Selepas melaksanakan sholat Isya, gadis bertubuh mungil namun terkesan pas dan imut berbalut baju biru langit itu sedang berbaring terlentang sambil memainkan ponselnya.
Hanya ada beberapa pesan masuk. Itupun dari grup kelas dan ekskul.
"Kuburan kali ya hp gue" Gumamnya sambil menerawang menatap atap langit kamar.
Klunting Klunting
Tiba-tiba ponsel itu berbunyi berkali-kali. Zea sampai kesal karena acara melamunnya buyar.
"Please, deh, ya. Ini pasti Bella sama Adella. Bodoamat gak gue respon."
Zea tak menghiraukan suara nontifikasi itu, ia terpejam masih dengan posisi yang sama.
Klunting Klunting Klunting
Drrttt Drrttt
Klunting Klunting
Dengan penuh kesabaran dan hati mencoba ikhlas. Zea membuka matanya dan mengucapkan istighfar beberapakali. Sabar.
"Gak ada kerjaan banget sih punya sahabat gila semua. Paling debat atau nggak spa--eh anjir, NOMOR SIAPA NI?!" Pekik Zea histeris saat melihat nomor asing yang mengirimnya pesan.
Oh ternyata bukan hanya pesan. Tapi juga panggilan.
Unknown number sent your 10 messages. 1 missed call.
081330XXXXXX
Haiii! Masih inget gue gak? Oh pasti inget dong. Iya kan?
081330XXXXXX
Kok gak di bales?
081330XXXXXX
P
P
P
Hello
081330XXXXXX
Cantik
081330XXXXXX
Masa udah tidur sih?
081330XXXXXX
Baru juga jam 8 woi
Zea mengerutkan keningnya saat tak mengenali nomor tersebut.
"Bales gak ya?" tanyanya pada diri sendiri.
Me
Siapa?
Satu menit hening. Tak ada balasan. Hingga ...
Klunting
081330XXXXXX
Akhirnya di bales juga. Abis pup ya lo? Ngaku!
Zea membulatkan matanya kesal. Frontal sekali bicaranya.
"Siapa sih?!"
Me
Nggak. Gue abis maling.
081330XXXXXX
HAHAHA iya iya lucu
Baru saja Zea akan mengetik balasan tapi nomor itu mengirim pesan lagi.
081330XXXXXX
Btw save dulu no gue
"Gimana mau save. Gue aja gak tau dia siapa."
Dengan asal Zea segera memberi nama pada nomor tersebut.
Sinting.
Begitu nama kontaknya. Biarlah.
Me
Udah gue save
Klunting
Sinting
Emang lo tau nama gue? Jenis kelamin gue? Jangan-jangan lo kasih nama gue Junaedi ya?!
Sinting
Atau Jubaedah? Juminten? Junet? Jamillah? Januari? Februari? Maret? April?--
"Sinting beneran ternyata."
Dan Ia segera membalas pesan itu.
Me
Bukan. Gue namain lo 🐒. Uuk aak. Uuk aak.
Zea tertawa geli melihat balasannya kepada si Sinting. Gadis itu masih berbaring terlentang dengan ponsel diatas muka cantiknya.
Drrttt Drrttt
"Gawat! Si Sinting langsung telfon. Marah kali ya, gue katain monyet."
Ponselnya terus berbunyi. Ia bingung harus mengangkat atau tidak. Lagipula mereka belum kenal.
PUK
"GUSTI!!! IDUNG GUE KETIBAN HP"
***
"Vano mana sih, kok belum nongol." ucap lelaki bertopi.
"Korong lo, tuh, yang nongol!" semprot remaja lain yang sedang duduk dikursi tak jauh dari lelaki bertopi tadi sedang memakan kuaci.
Para remaja tampan berjumlah sekitar dua belas orang sedang berkumpul ria di tempat bengkel langganan mereka. Bukan berarti mereka tidak memiliki basecamp. Tapi bengkel ini sudah seperti basecamp mereka.
Bang Oki--pemilik bengkel pun tak melarang jika mereka sering berkumpul di bengkelnya. Toh mereka tidak berbuat ulah.
"Masih dijalan kali." sahut remaja yang memakai baju putih dan jeans hitam diatas lutut sambil meminum minuman di depannya.
"Ngomong mah ngomong aja kali, Ko! Gak usah embat minuman gue. Tai sekali." sindir Rendi laki-laki bertopi tadi.
Chiko yang tidak merasa tersindir pun hanya mengangkat bahu cuek. Gak tau malu emang. Dasar cogan!
Tak lama terdengar suara deruman motor mendekat kearah mereka. Motor sport hitam yang gagah seperti pemiliknya.
Semua yang ada disana menoleh dan menunggu sang pengendara bergabung.
Setelah membuka helm full facenya, tampaklah wajah rupawan pengendara motor tersebut. Menyugar rambut hitam nya ke belakang menggunakan jari.
Pakaiannya tampak santai dengan menggunakan kaus hitam dan jeans senadanya. Dipadukan dengan sepatu vans.
Cool.
Dengan muka datar, ia berjalan mendekat kearah teman-temannya. Tanpa mengucapkan sepatah katapun. Remaja tampan itu langsung mendudukan bokongnya di kursi tempat mereka berkumpul.
"Gue tuh, sebenernya takut sama Vano. Dia itu, kalo ngelakuin sesuatu suka gak ada suara sama sekali. Kaya gak punya mulut, gitu lho" Rendi berucap sambil bergidik ngeri.
Semua tampak tertawa mendengar ocehan Rendi yang menyinggung. Darren menendang kaki Rendi yang berada didekatnya.
"Dikuburin Vano hidup-hidup baru tau rasa, lo!"
Rendi kelabakan saat melihat tatapan tajam milik Vano mengarah kearahnya. Ia cengengesan dan berucap "Hehehe, ahahaha ampun deh Bos. Becanda" Ucapnya mengibaskan tangan dengan muka melas.
Vano tak memperdulikan itu. Ia bersandar pada senderan kursi lalu memejamkan matanya. Tangannya ia lipat diatas dada.
"Tapi ada benernya juga kata Rendi. Gue juga kadang suka kaget kalo Vano tiba-tiba nongol. Gak salam gak bersuara. Serem" Chiko ikutan merinding.
Gilang yang sedari tadi diam pun dengan gemas menoyor kepala Chiko menggunakan tangan kanannya.
Chiko cemberut kesal.
"Assalamualaikum, selamat malam"
Siapa sangka, Geovano akan mengucapkan itu. Mereka berpandangan satu sama lain dengan hening.
"Anjir! AHAHA Tarik sis!
"Semongko!"
***
Luv pii♡
KAMU SEDANG MEMBACA
GEOZA
Fiksi Remaja"Mau gak?" Gadis cantik yang sedang duduk disampingnya mengerutkan kening bingung. "Mau apa?" "Jadi pacar gue." Dia Geovano Abasya Pradistira atau yang kerap disapa Vano. Cowok dingin dan pendiam yang masuk jajaran siswa populer. Dan, panggilan berb...
