"Aku juga ingin merasa hidup."
✈✈✈
Sore-sore buta, Ibu menelepon dan menyuruhku ke suatu tempat yang sama sekali tak pernah kusinggahi. Tempatnya terlihat kumuh dan ini merupakan desa yang amat jauh dari kota. Aku tak habis pikir apa lagi yang dilakukan Ibu dan mengapa kali ini harus melibatkanku. Bukankah dia punya seluruh laki-laki yang dapat ia ajak kemana saja?
Titik temunya ada di rumah paling pojok bercat kuning pudar yang hampir tak terlihat kuningnya lagi, di dekat pohon seri dan rumpun asoka.
Mengejutkannya, di sana terdapat banyak perempuan yang duduk di luar dalam kondisi yang diam dan aura yang mencekam. "Tempat apa ini?" tanyaku tanpa berkedip tatkala Ibu berjalan mendekatiku.
"Ayo kita pulang." Ibu menarik tanganku dan aku baru menyadari jika dia berjalan tertatih-tatih.
"Ibu, Ibu tadi dari mana? Itu tempat apa?" Aku berusaha menahan dengan mata yang tak dapat terlepas dari rumah itu. "Sebenarnya ini di mana?"
"Itu tidak penting, Cheryl." Ibu terlihat kesakitan dan aku tak mengerti apa sebab dan akibatnya. "Sekarang antar Ibu pulang." Ibu menitik beratkan beban tubuhnya padaku. Aku berusaha menopangnya.
"Di mana pacar-pacar ibu?"
"Diam. Ibu sedang tidak mau bicara."
Aku menggeram melihatnya. "Lagipula tidak ada laki-laki yang mau serius dengan perempuan gak bener."
"Kau ini ngomong apa, hah?" Ibu mendorongku seketika, setelahnya kembali mendekatiku dan menamparku begitu saja.
Dapat kurasakan pipi kananku yang begitu panas dan sakit.
"Akui saja kalau itu tempat prostitusimu yang baru!! Ibu tidak puas digunjingi tetangga komplek? Ibu mau jadi cemoohan orang-orang desa ini juga, hah?" teriakku yang beruntungnya kami masih di jalanan yang tidak ramai orang ataupun perumahan.
Ibu menatapku tajam dengan napas yang terengah-engah. "Aku tidak berkerja di situ. Aku masih bekerja di tempat biasa."
"Tapi sama saja, kan? Tetap jadi perempuan murahan seperti itu."
Seketika Ibu mendorongku. "Sekali lagi kau berteriak seperti itu, aku akan mengusirmu dari rumah!"
"Terserah!!" Aku berlalu meninggalkan Ibu sampai kemudian dia memanggil-manggil namaku kembali.
"Aku memanggilmu ke sini untuk membantuku pulang. Kalau aku bisa berjalan sendiri, aku tidak akan susah-susah memanggilmu." Dia memaksaku untuk membantunya. Tapi anehnya, kakiku justru bergerak dan kembali menolongnya.
"Katakan itu tadi tempat apa?" tanyaku dingin dan mengancam. "Jika tidak, aku akan mendorong Ibu dan membiarkan Ibu berjalan pincang sampai ke rumah." Aku tahu jika ini merupakan hal yang tidak layak dilakukan. Hanya saja, dengan begini Ibu akan mengatakan hal jujur dari mulut pembohongnya itu.
"Ibu hanya bertemu teman lama."
Bahkan dalam keadaan sekarat seperti ini pun dia masih mau berbohong? "Aku beri Ibu satu kesempatan lagi sebelum aku benar-benar melakukannya."
"Baik!" Suara Ibu penuh penekanan. "Itu tempat aborsi."
Aku mematung seketika. Detak jantungku terasa berhenti dan napasku tersendat. Secara tanpa sadar, aku melepaskan tangan Ibu dari tubuhku. "Jadi ... Ibu sebenarnya hamil ... dan menggugurkannya?"
"Iya," jawabnya tanpa rasa bersalah.
"Iya? Hanya iya?" Napasku sesak dan mataku terasa panas. "Ibu tahu apa yang baru Ibu lakukan?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Emily's Clue [TAMAT]
Teen Fiction🏅Runner Up Shana Writing Comp 2021 Kategori Secret 🏅3rd Place ODOC The WWG 2020 Ketika kehilangan sang Kakak, Emily, akibat perceraian orang tua, hidup Cheryl serasa berhenti sepihak. Tak ada perkembangan dalam dirinya. Dia seperti gadis mati yang...
![Emily's Clue [TAMAT]](https://img.wattpad.com/cover/218115154-64-k400598.jpg)