Twenty Third Chapter

54 11 0
                                        

"Lagipula siapa yang akan memilih perempuan dengan keluarga kacau dan reputasi menyedihkan sepertiku."

✈✈✈

Namaku Emily Watson. Aku tinggal di daerah utara sebuah kota di Negara khatulistiwa. Sekarang aku sudah pindah. Hobiku menulis, tapi sekrang udah kurang minat. Aku tidak punya cita-cita, jika ada pasti gak akan tersampaikan. Aku pernah pengen jadi pilot tapi gak mungkin. Keluargaku bukan keluarga yang kaya dan aku sekarang hanya tinggal dengan Ayah.

Kuku jariku kugigit-gigit seraya membaca diary itu. Diary yang kutemukan di salah satu tumpukan berkas di laci nakas Emily. Buku ini lebih tipis dari yang sebelumnya karena banyak lembar sobekan dan ini yang mungkin sempat Emily maksudkan sebelumnya. Dia menulis Diary ketika SD sampai dengan SMP. Isinya tidak seperti buku yang kutemukan di bawah ranjang, tetapi lebih pada diary seperti umumnya.

Dan benar saja, tulisannya masih begitu kaku serta umum tentang kehidupannya. Mungkin ada satu atau dua bagian yang bisa kutemukan tentang Emily yang tidak kuketahui. Aku membalik halaman beberapa kali melangkahi tulisan-tulisan yang hanya kulihat sekilas jika hanya berisi hal yang kurang lebih sama.

Ketika Awan sudah semakin berubah, dia baru mengatakan kejujuran tentang Ayah. Dia tidak lagi ingin datang ke rumah. Katanya, yang ia lihat hanyalah kelam dan hitam putih. Tak ada yang istimewa, bahkan aku tidak berwarna.

"Apa-apaan ini?" Aku membalik lembaran kertas dan mengernyit bingung. Tanggalnya sekitar enam atau lima tahun yang lalu yang mengartikan waktu Emily masih SMP.

Dia bilang ingin punya kehidupan special. Aku pun begitu, tapi kehidupan yang kumiliki hanyalah monoton kecuali bagian Awan yang tahu tentang Ayah yang alkoholik. Dan itu memperburuk keadaan.

"Apa?" Kerutan di dahiku semakin bertambah. Sudah kuduga Ayah masih alkoholik. Eh tapi ... kalau ini sekitaran waktu Emily masih SMP, kemungkinannya Ayah saat itu memang belum berubah. Yap benar.

Aku membalik lembaran selanjutnya yang tinggal beberapa. Emily mungkin berhenti menulis diary sejak SMP karena kertas bukunya habis. Sekilas aku kembali membaca dan dahiku kembali mengernyit.

Aku pastinya malu jika Saturnus tahu tentang Ayah ...,

Wait! Bukankah Saturnus ia temui ketika sudah SMA? Itu berarti ....

Setiap hari dia tidak pernah menganggap keberadaanku dan itu kadang membuatku kesal. Aku mencoba bertahan dengan hubungan ini, hanya saja yang dia katakan tak lain dari sekadar mengungkit tentang kehidupan piatu yang tidak ada kata bahagianya.

Tok ... Tok ...Tok ...,

Aku menutup buku seketika dan menyembunyikannya di balik bantal ketika gedoran pintu terdengar begitu kuat. Kutekan dadaku dan lututku tertekuk, menatap takut pintu kamar yan sudah kukunci plus kuhadang daun pintunya menggunakan kursi.

"Cheryl ...," suara serak Ayah yang begitu menyayat membuatku menelan ludah. Ketika pulang ke rumah, aku memastikan keadaan sebelumnya jika Ayah belum pulang dan itu memberikan kesempatan bagiku untuk langsung mengunci kamar. Mulai saat ini, aku mungkin hanya membeli makanan di luar dan tak punya kesempatan untuk makan bersama Ayah lagi. Uangku semakin menipis, tapi aku akan mencoba bertahan sampai setidaknya aku siap jujur akan kebohonganku pada Emily.

"Cheryiiiiillll ...."

Detak jantungku bergemuruh hebat mendengar suara seraknya mulai melantur. Tak salah lagi, Ayah mabuk saat ini. Mataku menatap takut bayangan kakinya dari cahaya di celah bawah pintu.

Emily's Clue [TAMAT]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang