"Tapi kadang kau butuh orang lain."
✈✈✈
Saat itu kami hanya mampu membeli satu es krim. Emily yang duduk di ayunan, menjilat es krim cokelat itu dengan senangnya. Aku berjongkok di depan Emily dengan tangan kiri memegang lidi yang menusuk-nusuk tanah. Pandanganku mendongak melihat bagaimana Emily menjilati es krim itu.
Setelah lima jilatan, Emily memberikan es krimnya padaku. Lalu dia hengkang dari ayunan dan duduk bersila di samping ayunannya. Aku berdiri dan menggantikan posisinya di ayunan taman balai seraya menjilati es krim. Setelah lima jilatan, aku memberikan es krimnya pada Emily. Begitupun seterusnya sampai es krimnya habis.
Setelahnya kami menontoni anak-anak di taman yang bermain dalam kelompok masing-masing. Kami tidak masuk kelompok manapun karena mereka mengasingkan kami. Atau mungkin kami yang mengasingkan diri.
"Cheryl tahu kan kalau Ayah sama Ibu mau cerai," ucap Emily di sampingku. Tangan kirinya mulai mendorong pelan ayunan di taman itu.
"Cerai itu berarti Ayah sama Ibu gak tinggal bareng lagi, kan?" Emily mengangguk atas pertanyaanku. "Kalau begitu Cheryl suka. Kalo Ayah gak tinggal sama kita lagi, kita gak bakal dijahatin lagi."
Emily tak merespon. Dia beku dan diam dengan tangan yang terus mengayunku. Aku menatapnya dan menanyakan mengapa, tetapi dia tetap bungkam. Matanya lurus menatap anak-anak yang tengah bermain dengan senangnya.
"Kakak tidak suka," ungkapnya kemudian.
Aku tidak mengerti mengapa Emily tidak menyukai perpisahan mereka, setidaknya Emily tidak akan dipukuli Ayah lagi meski Ibu kadang menghukum dengan hukuman menjijikan. Itu pemikiranku sampai katika Ayah pergi, Ayah ternyata membawa Emily bersamanya. Aku tidak tahu jika Emily akan dibawa pergi.
Tapi ketika pemikiranku sudah lebih dari sekadar anak tujuh tahunan, aku menyadari jika Emily saat itu diberikan pilihan untuk ikut dengan Ayah atau dengan Ibu. Aku seratus persen yakin jika saat itu Emily ingin ikut Ibu, hanya saja dia tahu dengan begitu aku akan pergi bersama Ayah, jadinya dia memutuskan untuk merelakan dirinya hidup bersama Ayah yang suka memukuli kami berdua.
Emily yang malang, atau lebih tepatnya Emily yang beruntung karena ikut dengan Ayah yang beriringan mengalami perubahan sementara aku tinggal bersama Ibu yang melankolik, bodoh, dan hebatnya dia seorang pelacur.
"Aku pulang." Aku membuka pintu rumah setelah perjalanan jauh dari rumah Emily. Rumahnya minimalis dan bagus. Tidak sebesar rumah lama kami yaitu rumahku saat ini, tapi setidaknya Ayah bukan seorang pelacur.
Emily tadi langsung memintaku pulang tanpa mengajakku untuk mampir terlebih dahulu. Mungkin lain kali karena sepertinya dia dapat memperkirakan aku yang bisa saja sampai di rumah sudah dalam suasana malam.
"Ibu?" Seketika aku berjalan pelan setelah mendengar erangan dan desahan aneh dari dalam. Tepatnya berasal dari kamar Ibu.
Semakin dekat dengan kamar Ibu, semakin jelas bunyi desahan tersebut. Aku mengernyit melihat baju perempuan dan laki-laki yang tanggal di sofa serta celana dalam dan boxer yang ada di depan pintu kamar Ibu yang terkunci. "Oh bagus." Aku berdecak dan membanting tas sekolahku ke pintu kamar itu.
Seketika suara desahan itu terhenti. "Teruslah bercinta dengan seluruh laki-laki di muka bumi ini!!!" Teriakku dengan kasar kemudian langsung naik ke tangga dan mengunci kamarku.
Kenapa Ibu selalu merusak semuanya. Dia bahkan merusak hari yang hebat ini. Pagi meyebalkan karena Ibu, malam menyebalkan karena Ibu. Rasanya seperti rumah ini benar-benar membuatku sesak.
KAMU SEDANG MEMBACA
Emily's Clue [TAMAT]
Novela Juvenil🏅Runner Up Shana Writing Comp 2021 Kategori Secret 🏅3rd Place ODOC The WWG 2020 Ketika kehilangan sang Kakak, Emily, akibat perceraian orang tua, hidup Cheryl serasa berhenti sepihak. Tak ada perkembangan dalam dirinya. Dia seperti gadis mati yang...
![Emily's Clue [TAMAT]](https://img.wattpad.com/cover/218115154-64-k400598.jpg)