa tergantikan oleh sosok lelaki lainnya.
🕊️🕊️🕊️
Happy Reading
Key terbangun dari tidurnya dan langsung turun untuk pergi ke dapur mengambil air putih sekedar menghilangkan rasa hausnya. Padahal dia sudah masuk ke alam mimpi.
Saat Key selesai dari dapur dan ingin kembali masuk ke kamarnya lagi, langkahnya terhenti ketika melihat Ayahnya yang belum terlelap dan duduk sendirian di bangku taman rumahnya.
Padahal jam sudah menunjukkan pukul 12 malam. Biasanya Ayahnya paling tidak bisa tidur dengan waktu semalam ini. Tidak berfikir untuk kedua kalinya, Key langsung menghampiri Ayahnya dan duduk di sebelah Ayahnya.
Ayahnya langsung terlonjat kaget ketika tiba-tiba sang putri duduk di sampingnya. Sebelum duduk sendirian di taman rumah, Dito sempat melihat kamar Key dan ternyata anaknya sudah tidur.
"Kamu ini ngangetin Ayah, aja." Dito langsung menyuruh Key agar duduk lebih mendekat.
"Ayah kok belum tidur, sih? Udah malam. Terus ngapain Ayah malam-malam gini masih di luar? Angin malam itu enggak bagus untuk kesehatan Ayah, tau!" gerutu Key kepada Ayahnya.
Bukannya membalas perkataan putrinya, Dito malah menarik tubuh Key dan memeluk putrinya yang paling dia cintai.
Key membalas pelukan sang Ayah dan meletakkan kepalanya di dada bidang sang Ayah mencari posisi yang paling nyaman. Dekapan ini sangat dia rindukan dari dulu.
"Seharusnya Ayah yang nanya ke kamu. Kamu tadi udah tidur kenapa malah sekarang bangun dan duduk di sini?" tanya Ayahnya. Dito mengelus rambut panjang putrinya dengan rasa sayang.
"Tadi Key kehausan. Terus Key turun ke dapur untuk minum. Waktu Key mau naik ke atas lagi, eh, Key liat Ayah di sini. Yaudah, deh Key nyamperin Ayah," jawabnya.
Ayahnya terkekeh kecil. "Kalo Ayah jadi kamu, Ayah bakalan lanjutin tidurnya," ucap Dito.
"Masalahnya Key enggak bisa jadi Ayah."
Malam ini bintang-bintang di langit malam sangat indah. Cahayanya sangat bersinar jelas. Membuat siapa saja yang melihatnya akan takjub melihat ciptaan Tuhan yang amat begitu indah.
"Ayah enggak pernah nyangka kalo kamu bakalan sebesar ini." Dito membuka suaranya tiba-tiba.
Key hanya diam mendengarkan menunggu kelanjutan perkataan dari sang Ayah.
"Walaupun umur kamu udah tua, kamu tetap masih terlihat anak-anak di mata Ayah," ucapnya penuh makna.
"Key juga enggak mau dianggap udah dewasa sama Mama sama Ayah," jawab Key.
"Loh, kenapa, gitu?" tanya Dito bingung dengan jawaban sang putri.
"Karena nanti kalo Key udah dewasa, Key enggak bisa manja-manja lagi sama Ayah sama Mama."
"Kata siapa enggak bisa? Bisa. Tapi kalo kamu udah nikah baru enggak bisa lagi manja-manja sama Ayah sama Mama," jawab Ayahnya.
"Kenapa harus nunggu Key nikah?" tanya Key bingung.
"Yah, nanti kalo kamu manja-manja sama Ayah, suami kamu cemburu, dong," jawab Dito asal.
Dito terkekeh sendiri mendengar jawaban yang diutarakannya. Pada nyatanya melepaskan putri kesayangan kepada orang lain sangat menyakitkan. Tapi, itulah hidup. Suatu saat Dito harus merelakan putrinya untuk hidup bersama lelaki pilihannya.
"Ish, Ayah kok gitu? Kalo suami Key cemburu sama Ayah mertuanya sendiri, dia bakalan Key suruh tidur di luar!" ucap Key dengan kesal.
"Iyah, kamu sekarang bisa bilang gitu. Nanti kalo kamu udah nikah, pasti kamu enggak tega suruh suami kamu tidur di luar. Percaya sama Ayah."
Dito menjadi ingat dengan kejadian dulu di saat Mama Key menyuruh dirinya tidur di luar. Dito pun tidur di sofa ruang tamu. Namun, belum ada 15 menit, istrinya itu menjemputnya dan menyuruhnya untuk balik ke kamar mereka.
"Pokoknya Ayah sehat-sehat, ya. Sampai bisa liat Key jadi ibu di masa depan. Sampek liat Key jadi wanita yang sukses di masa depan," pinta Key kepada Ayahnya.
"Ayah Janji akan terus jaga kesehatan Ayah. Biar bisa liat putri kesayangan Ayah jadi ibu di masa depan," jawab Ayahnya tulus.
"Key pegang janji Ayah, ya."
"Iya, sayang."
"Jadi, sekarang udah ada calon menantu yang bisa di kenalin ke Ayah belum?" tanya Ayahnya tiba-tiba.
"Hah? Apasih, Yah. Ayah mah ih buat Key malu," jawab Key tersipu malu.
"Kalo malu, berarti udah ada, dong?"
"Belum Ayah. Key belum ada pacar," ucapnya.
"Kan, Ayah enggak nanya pacar."
"Tadi Ayah bilang calon menantu, yaudah pacar dong namanya," ucap Key polos.
"Zaman sekarang yang pacaran belum tentu dia jodohnya di masa depan nanti."
Key terkesiap mendengar jawaban dari sang Ayah. Sejak kapan Ayahnya pandai berpuitis seperti itu?
"Woww!!! Takjub Key sama Ayah. Bangga Key punya orang tua yang puitis kayak gini." Key bertepuk tangan seolah-olah apa yang di katakan oleh Ayahnya hal yang harus di berikan apresiasi.
"Kamu ini ada-ada, aja." jawab Ayahnya dan sedikit tertawa melihat putrinya itu.
"Tapi benar yang Ayah bilang. Pacar belum tentu jadi suami di masa depan."
"Hush! Udah-udah kok malah kamu benarkan."
"Kan, memang benar Ayah.!"
"Pokoknya kalo kamu dekat sama seseorang, Ayah siap dengerin curhatan kamu kapan aja. Kalo orang itu macam-macam sama kamu, Ayah orang pertama yang maju duluan." Dito sudah seperti menjadi pahlawan untuk anaknya.
"Udah kayak pahlawan kesiangan Ayah, deh!"
"Ayah kan memang pahlawan kamu, Key. Kamu enggak ngakuin Ayah kamu ini, pahlawan kamu? Hah?!" sahut Ayahnya seakan-akan ngambek kepada Key.
"Ahhh, sini-sini Key peluk," jawab Key dan langsung memeluk Ayahnya. "Ya, jelas, dong. Ayah itu pahlawan pertama Key yang harus Key jaga seumur hidup Key."
"Kamu juga putri pertama yang harus Ayah jaga di dunia."
"Key atau Mama?" goda Key sengaja sambil menarik turunkan alisnya.
"Kamu dong. Mama kan udah Ayah jaga dari dulu. Sekarang gantian kamu yang Ayah jaga sebisa Ayah."
"Berarti Mama udah enggak perlu Ayah jagain lagi?" tanya Key masih bingung.
"Yah, masihlah! Kalian berdua wanita yang harus Ayah dan Alvaro jaga. Kalian berdua enggak boleh sedih ataupun terluka sedikitpun. Kalo ada perbuatan Ayah yang buat kamu terluka atau sakit hati, kamu bilang ke Ayah, ya. Biar Ayah perbaiki sikap Ayah. Pokoknya bidadari-bidadari Ayah enggak boleh sampek sedih. Kalian berdua harus bahagia selalu." Ayahnya mengucapkan kalimat sepanjang itu dengan pandangan menerawang menatatap bintang-bintang di langit.
Key yang mendengarnya merasakan kehangatan dari kasih sayang seorang Ayah yang tulus. Dia terharu dengan apa yang di katakan oleh Ayahnya. Setelah penantian panjang yang harus dia hadapi untuk menunggu kepulangan sang Ayah, akhirnya dia dan Ayahnya bisa berbincang-bincang dengan puas seperti malam ini.
Continue!
Akhirnya hari ini bisa update kembali. Terus suka sama karya-karya aku. Selalu enggak pernah bosen untuk bilang terimakasih ke kalian semua yang udah baca cerita ini.
Jangan lupa vote dan commentnya. Selagi gratis kok:( Doain terus semoga author nulisnya lancar.
Maaf banget kalo belakangan ini sering telat update:") soalnya tugas menumpuk terus. Tapi aku usahain untuk buat cerita ini sampai tamat nantinya. Kalian doain aku semua yah.
Jaga kesehatan untuk kalian semua. Semoga semuanya lekas pulih kembali.
See you!🕊️
Salam
Author
KAMU SEDANG MEMBACA
Keysheva
Roman pour AdolescentsKeysheva Aldis.Gadis yang mempunyai sifat yang selalu ceria dalam kondisi apapun.Namun di balik sifat ceria nya ada kesedihan yang tersembunyi tanpa orang lain tau.Sekalipun itu sahabat nya sendiri. Hingga ia jatuh hati kepada seorang lelaki yang b...
