Cerita itu mengalir begitu saja dari bibir Mina. Tentang hubungannya sesungguhnya dengan Pak Dipta, soal rahasia keluarga yang selama ini dia sembunyikan rapat-rapat.
Kedua orang tua mereka bercerai karena kekerasan dalam rumah tangga yang dilakukan oleh Ayah Dipta kepada mereka semua, lantas demi menyelamatkan Ibu serta adiknya, Dipta terpaksa memukul kepala Ayahnya dengan vas bunga. Beruntung kecelakaan itu tidak membuat Dipta di Penjara karena terhitung sebagai kasus pembelaan diri.
Namun setelahnya Dipta sempat menghilang setahun, sementara Mina tinggal bersama Ibunya, pulang ke rumah warisan Kakek dan Nenek mereka di Jogja. Saat Dipta kembali menemui Ibu dan adik perempuannya, itu justru di hari pemakaman Ibu mereka. Sang Ibu rupanya menderita kanker paru-paru stadium akhir dan sudah sangat terlambat mengetahuinya. Semenjak itu Dipta bekerja keras dan menjaga Mina dari kejauhan.
"Kakakku punya banyak sekali musuh, entah apa yang sudah dia lakukan selama setahun tersebut, dia bahkan nggak mau menceritakan detailnya padaku. Namun Kak Dipta takut kalau orang lain tahu soal hubungan kami, hal buruk bakal terjadi sama aku" kata Mina. Meletakkan kedua tangan di atas pagar pembatas besi.
Kami sedang berada di teras balkon lantai dua bungalow tempat kami menginap.
Angin dingin meniup serta menerbangkan rambut panjangnya. Sepasang netra indahnya tampak memandang jauh ke depan. Tubuhnya sekarang memang di sini, akan tetapi aku tahu pikirannya berkelana ke berbagai tempat. Salah satunya, mungkin masa lalu.
Dari samping tempatku berdiri, dia terlihat begitu mempesona. Sangat cantik.
"Kami berdua memang sangat dekat, tapi juga terasa jauh" ujarnya lagi.
"Semua keluarga juga seperti itu. Tapi yang terpenting, pada akhirnya kalian akan selalu ada untuk satu sama lain saat membutuhkan bukan?".
Mina tertegun. Menolehkan leher ke sisi kiri. Memandangku.
"Maaf sudah membuat kamu dan semua orang salah paham, tapi aku sendiri juga takut dibilang bisa mendapatkan jabatan ini karena KKN" kata Mina jujur.
Aku membalikkan badan ke depan. Melemparkan tatapan pada hamparan pemandangan di hadapanku, yang entah kenapa, malam itu bisa membuat hatiku hangat. Padahal suhu semakin naik.
"Sejujurnya itu hak mu untuk menyembunyikan rahasia kalian, tak ada satupun boleh menghakimi orang lain seenak itu. Meski ya, tindakan kalian bisa membuat banyak orang salah pengertian. Termasuk aku".
"Iya, makanya tadi aku kan sudah minta ma.....".
"Aku cemburu".
Kalimat itu meluncur begitu saja dari bibirku.
Melirik dari sudut netraku, Mina tampak membeku. Terkejut. Menatapku dengan ekspresi tak percaya dari tempatnya berdiri.
Mulutku kembali membuka, kuputuskan untuk menyuarakan isi pikiranku malam ini.
"Aku cemburu karena melihat kamu dan Dipta begitu bahagia saat bersama. Aku juga kesal ketika kupikir kalian menyembunyikan rahasia yang hanya kalian tahu. Aku bisa menjadi begitu kekanakan meski aku sendiri nggak mau merasakan hal seperti ini".
"Degha....".
"Aku suka sama kamu Mina....bukan..." menggelengkan kepala. Buru-buru ku ralat sembari memiringkan badan ke sisi kanan, mendekatinya. Mengurangi jarak di antara kami.
"Aku jatuh cinta sama kamu Mina. Entah sejak kapan, aku sendiri juga nggak paham. Tapi cuma kamu yang bisa membuatku merasa sebingung ini. Aku jengkel setiap kali melihatmu sedih atau tertekan. Aku marah secara mendadak hanya karena mendapatimu senyum-senyum pada Pak Dipta atau bahkan Artis blasteran itu. Dan rasanya, aku selalu ingin memelukmu jika kamu menangis. Seperti sekarang".
Ucapku jujur. Menatap tepat di depan wajahnya. Mengunci pandangan matanya hingga dia bisa melihat pantulan wajahnya sendiri di dalam kedua pupil ku.
Lalu. Aku menunggu.
Menunggu Mina bereaksi atau mengatakan sesuatu.
Cukup lama hingga akhirnya dia mendesah, sangat panjang, raut wajahnya mendadak terlihat lelah.
"Degha tolong aku nggak bisa....".
"Aku akan menunggu. Sampai kamu benar-benar siap, aku bakal terus menanti".
"Degha jangan seperti ini, itu sama saja menyakiti dirimu sendiri".
"Oh ya? Kok aku nggak merasa demikian ya?".
Rasanya aku mau tertawa melihat ekspresi kaget di kedua mata Mina. Dia pasti tak bakal menyangka kalau aku akan segigih ini.
"Aku nggak akan memaksamu untuk menerima perasaanku, tapi tolong setidaknya pikirkan baik-baik semua itu. Dan tolong, jangan membuat keputusan hanya berdasar kata 'Ini yang terbaik buat mu' . Aku butuh kejujuran mu Mina, bukan sikap demokratis mu".
Mina semakin membisu.
Baiklah, aku sendiri bingung dari mana asalnya semua kata-kata bijaksana ini. Tapi yang jelas, setiap kali aku bersama Mina, secara ajaib diriku bisa berubah menjadi sosok lebih benar serta yakin pada apa yang kuinginkan.
Membasahi bibir bawahnya, Mina akhirnya menunduk sambil memandangi kakinya sendiri.
"Berikan aku waktu dua minggu untuk berpikir" tukasnya.
Tersenyum, aku menjawab. "Setahun juga bakal kutunggu".
Toh, aku memang sudah menunggunya lebih lama dari dua minggu.
Bahu Mina bergetar, dia mengangkat wajah lalu tertawa. "Kamu selalu tahu bagaimana cara mencairkan suasana ya".
Bibirku tertarik membentuk senyum simpul. "Aku rasa kamu juga nggak suka sama tipe lelaki kering dan dingin-dingin aneh yang suka jadi karakter utama kisah fiksi kan?".
Tawanya meledak seketika. Saat melakukan itu, Mina sangat cantik.
Sebuah dorongan membuatku memutuskan jarak diantara kami. Mengulurkan kedua tanganku, meletakkannya lembut di atas bahunya lalu menariknya ke dalam pelukanku.
Mina langsung terdiam, rasanya dia mati kutu atas tindakan impulsif ku barusan.
"Berjanjilah padaku, apapun keputusanmu nanti, jangan membohongi dirimu sendiri" berbicara di atas kepalanya, lalu dengan berani satu tanganku mengelus lembut rambut indahnya.
Butuh waktu beberapa saat hingga Mina menganggukkan kepalanya sebagai tanda persetujuan.
Aku tersenyum. Merasa senang sebab Mina tidak mendorongku untuk menjauh darinya. Meski dia masih belum membalas pelukanku, namun bukan masalah bagiku.
Kami terus berpelukan seperti ini sampai beberapa waktu. Ketika akhirnya saling melepaskan diri, Mina bahkan tidak terlihat kikuk sama sekali. Dia berkata kalau sangat lelah dan ingin tidur lebih awal. Aku mengangguk lantas mengantarkannya hingga ke depan kamarnya.
"Aku masuk duluan ya" kata Mina.
Entah kenapa, melalui sorot netranya aku merasa dia tidak mau berpisah dariku. Seakan, dia ingin kami menghabiskan waktu lebih lama.
Aku mengangguk, mengulas senyum tipis. Dia juga tersenyum, tapi sedikit kaku. Memunggungi ku sesaat sebelum akhirnya membuka kunci pintu kamarnya dan buru-buru masuk ke dalamnya.
Aku berdiri cukup lama sambil menatap benda persegi berbahan kayu warna coklat muda di hadapanku seraya menghela nafas pelan. Satu tanganku menekan dada.
Tanpa Mina tahu. Sejujurnya dari tadi jantungku bertalu-talu kencang sekali.
Menyatakan cinta memang selalu membutuhkan keberanian besar. Lebih dari yang bisa kamu pikirkan.
*******************************
Huaa maaaf ya akhirnya saya baru bisa lanjut post cerita ini sekarang. Mianhae. Pelan2 cerita ini akan saya selesaikan. Dan harus bisa tamat sebelum akhir tahun! Fighting! 🤣🙈.
Terima kasih banyak atas dukungan kalian buat cerita ini. Jangan lupa tinggalin jejak ya berupa vomment. Follow juga bagi yang belum .
Warm & Regards.
KAMU SEDANG MEMBACA
(COMPLETED!) FIXING ME.
RomanceKepergian Kamina Praninda'Mina'(22) dari kota asalnya ke Jakarta pada awalnya adalah untuk menghapus rasa sakit hati atas cinta sekaligus mengejar mimpi dan cita-citanya. Namun kehadiran Degha Afanjaya (27) playboy kelas paus yang dengan terang-te...
