"Kau membencinya, aku bahkan membencinya sampai saat ini."
✈✈✈
Dengan mata yang sembab, penampilan yang urak-urakan, aku menaiki lantai tiga gedung sekolah. Napasku masih tersendat dan sesak meski satu malam sudah berlalu.
Dengan langkah tegap dan pasti aku menuju ke kelas IPA di mana Emily saat ini pastinya berada. "Emily," panggilku secara kebetulan ketika melihat Emily berada di ujung lorong.
Emily tersenyum dan melambaikan tangan seraya berjalan ke arahku. "Cheryl," balasnya secara tersenyum riang, tetapi senyum itu lenyap seketika ketika melihat sembab di mataku. "Apa yang terjadi?"
Sejurus kemudian, aku langsung merentangkan lengan kiri dan memperlihatkan luka sayatan pisau yang panjangnya sepuluh senti. Seketika Emily berteriak dan menatapku khawatir. "Apa yang sebenarnya terjadi? Ayo ke UKS." Gadis itu menarik tanganku seketika menuju UKS.
"Ini ...," suaraku serak seraya mengikuti tuntunan langkahnya dengan pelan, "hasil mempertahankan diri dari Ayah."
Seketika Emily berhenti dan genggaman tangannya terlepas seketika. Gadis itu mematung diam membelakangiku.
"Ada yang tidak beres. Tentang Ayah." Suaraku terdengar begitu tertahan. Di tengah keramaian pagi sekolah, dunia terasa seakan menyisihkan kami berdua. Yang mana dunia kami memang hanya ada kami berdua. Tidak ada yang bisa masuk. "Dia mabuk, kadang paranoid, berhalusinasi ...,"
"Kau pasti membuatnya marah." Suara Emily mendingin dan kini dia menatap tepat ke wajahku.
Aku menggeleng pelan. "Dia selalu marah, mengamuk terhadap ... segala hal. Meneriaki nama Ibu, meneriaki namamu."
"Apa yang sebenarnya kau lakukan padanya?"
Aku terdiam ketika mendengar nada suara Emily yang sedikit marah. "Seharusnya Kakak tanya apa yang sebenarnya ia lakukan padaku."
"Tidak. Karena sebelumnya dia tidak seperti itu lagi."
"Kau bohong."
"Aku tidak bohong."
Aku tak percaya jika Emily saat ini membohongiku dengan tatapan yang begitu meyakinkan. Aku menggelengkan kepala pelan dan kembali terisak. "Dia seperti orang yang tidak pernah direhab."
"Itu karena kau membuatnya marah."
"Hell, Emily! Dia bahkan tidak ada perubahan sedikitpun. Justru bertambah parah. Dan aku sebenarnya tidak tahu apa yang terjadi padanya, apa yang sebenarnya terjadi padamu, dan kenapa kau menyembunyikan ini semua." Bagian terakhir adalah hal yang paling penuh tanda Tanya bagiku saat ini. Kenapa Emily menyembunyikan ini semua? Bukankah dia sama tersiksanya selama ini?
Emily menggelengkan kepalanya pelan dan mundur beberapa langkah. Dia menatapku dengan penuh rasa kekecewaan sebelum benar-benar pergi dari hadapanku. Menghilang di antara kerumunan orang-orang. Menghilang ketika dunia kami hanya ada aku dan dia.
✈✈✈
"Astaga, apa yang terjadi padamu?" Junnie berbisik lirih tatkala melihatku masuk ke kelas seperti mayat hidup. Dia bahkan sempat memekik kecil tatkala melihat luka gores di lengan kiriku. "Ini sayatan yang begitu rapih. Kamu pasti ditikam, entah pisau atau cutter. Ayo ke UKS."
Junnie menarikku secara paksa dan aku berdiri seketika mengikuti arahannya. Dia menuntunku perlahan dan berusaha menutupiku dari ramainya orang-orang menggunakan tubuh besarnya. Tatapanku kosong dan tubuhku seperti melayang tak tentu arah. Aku bahkan tidak merasakan jika kakiku saat ini sedang menapak.
KAMU SEDANG MEMBACA
Emily's Clue [TAMAT]
Fiksi Remaja🏅Runner Up Shana Writing Comp 2021 Kategori Secret 🏅3rd Place ODOC The WWG 2020 Ketika kehilangan sang Kakak, Emily, akibat perceraian orang tua, hidup Cheryl serasa berhenti sepihak. Tak ada perkembangan dalam dirinya. Dia seperti gadis mati yang...
![Emily's Clue [TAMAT]](https://img.wattpad.com/cover/218115154-64-k400598.jpg)