Eleventh Chapter

73 17 0
                                        

"Aku melukai seseorang."

✈✈✈

Hari ini, sengaja aku datang siang untuk menghindari tatap muka dengan Emily lebih awal. Akan tetapi, dalam perjalanan menuju koridor kelas, Junnie teriak memanggil namaku sambil berlari kencang seperti badak yang siap menyeruduk. Aku baru saja hendak berbalik dan kabur dari hal anarkis ini karena biasanya jika Junnie sudah bersikap alay, itu berarti ada hal penting yang harus kutahu. Yang mana sebenarnya itu tidak penting.

Junnie setengah melompat dan menangkapku. Dengan mudahnya, dia menyeretku ke lapangan basket sekolah. Gawat, tempat itu berhadapan langsung dengan kelasnya Emily.

Ketakutanku hilang tatkala melihat keadaan disana yang justru ramai tak terkendali. Seketika aku menyelip di balik kerumunan seraya melirik lantai tiga gedung sekolah.

"Apa yang terjadi?" Aku setengah berbisik ketika Junnie berhasil melepaskan cengkramannya secara sukarela.

"Kau tidak boleh ketinggalan hal ini. Ini hal gila yang pernah ada salama sejarah sekolah." Matanya membulat persis seperti pipi dan badannya. Aku menghela napas sesaat kemudian bertanya, "apa?"

"Gaada hujan, gaada badai, gaada kedekatan, gaada gossip. Eh ... tiba-tiba Kak Dio mau nembak Alison." Seketika Junnie seperti balon yang hendak meledak. Dia bahkan menjeritkan hal itu sambil sedikit melompat.

Ya Tuhan, sudah kuduga hal konyol lainnya yang seharusnya dijadikan bahan bodoh amat. Mengingat jika aku cuek akan membuat Junnie terus ngoceh panjang lebar, jadinya aku kasih sedikit bumbu histeris.

"Kak Dio anak baru yang ganteng itu?"

"IYAAA!!" Junnie mengangguk dan hampir membuat copot kepalanya.

"Kok Bisa?" Aku berpura-pura berkacak pinggang.

Junnie menjentikkan jari. "Tuh kan, heran kan? Padahal baru putus sama Sam. Kok bisa-bisanya dia jadian sama Kak Dio."

Kami kemudian memfokuskan pada momen baper alay di mana Kak Dio dengan sejuta pesonanya nembak Alison di tengah lapangan. Junnie mencengkram lengan kurusku hingga rasanya lenganku mengalami keretakkan. Ia bertingkah seolah dia mantan Kak Dio.

Oke, ini bodoh dan ini menyebalkan. Aku baru saja hendak melarikan diri, tapi semakin aku bergerak semakin bernafsu Junnie untuk mematahkan tangan rapuh nan kurus ini.

"Lihat, dia terima." Protes Junnie ketika semua orang bersorak-sorai karena pernyataan cinta itu diterima. "Dalam satu bulan dia mengencani dua cowok keren sekolah. Kamu gak ngerasa aneh, gitu?"

"Untuk apa aneh. Orang Alison cantik." Aku mengakhirinya dengan melepaskan secara paksa genggaman itu. Kemudian berbalik dikarenakan acaranya selesai. Sebelum Emily melhat, ada baiknya segera bagiku untuk menenggelamkan diri dari semua kemungkinan yang ada.

✈✈✈

Sepanjang waktu sekolah, selama jam istirahat, dan sisa-sisa masa yang dihabiskan di sekolah hari itu, semuanya memusatkan perhatian pada Alison seakan gadis itu adalah pusat rotasi perempuan sekolah saat ini. Semua cewek tiba-tiba ingin mendekatinya--yang mana sebelumnya Alison sudah didekati banyak orang--dan seperti dugaanku, Alison senang ketika semua orang memperhatikannya. Sikap narsistik yang membuatku jengah.

Junnie seperti orang kebakaran jenggot. Dia tak terima kenyataan jika Alison mendapatkan bintang baru sekolah. Peduli setan bagiku dengan acara memorable sampah sekolah seperti ini. Yang aku takuti saat ini hanyalah tatapan mata Emily. Mungkin hubungan kami akan berubah dalam hitungan detik dari sekarang.

Emily's Clue [TAMAT]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang