Seventh Chapter

103 18 0
                                        

"Padahal hanya dua orang laki-laki, tapi itu menciptakan cerita yang seram."

✈✈✈

"Hai!" Aku mengulum senyum karena menyapa Emily cukup kencang dalam kondisi siswa yang tengah diam. Karena kesibukan persiapan masa depan, kelas dua belas jadi terlihat serius dan tidak berisik. Meski ini sudah jam pulang, beberapa dari mereka menetap di kelas dan belajar secara berkelompok. Sementara Emily menantang tas dan keluar kelas menemuiku.

"Ada apa?" Emily tersenyum. Aku menggeleng pelan dan ikut berjalan menuju tangga.

"Karena besok akhir pekan, aku mau mengajakmu main hari ini. Sampai sore."

"Main apa? Di mana?" Emily tertawa karena merasa hal ini terdengar kekanak-kanakkan. Aku pun ikut menertawai diriku sendiri.

"Aku tidak tahu di mana. Di sekolah saja mungkin." Kami berdua kembali terbahak dan akhirnya memilih duduk di bangku sekolah samping lapangan basket. Suasana sore tapi langit masih benderang dan biru memesona. Emily duduk dan mendongak cukup lama.

"Lihat. Stratokumulus." Tunjuknya seraya tersenyum padaku. Aku hanya mengidikkan bahu merasa kalau semua awan itu sama. Setelahnya kami sama-sama termenung menatap rombongan anak basket yang mendribel bola.

Meski masih terasa sedikit canggung, tapi sebenarnya banyak bahan yang ingin kubicarakan dengan Emily.

"Lihat. Anak laki-laki yang itu pasti idola sekolah." Tunjuk Emily secara tiba-tiba. Bibirku bertekuk masam tatkala yang dia tunjuk adalah Denny, teman Sam yang merupakan predator perempuan. "Ya ampun, yang itu ganteng banget."

Lengkungan di bibirku semakin ke bawah melihat Kak Dio yang ditunjuk selanjutnya. Ngomong-ngomong, ngapain Kak Dio gabung dengan anak kelas sepuluh. "Mereka semua adik tingkatmu." Aku mengatakan yang sebenarnya.

"Itulah menyebalkannya menjadi dewasa." Setelahnya Emily kembali menatap langit dengan tenang. Aku mulai merasa kalau rasa candunya pada langit masih belum berubah. "Kau sudah punya pacar?" tanyanya secara tiba-tiba dan itu berhasil membuatku hampir tersedak.

"Kakak sendiri bagaimana?" Aku justru melempar pertanyaannya.

Emily berpikir sejenak. "Aku sudah putus."

Seketika mataku melebar senang. "Berarti Kakak udah pernah pacaran?"

"Cuma dua kali," jawabnya yang justru membuatku bertambah semangat, aku memaksanya untuk menceritakannya dan Emily ternyata tidak sungkan. "Pacar pertamaku saat kelas tujuh SMP ...," aku melotot mendengar ia sudah berpacaran sedini itu. "Namanya Awan ...," Njir masih pake-pake awan. "Kakak sudah kenal dia sejak SD. Waktu kakak pindah, Kakak temenan sama dia. Dia orangnya baik, perhatian banget, suka sama serangga terutama capung. Beberapa kali dia ngajkin Kakak ke parit di kompleknya. Di sana tempatnya bersih dan ada hutan buatan." Emily menghela napas perlahan seraya menatap langit samar-samar. Tangannya menyilang di depan dada dan bersandar.

"Dia sering bantuin Kakak nyelesaiin tugas Biologi. Kakak pernah bilang sama dia kalau Kakak punya seorang Adik yang juga memiliki ketertarikan terhadap alam." Aku tersenyum mendengar Emily masih mengingatku saat itu.

"Saat akhir kelas tujuh dia nyatain perasaannya sama Kakak. Dan Kakak terima." Emily mengakhirinya dengan hembusan napas yang begitu panjang.

"Lalu bagaimana kalian bisa putus?" tanyaku penasaran.

Emily menggeleng pelan. "Karena puber, dia jadi sedikit lebih tampan dan semuanya berubah."

Hening beberapa saat sebelum dia memutuskan untuk melanjutkan ceritanya yang kedua. "Cerita yang kedua agak konyol. Dan ini membuatku terkadang membenci rambutku. Waktu itu ada seorang cowok, ganteng, gak terlalu terkenal di sekolah tapi menurut Kakak dia punya kepribadian yang agak menarik. Dia suka antariksa. Dan itu membuatku merasa cocok." Kali ini Emily menceritakannya sambil tersenyum aneh.

Emily's Clue [TAMAT]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang