Twenty Ninth Chapter

118 17 2
                                        

"Selama ini kamu merasa sendirian, selama ini kamu membatasi hubunganmu dengan orang lain karena selama ini kamu hanya memikirkan Kakak."

✈✈✈

"Siapa namamu?"

"Cheryl." Aku tersenyum ketika tak dapat memastikan ekspresi orang di depanku. Yang pasti kesan baik ialah kesan pertama yang menyenangkan.

"Cheryl." Orang itu mengulanginya. "Kamu dari TK mana?"

Aku menggeleng, "nggak TK." Mataku menatap ke sekeliling. Anak-anak terlihat menatap malas padaku dan beberapa justru tidak fokus ke depan. Selanjutnya, mataku menyisir jendela kelas yang dipenuhi oleh orang tua yang mengintip kecuali satu orang. Emily.

Aku tersenyum dan dia tersenyum ketika mata kami saling bertemu.

"Cheryl makanan kesukaannya apa?"

"Es krim," jawabku seraya mengulum senyum. Orang yang ada di sampingku itu tersenyum. Aku mendongak untuk memastikan senyumnya kini.

"Di rumah sukanya ngapain."

"Main ... sama nonton kartun."

Beberapa anak-anak tertawa dan aku juga ikut tertawa. Mataku terpaku kemudian pada satu anak laki-laki yang berpangku tangan dan menatapku diam. Saat itu aku belum tahu jika namanya Sammy. Dan saat itu serta seterusnya, kami tidak pernah berteman.

Aku baru sadar saat itu jika Emily membolos untuk menengokku, tapi itu sebentar, setelahnya Emily kembali ke kelasnya dan dia menghilang dari jendela. Hal itu seketika membuatku menangis di tempat karena orang tua anak-anak yang lain masih ada. Orang di sampingku menenangkanku.

Aku ingin keluar untuk memastikan, tapi jika aku keluar aku pasti tidak bisa melakukan apa-apa. Sama seperti delapan tahun yang lalu. Aku tak melakukan apa-apa.

Emily pergi, menghilang dari pintu rumah bersama Ayah. Pergi dari kehidupanku, tinggal di tempat yang sama dariku tapi menghilang dari jalan cerita di hidupku. Delapan tahun kuhabisakan Cuma-Cuma dengan menyesali kepergiannya. Mata yang berair tapi tak menetes, tangis yang ditahan karena tak ingin pergi tapi tak punya kuasa untuk tinggal.

Aku pun tak punya kuasa untuk menahannya pergi. Dan sama saat SD, aku hanya menangis melihatnya menghilang. Aku turut menghilang dari lingkunganku, tak berteman, tak memperhatikan orang-orang yang mungkin memberikan perhatian padaku. Aku hanya melihat langit, pesawat yang mungkin Emily ada di sana, dan delapan tahun kemudian aku menyadari jika jarak kami hanyalah puluhan kilometer.

Tak ada yang namanya jarak yang sebenarnya, taka da yang namanya ketinggian yang sebenarnya, tak ada yang namanya medium yang sebenarnya. Yang ada hanyalah kami dekat tapi tak dapat menjangkau satu sama lain. Hingga ketika SMA, tak ada perubahan signifikan dariku.

Aku hanya menangis ketika melihatnya pergi. Aku hanya menangis melihat angkotnya melengang ke arah utara dan itu perpisahan terakhir kami. Andai saja, andai saja aku tahu lebih awal tentangnya. Andai saja aku tak meminta pertukaran tempat, andai saja aku mampu untuk menghentikannya.

"Emily, tunggu!!" Teriakku seraya terisak dari seberang jalan jembatan. "Kakak tunggu." Aku mencoba menahan langkahnya yang hendak memasuki angkot yang sudah berhenti. Tanpa menghiraukan jalanan yang padat, aku nekat melangkah dan menyeberang seraya menarik koper. Mobil-mobil mengklakson kencang dan aku tertatih-tatih dengan air mata yang berurai.

"Kakak ...," Melihatku menangis, Emily membatalkan angkotnya dan angkot itu melengang pergi. Tubuh kami bermandikan sinar senja saat ini.

"Ada apa?" Emily menatapku kebingungan.

Emily's Clue [TAMAT]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang