"Apa gunanya datang jika yang bisa dilakukan hanyalah menambah kesedihan menjadi lebih besar."
✈✈✈
Anak kecil itu berpipi merah, matanya tajam dan terlihat sedikit malu-malu. Sesekali dia mencuri pandang terhadapku yang mana itu membuatku ingin mencubit pipi merahnya saking gemasnya. Kulitnya putih bersih, mengenakan atribut sekolah yang nampaknya agak berbeda. Jelas dia terlihat dari anak orang kaya.
Aku sering memerhatikannya, terutama ketika Cheryl bersamaku dia menjadi lebih sering menangok ke arah kami.
Baru kusadari setelah beberapa waktu kalau dia tidak benar-benar pendiam. Dia terlhiat pandai bersosialisasi ketika bersama teman-temannya. Anak yang pintar, itu membuatku kadang tersenyum sendiri ketika melihatnya.
"Kakak ... Kakaknya Emily ya?" Aku sempat kaget karena pada satu waktu dia memberanikan diri datang padaku meski dengan ragu-ragu. Matanya tertunduk dan pipinya bersemu. Melihatnya demikian seperti aku melihat Cheryl yang sedang senang, ingin sekali aku memeluknya.
"Iya, memang kenapa? Kamu temannya ya?" jawabku seramah mungkin.
Dia diam agak lama sebelum kemudian menggeleng pelan. "Belum, tapi aku mau temenan sama Cheryl."
Ya ampun imut sekali. "Siapa namamu?"
"Sammy."
"Sammy, kenapa kamu tidak bicara langsung dengan Cheryl?"
Lagi. Laki-laki itu diam dengan waktu yang cukup lama. Lagipula kenapa aku menanyai hal sesulit itu sedangkan dia masih anak kelas satu SD. "Baiklah, Kakak akan beritahu kau apa saja tentang Cheryl kalau kamu mau."
Dia kemudian mengangguk sekali dan berterima kasih.
Setelahnya, dia semakin sering memerhatikan Cheryl dari kejauhan. Akupun sering memerhatikannya dan menyadari keberadaannya, akan tetapi Cheryl tidak. Ketika kutanya tentang Sammy, Cheryl tahu, tapi dia nampaknya tak tahu tentang Sammy yang seperti memeiliki ketertarikan lebih padanya.
Dan saat itu aku masih belum menyadari jika Cheryl memang kurang perhatian dalam lingkungan sekitar.
"Kau sudah berteman dengannya?" Tanyaku pada Sammy di lain waktu. Sammy tertunduk dan menggeleng.
"Tapi kau bicara dengannya, kan?"
"Sesekali," jawabnya seraya menatapku. "Kakak ... ini untuk Cheryl." Sammy menyelipkan sesuatu di tanganku. Aku tersenyum melihat penghapus Penny yang ia sematkan.
"Chalkzone? Ini kartun kesukaan Kakak."
Mata Sammy membulat. "Benarkah? Aku kira itu kartun kesukaan Cheryl soalnya aku pernah dengar dia bicara tentang Roodie Tabootie."
Aku terkesima karena dia bicaranya bisa selancar ini. "Yap, rata-rata kami menyukai hal-hal yang sama."
Setelahnya, Sammy sering menanyakan tentang apa yang kusukai karena sama dengan apa yang Cheryl sukai meski tidak sepenuhnya sama. Dan mengherankannya, Sammy semakin sering memberikan sesuatu padaku, barang-barang yang tidak pernah kumiliki sebelumnya karena rentang harga yang jauh berbeda.
Aku tentu ingin sekali memiliki barang-barang sebagus ini meski kadang merasa tak enak terus-terusan menerimanya dari Sammy. Hanya saja, semua barang ini hanya untuk Cheryl.
"Ayah pernah pukul di sini waktu Cheryl dapet sapu tangan dari Maryam." Cheryl menunjukkan lengannya yang sempat membiru kala itu. Itu saat-saat sebelum ia masuk sekolah.
"Kenapa jadinya gambaran itu disobek?" Tanyaku di perjalanan pulang sekolah.
Cheryl menggeleng. "Regina yang kasih."
KAMU SEDANG MEMBACA
Emily's Clue [TAMAT]
Ficção Adolescente🏅Runner Up Shana Writing Comp 2021 Kategori Secret 🏅3rd Place ODOC The WWG 2020 Ketika kehilangan sang Kakak, Emily, akibat perceraian orang tua, hidup Cheryl serasa berhenti sepihak. Tak ada perkembangan dalam dirinya. Dia seperti gadis mati yang...
![Emily's Clue [TAMAT]](https://img.wattpad.com/cover/218115154-64-k400598.jpg)