Chapter 14

19 18 5
                                    

"Err, tugas sialan. Males banget gue! Mana dosennya kaga ngejelasin apa-apa, maen ngasih tugas ae," gerutu Rafka.

Saat ini Neja dan Rafka sedang berada di kantin tempat kuliahnya. Rafka terus menggerutu karena tugas-tugas yang diberikan dosennya seperti air, terus mengalir.

Neja memutar matanya malas, "udah sih, percuma lu ngegerutu juga. Bukannya tugasnya kelar malah kuping gue yang budek!"

Rafka berdecak kesal. Mau tidak mau dia harus bersabar. "Ja, lu beliin gue es kopi gitu, biar seger."

Neja berpikir sebentar. Betul juga, saat ini ia memang sedang sedikit mengantuk. Ia mengganggukkan kepalanya.

Neja berniat untuk membeli kopi di Starducks sebrang kampusnya. "Gue mau beli di Starducks aja. Lu mau apaan?"

"Kaya biasa aja, yang tall ya." Rafka merogoh kantongnya lalu memberikan uang seratus ribu kepada Neja. Neja mengambil uang yang diberikan itu lalu mengantonginya.

"Woke," Ia berjalan keluar kampusnya lalu menyebrang jalan.

Sesampainya di Kafe Starducks, Neja pun memesan kopi pesanan Rafka dan miliknya.

"Mba, Iced Vanilla Latte Tall 1 sama Iced Mochaccino Grande 1 ya ...," pesan Neja.

"Baik mas, totalnya jadi 115 ribu," jawab barista kafe.

Setelah memesan dan tentunya dibayar, ia duduk sambil menunggu pesanannya. Matanya yang biru itu menangkap seorang perempuan yang berada di gerbang tempat kuliahnya.

"Cewek itu ...."

"Mas!" panggil sang barista yang hendak memberikan minumannya.

"Ah?" Neja menoleh kepada barista tersebut lalu tersenyum dan menerima minumannya. "Terima kasih Mba."

Ia teringat sesuatu, perempuan tadi. Neja mengarahkan matanya menuju gerbang tempat kuliahnya.

Sudah hilang. Perempuan tadi tidak ada lagi di tempatnya.

Neja mendesah kecewa. Lalu ia berjalan menuju tempat Rafka tadi.

"Lama banget sih lu," ucap Rafka kesal.

Neja memberikan minumannya serta kembaliannya kepada Rafka, "bacot!"

Lalu tanpa basa-basi mereka kembali mengerjakan tugas-tugas yang diberikan oleh sang dosen tercinta.

Selama mengerjakan tugas pikiran Neja tidak sepenuhnya fokus. Rafka pun menyadari itu.

"Lu napa sih? Kepikiran sesuatu?"

Neja menggelengkan kepalanya lesu. Ia kembali mengerjakan tugasnya, begitu pula dengan Rafka.

Tetapi ia tetap tidak bisa fokus. Ia memutuskan untuk bertanya kepada Rafka. Saat ia ingin bertanya ada suara yang memanggil Rafka.

"Ka!"

"Huh?" Rafka menolehkan kepalanya ke arah sumber suara.

Arleen Gregory, atau kerap disapa dengan sebutan Arleen. Sang perempuan manis yang menjadi pacar Rafka. Arleen memang tidak meneruskan kuliahnya di tempat Rafka, jadi mereka berpisah tempat kuliah. Namun walaupun begitu mereka tetap setia satu sama lain. Hingga saat ini mereka sudah terhitung 4 tahun menjalin hubungan sebagai kekasih. Keduanya tampak serasi hingga membuat orang-orang yang berada disekitarnya merasa iri.

"Ah, kamu sama siapa kesini?" tanya Rafka sambil mengelus kepala Arleen hingga membuat rambutnya berantakan.

"Ish, rambutnya jadi berantakan!" Arleen menjauhkan tangan Rafka lalu membenarkan rambutnya. Sedangkan Rafka? Ia hanya terkekeh melihatnya.

Fructus FamiliaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang