"Apakah ada lebih dari sekadar cinta sebagai pengorbanan yang harus diberi?"
✈✈✈
Aku terdiam untuk beberapa detik. Emily baru mengetahuinya? Seharusnya dia sudah tahu lebih dulu dari awal. Aku bukanya tak ingin pura-pura terkejut, hanya saja itu akan memperburuk posisiku karena Emily mungkin semakin yakin jika aku menipunya selama ini. Mungkin.
Alhasil, aku pura-pura menyilangkan tangan di depan dada dan bersender dengan santai. "Dengar, aku bukannya tak ingin memberitahumu. Hanya saja ...,"
"Tidak apa-apa," potong Emily cepat. "Aku berusaha memakluminya. Sebenarnya Alkohol tidak diperkenankan untuk diminum, tapi seperti inilah keluarga kita. Ayah juga kadang minum beberapa kali."
"Apa?!!" AKu menegakkan badan kaget mendengar hal itu. Kaget di sini bukan karena tahu jika Ayah memang peminum--di samping aku sebenarnya sudah tahu--melainkan karena Emily baru mengatakannya. "Bukankah Kakak mengatakan jika Ayah sudah rehab."
"Ya, tapi tidak seratus persen. Ayah kadang minum beberapa kali, dan itu mungkin karena dia teringat tentang Ibu."
Ya. Emily pernah mengatakan jiak Ayah belum sembuh seratus persen, tapi aku tak menyangka jika bagian non-persenan itu merupakan kebiasaan minumnya.
"Itukah sebabnya Ayah belum menikah lagi."
"Mungkin. Tidak ada perempuan yang tahan dengannya selain Ibu."
Wait! Mendengar Ibu yang kembali disebut-sebut, apakah Emily juga sudah tahu kalau Ibu sebenarnya pelacur?
Tidak. Jangan. Jangan sekarang. Sebaiknya aku mengalihkan obrolan ini jauh dari masalah tentang keluarga nan berantakan ini.
"Ngomong-ngomong, dari semua pemain, mana fovorit Kakak?" Tanyaku kemudian.
"Favorit dalam hal apa? Ganteng atau mainnya bagus?"
"Terserah. Dua-duanya." Aku tak menyangka jika semudah ini mengalikan pembicaraan dari topik yang sensitif.
"Entahlah. Aku pilih Sammy saja."
"General banget milihnya Sammy." Emily memilih Sammy pasti hanya Sammy yang satu-satunya ia kenal. "Yang lain dong. Cowok dari sekolah lain, pilih coba."
Emilly terlihat lama memilih. Lagipula apa yang aku ekspektasikan, kami berdua sebelas-dua belas, tidak akan memilih orang jika tidak kenal meskipun hanya permainan tunjuk bebas seperti saat ini. Lagipula jika Emily menanyaiku aku akan memilih Sammy juga.
Aku mulai bertanya-tanya jika kami berdua sama-sama tidak pernah menjalin pertemanan yang dekat dengan siapapun.
"Ow-Ow, lihat itu!" Tunjukku pada siswa yang sedang mendribble. Laki-laki itu dari sekolah lain. "Namanya Awan. Persis kayak nama mantan Kakak."
Emily nyengir kuda dan terkekeh pelan. "Iya ya."
"Ajak kenalan gih, siapa tahu jadian." AKu terkekeh seraya menyiku lengannya.
"Mana sempat lagi, Kakak saat ini sedang di fase SMA masa ujian, jadi ...."
Oke, aku mengerti. Syukurlah semuanya masih baik-baik saja dan terkendali. Apapun yang Ibu lakukan sampai-sampai Emily tidak tahu apa-apa tentangnya membuatku berharap agar Ibu terus melakukan hal ini setidaknya samapi Emily lulus.
✈✈✈
"Aku sebenarnya tidak ingin merepotkanmu, hanya saja Don sedang tidak bisa menemaniku hari ini." Di dalam angkot, Jeremy menuturkan penyesalannya. Yang mana, ia juga sebenarnya senang karena ada orang yang menemaninya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Emily's Clue [TAMAT]
Ficção Adolescente🏅Runner Up Shana Writing Comp 2021 Kategori Secret 🏅3rd Place ODOC The WWG 2020 Ketika kehilangan sang Kakak, Emily, akibat perceraian orang tua, hidup Cheryl serasa berhenti sepihak. Tak ada perkembangan dalam dirinya. Dia seperti gadis mati yang...
![Emily's Clue [TAMAT]](https://img.wattpad.com/cover/218115154-64-k400598.jpg)