"Sampai akhirnya aku menyadari sekarang, bahwa hal itu tak ada apa-apanya dibandingkan hal-hal yang kualami setelahnya."
✈✈✈
Pagi ini Ibu tidak menyiapkan sarapan. Dia hanya duduk di meja makan yang kosong dan memintaku menemaninya duduk di bangku seberang. Aku menghela napas tak ingin berargumen sepagi ini. Semenjak kejadian itu, aku merasa malu pada diriku sendiri dan muak melihat Ibu.
Ibu melipat kedua tangannya di depan dada dalam raut wajah bersalah yang tengah ia usahakan bahwa sebenarnya dia tidak bersalah. Ibu selalu begitu. Selalu begitu.
"Sepertinya kau tidak mau lagi bicara dengan Ibu." Aku baru menyadari Ibu mengapit sebatang rokok di jari-jarinya ketika ia menghisap rokok itu. "Kita harus selesaikan semua ini."
Aku membuang muka. "Tidak harus dijelaskan. Ibu sudah mengakuinya."
"Secara teknis Ibu tidak melakukannya."
"Tidak melakukannya? Ibu bahkan tidur dengan manager Ibu sendiri."
"Kau tak tahu apa-apa tentang itu, Cheryl. Tak tahu apa-apa." Menyebalkan ketika Ibu mulai menunjukan dominasinya dengan meninggikan suara.
"Aku tahu."
Ibu menggeleng dan mengatakan kalau aku tidak mengerti apa yang terjadi sebenarnya. "Berhenti memikirkan hal ini karena ini urusan Ibu. Tidak perlu diambil pusing ...,"
"Ibu pelacur."
Kalimat itu meluncur mulus dari mulutku dan itu berhasil menghentikan dominasi suara tinggi dan cepat Ibu yang terdengar seperti teriakan. Wanita itu menatapku tajam dengan sorot mata penuh ketidakpercayaan.
"Well, perkataan itu terdengar sangat kasar untuk sesama wanita." Suara Ibu sedikit bergetar meski masih terdengar sok kuat.
"Tidak, karena Ibu memang seperti itu."
"Ibu seperti itu karena Ibu bertanggung jawab memenuhi kebutuhanmu."
"Owh seolah-olah semua ini karenaku dan aku yang bersalah karena Ibu tidur dengan dua atau tiga laki-laki berbeda setiap malamnya." Aku hampir meninggikan suaraku sama seperti Ibu. Mataku terasa panas dan dadaku mulai sesak.
"Ya. Salahkan semuanya padaku karena bercinta untuk mendapatkan uang. Salahkan semuanya karena jika tidak demikian, kita akan merangkak di trotoar, mencari Ayah sialanmu dan memohon untuk mendapatkan kembali kehidupan tolol yang dulu aku rasakan!!" teriaknya lalu membanting asbak ke atas meja sehinggga abu rokok melayang di udara dengan begitu indah. Untuk sesaat.
Aku menggigit bibir dan mengangguk pelan. "Seolah semuanya menjadi diwajarkan. Orang mencuri karena terpaksa menjadi wajar, orang menipu karena terpaksa menjadi wajar. Ibu menganggapku bangga mempunyai seorang Ibu pelacur?"
"Baik. Terserahlah padamu, Cheryl." Ibu mendorong meja kemudian kembali bersedekap tak terima. "Kau perempuan suci, jadinya menurutmu dunia adalah tempat semua orang mendapatkan kehidupan yang layak. Mencari kerja, melamar kerja, lalu diterima. Menikah, punya anak, lalu bahagia. Sekolah, jadi tidak berguna, dan mencapai kesuksesan." Hampir tak kupercayai, mata kiri Ibu mengeluarkan air mata. Ini kali pertama setelah perceraian mereka.
Perempuan itu masih bersedekap, memalingkan wajah dalam sikap sok kuat itu. Aku hampir saja mengasihaninya.
"Bagaimana jika Ibu hamil? Ibu menggugurkan bayi haram Ibu?" Aku tidak akan terjebak dalam drama Ibu dengan air mata langka itu.
Seketika Ibu menoleh dengan tatapan tajam. "Tidak, karena kau juga anak haram."
Aku terkekeh. "Secara teknis Emily lebih dulu lahir dariku."
KAMU SEDANG MEMBACA
Emily's Clue [TAMAT]
Teen Fiction🏅Runner Up Shana Writing Comp 2021 Kategori Secret 🏅3rd Place ODOC The WWG 2020 Ketika kehilangan sang Kakak, Emily, akibat perceraian orang tua, hidup Cheryl serasa berhenti sepihak. Tak ada perkembangan dalam dirinya. Dia seperti gadis mati yang...
![Emily's Clue [TAMAT]](https://img.wattpad.com/cover/218115154-64-k400598.jpg)