Saat kami semua tiba di area outbound, Han Daniel dan Manajernya telah sampai lebih dulu. Kami masing-masing dibagi dalam satu tim dan diberi 1 bungalow. Setiap tim terdiri dari 10 orang, 5 laki-laki dan 5 perempuan. Penempatan tim dipilih secara acak.
Seakan semesta ikut berkonspirasi. Aku, Diksya, dan Degha berada di tim yang sama. Tapi tak hanya itu, nama Daniel juga ikut muncul. Awalnya kupikir Daniel bakal menolak dan memilih satu bungalow sendiri untuknya, tapi alih-alih, dia tak keberatan sama sekali.
Bisa kulihat dari kejauhan, Kak Dipta tampak kesal setengah mati. Tapi dia tak bisa memprotes, karena pengaturan ini juga berasal dari idenya.
Setelah semua orang terbagi dalam tim, kami diberikan rundown acara. Diberi kesempatan untuk beristirahat lebih dulu. Nanti malam kami akan berkumpul di lapangan tengah. Sambil makan malam kemudian mengikuti serangkaian acara games yang telah disediakan panitia.
Bungalowku terletak di nomor 08. Bangunannya terbuat dari kayu jati dengan nuansa etnik tradisional. Memiliki 4 kamar tidur, dua atas dan sisanya dibawah. 2 Kamar mandi luar. Satu ruang makan. Satu ruang tamu. Satu ruang keluarga. Dan ada ruang rekreasi sekaligus balkon di lantai dua.
Anak perempuan di timku yang lain bernama Eka, Ira dan Sita. Ketiganya berasal dari dua Divisi berbeda. Eka bagian Marketing. Ira dan Sita staff HRD. Namun dengan cepat kami langsung akrab.
Kemudian setelah memutuskan secara adil memakai koin. Para perempuan mendapatkan kamar di lantai dua, sedangkan yang laki-laki di bawah. Karena Diksya cuma ingin sekamar denganku saja, maka kami memilih ruangan lebih kecil.
Semua berjalan dengan lancar. Sampai....
"Daniel, mau sekamar denganku"
Seketika aku menoleh saat mendengar Degha melontarkan pertanyaan itu pada Daniel. Yang entah kenapa, sejak tadi memilih diam dan hanya berbicara sesekali.
"Tentu. Pasti menyenangkan" jawabnya sambil mengulum senyum.
"Wah, nggak adil nih. Masa yang ganteng-ganteng di tim kita sekamar sih. Ntar niat saya kecipratan jadi cakep bisa batal" guyon Mas Bagus. Salah seorang Kameramen program Lintas Malam.
"Elu aja kali yang ngerasa ga cakep. Kalau saya mah, keren-keren aja" Wahyu, si penata musik menyahut.
Pria bertubuh tinggi kurus itu dengan bangganya menunjuk diri sendiri.
Membuat kami semua seketika terkekeh.
Tapi ada satu orang lagi di tim kami yang justru berlalu begitu saja.
Namanya Dalfin Santoso. Seumuran denganku dan Diksya. Dia memang baru di Kantor kami, ada sekitar sebulan, namun kinerjanya sebagai seorang Program Director patut diacungi jempol. Kehadiran Dalfin di NI-TV seketika menyita perhatian semua orang, terutama para kaum hawa.
Kalau julukan Degha dulu playboy kelas paus, maka panggilan untuk Dalfin adalah. Freezer berjalan.
Dalfin tipikal manusia superior complex. Banyak juga yang mengatakan dia adalah Kak Dipta versi masih muda.
Bahkan Diksya mengaku jengkel. Karena setiap ada pria tampan di kantor kami, kalau bukan tipe playboy (seperti Degha). Ya tipe menyebalkan, seperti Dalfin.
Diksya sudah beberapa kali beradu mulut dengan Dalfin perkara perkerjaan. Diksya bilang kalau pria itu hanya bermaksud menyusahkan hidupnya saja. Namun sejujurnya, melalui kacamata objektifku, kadang, Diksya lah yang tidak bisa bersikap netral.
KAMU SEDANG MEMBACA
(COMPLETED!) FIXING ME.
Storie d'amoreKepergian Kamina Praninda'Mina'(22) dari kota asalnya ke Jakarta pada awalnya adalah untuk menghapus rasa sakit hati atas cinta sekaligus mengejar mimpi dan cita-citanya. Namun kehadiran Degha Afanjaya (27) playboy kelas paus yang dengan terang-te...
