Thirteenth Chapter

78 16 0
                                        

"Ini Emily sedang ada kegiatan di udara, silakan tinggalkan pesan jika aku sudah kembali ke bumi lagi."

✈✈✈

"Hei, Ayah." Aku mengernyit ketika sampai rumah dan mendapati Ayah terpekur di atas sofa. "Aku kira Ayah berkerja hari ini."

Ayah melirikku sekilas dan kembali fokus pada televisi. "Hari ini Ayah tidak berkerja."

"Kenapa?" tanyaku seraya melepaskan sepatu dan kaus kaki. Ayah seketika merenggangkan tubuhnya sambil menguap. Ia bergumam tak jelas tapi aku dapat menangkap jika hari ini memang bukan jadwal Ayah berkerja.

"Terdengar ... aneh." Aku berjalan masuk ke rumah.

"Aneh kenapa?"

"Aneh. Perusahaan penerbitan biasanya sibuk di hari apapun."

Ayah terkekeh. "Mereka juga manusiawi, tidak semuanya dipaksakan berkerja dua puluh empat jam." Kami berdua tertawa setelahnya. Kemudian aku izin ke kamar untuk mengganti pakaian. Ketika aku menutup pintu, aku langsung menyandarkan tubuhku di belakangnya.

Dengan napas yang memburu dan menatap suasana kosong kamar Emily, aku kembali teringat akan kejadian di sekolah hari ini. Hari yang amat berat tentunya dan sampai sekarang aku belum berbicara apapun dengannya. Bahkan melihat batang hidungnya pun tidak padahal kami saling bersua kemarin untuk berjumpa hari ini.

Sebenarnya aku juga yang salah karena berusaha menghindarinya.

Apa yang dirasakan Emily saat ini? Apa kesannya terhadap pekerjaan kotor Ibu? Bagaimana perasaannya sekarang terhadap adik tidak tahu diri sepertiku?

Kira-kira, saat ini dia tengah menghabiskan waktunya di mana? Di rumah? Ranjang kamarku? Taman komplek?

Air mataku jatuh untuk kali ketiga hari ini. Kenapa rasanya begitu sakit dan menyiksa? Inikah yang mungkin pernah Ayah rasakan ketika berbohong pada Ibu? Atau Ibu yang berbohong padaku?

Aku berjongkok beberapa menit dalam sandaran pintu kamar itu. Ketika keadaanku terasa membaik, aku baru bangkit dan berinisiatif mulai merapikan barang-barang. Kemarin malam aku menghabiskan waktu dengan Ayah sampai-sampai melewatkan waktu mengemas koper.

Perlahan kubuka koperku dan menyusun baju untuk diletakkan di lemari kecil kamar Emily.

"Oh My God!" Aku terpaku seketika melihat keadaan lemari itu yang sangat intens. Pada bagian belakang pintu itu terdapat beberapa stiker dan dua buah foto. Yang satu fotoku dan Emily saat masih kecil, dan kedua foto Emily sendirian dengan seragam putih biru dengan latar gedung sekolahnya.

Senyumku mengembang seketika saat melihat foto-foto itu. Beberapa stiker lama gambar Kartun Digimon dan Ninja Hattori serta Sinchaan menempel beberapa. Di sisi belakang pintu lemari satunya lagi, penuh dengan catatan kertas notes. Sepertinya Emily belum melepaskannya ketika akan pindah kemarin.

Lemari ini seakan lemari yang Emily gunakan sepanjang hidupnya.

Aku melepas satu buah notes dan mengernyit membacanya. 'Sore satu-satunya kesempatan untuk popscale dan main.'

"Apa-apaan ini, Emily?" Aku tertawa geli melihat catatan lainnya.

'Terbang ke Utara dan melampauinya.'

"Dasar maniak langit." Aku kembali menempelkan notes itu. Tepat saat itu juga, satu notes lain jatuh. Aku membacanya sekilas dan justru setelahnya aku tertegun lama.

'15.00 PM Toko Roti Gobs Talk. 17.00 PM Istirahat. 20.00 PM Selesai. 20.30 Acara Malam, Lewat Pintu Belakang.

Sabtu dan Minggu ; Warung Mie Ayam sampai 17.00 PM. Toko Roti Gobs Talk 18.15 PM'

Emily's Clue [TAMAT]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang