Twenty Second Chapter

61 12 0
                                        

"Ketika melihat kepergiannya, aku mulai memikirkan tentang ada baiknya jika semua ini diberhentikan."

✈✈✈

"Ayah tidak bekerja lagi? Sebenarnya apa yang Ayah lakukan di sana? Kalu begini terus bisa-bisa Ayah dipecat." Sesampainya di rumah, aku langsung menanyai perihal tersebut kepada Ayah. Tanganku bersedekap mencoba melindungi diri seraya mengomentari tentang kehidupan Ayah yang terasa semakin tidak jelas.

"Jangan menghakimi Ayah."

Aku menahan napas sesaat mendengar jawaban semacam itu. "Saat ini aku berusaha untuk tidak menghakimi. Cheryl khawatir dengan Ayah."

"Kamu tidak tahu apa-apa, oke? Jangan ikut campur." Ayah meninggikan nada suaranya dan menatapku dengan tajam. Aku menelan ludah dan menghela napas sesaat. "Sebenarnya apa pekerjaan Ayah? Apakah Ayah memang berkerja di perusahaan peneribt?"

"Jadi kau meragukan Ayah, huh? Kau mulai terlihat sama menjengkelkannya seperti Ibumu."

"Aku tidak sama dengan Ibu."

"Tidak, kalian sama. Sama-sama suka menghakimi." Ayah berjalan pergi menuju biliknya. Aku yang tak terima disama-samakan dengan Ibu, memprotes Ayah begitu saja dengan setengah berteriak. "Emily bahkan bilang kalau Ayah kadang tidak bisa melupakan Ibu."

Ayah berbalik seketika dan berjalan cepat ke arahku. "Jangan pernah katakan hal menjijikan itu lagi. Jangan dengar semua yang Kakakmu katakana, kamu hanya berilusi."

Aku menggenggam tangan dan memberanikan diri. "Tidak, Ayahlah yang kerap berilusi. Ayah bahkan sering mabuk dan mengatakan baru bertemu Ibu padahal Ayah tidak pernah bertemu Ibu ...,"

PLAKKKKK!!!

Pipi kananku panas seketika mendapat tamparan keras dari Ayah. Aku memegangnya dan merasakan pening di kepalaku. "Lihat? Ayah bahkan tidka seperti orang yang mengalami rehab."

"Jaga ucapanmu," teriaknya kemudian mencekikku dan mendorongku hingga terjerembap ke belakang. Aku berusaha melepaskan cengkraman kuat laki-laki itu di leherku. Napasku mulai sesak, kepalaku terasa pusing, dan mataku merabun.

Selagi melihat Ibu yang seperti hamper kehabisan napas, Emily menangis melindungiku yang berada di pojokan rumah. Mata Ibu yang hampir menutup itu melirik kami penuh harap. Tangannya terus memukul lengan kokoh Ayah dengan tangan laki-laki itu yang mencekik Ibu hingga Ibu terpojokan di dinding.

"Ibu ...," rengekku ketika melihat hal itu. "Ibu ...,"

Aku semakin terisak ketika melihat Ibu yang sudah mengangakan mulut seperti ikan yang terlalu lama berada di daratan. Aku melompat kecil ketakutan dan merengek meminta bantuan Emily. Emily yang juga menangis, hanya bisa menyaksikan kejadian itu dengan tubuh gemetar hebat.

Aku memanggil-manggil Emily dan memintanya untuk menolong Ibu.

Tapi, apalah dayanya yang hanya anak delapan tahunan saat itu. Hanya bisa tersedu sedang dengan tubuh meringkus ketakutan. Aku buang air di celana saking takutnya sementara Emily mematung di tempat.

Tapi saat ini, aku bukanlah anak enam tahunan. Aku menekan bagian nadi dari tangan Ayah yang mencekikku dengan kuku tajamku. Kupaksakan diri sebelum cekikan itu semakin menyiksaku. Ketika cengkraman tangan Ayah mengendur, aku langsung menendang organ vitalnya dan seketika cengkraman itu terlepas tatkala Ayah meraung kesakitan.

Kakiku lemas dan aku tunggang langgang menuju tangga dengan pandangan buram, mata berair, serta terbatuk-batuk karena kesulitan bernapas. Dengan terengah-engah dan kaki gemetar, aku berusaha menaiki anak tangga yang kini serasa begitu panjang laksana tembok China.

Emily's Clue [TAMAT]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang