Chp 12 - Teh terbatas

1.1K 149 12
                                        

 

  Lupakan Secangkir teh yang disumpahi Wei Wuxian, dia saat ini sedang mencarinya lagi didapur rumah keluarga Lan yang luasnya bukan main.
Lan Wangji menatapi orang aneh itu nanar,
"Apa yang kau lakukan?"
Tanyanya tidak ingin diam dengan rasa penasarannya.

"Jenis teh yang tadi aku muntahkan apa kau punya banyak? Aku mau membawanya ke yunmeng"
Jawab Wei Wuxian sembari membuka lemari es.
Lan Wangji menghela napas,
"Tadi yang terakhir"

"HA?"
Wei Wuxian terperanga, 'yang terakhir? Mana mungkin orang kaya bisa kehabisan jenis teh sebiasa itu?'
Pikir Wei Wuxian.
"Jangan menipuku"
Lanjutnya, dia kembali membuka lemari es yang lain.

"Kau tadi memuntahkannya bukankah kau tidak suka?"

"Suka"
Jawab Wei Wuxian seakan lupa apa yang baru saja terjadi.
Dia membanting lemari esnya,
"DIMANA! Apa kau sungguh sungguh tidak mau membaginya? Pelit sekali kau ini!"

Lan Wangji agak terkejut, dia termenung beberapa saat sebelum akhirnya menjawab,
"Tadi yang terakhir... kami membelinya setiap satu tahun sekali, hanya ada 300 cangkir untuk satu tahun, dan yang tadi kau minum adalah cangkir ke 300"

Wei Wuxian mengerenyit,
"Omong kosong macam apa itu? Hanya 300 cangkir? seberapa mahal sampai kalian tidak mampu membeli lebih?"

"Bukan begitu, penjualnya yang hanya menyediakan 300 cangkir"

Wei Wuxian tersedak, dari apa yang dikatakan Lan Wangji tampak jelas itu adalah teh yang mahal! Dan dia baru saja memuntahkannya!
"BERAPA HARGANYA?!"

Lan Wangji,
"Sembi-"

"Cukup aku tidak sanggup mendengarnya bahkan dari angka pertamanya sudah angka paling tinggi."

"Wangji, Wei gongzi"
Sapa Lan xichen dia tersenyum ketika memasuki dapur,
"Apa yang kalian lakukan?"

Wei Wuxian memutar matanya,
"Mencari teh"

Lan Wangji,
"Teh nya sudah habis"

Lan Xichen,
"Teh tahun ini baru saja sampai, kau bisa mengambil satu cangkir milikmu wangji, kau sangat menyukainya"

"Mnn"

Wei Wuxian,
"SATU CANGKIR? SATU ORANG? UNTUK SATU TAHUN?!!!"

"Ya"
Jawab Lan xichen, dia mengangguk.

Wei Wuxian memelototi Lan Wangji, dia tidak berbicara apapun tapi tatapan matanya seakan berkata,
'BERIKAN 1 CANGKIR MILIKMU PADAKU!'

Lan Wangji memalingkan wajahnya, seperti mengerti apa yang dimaksud Wei Wuxian Lan Wangji berujar,
"Tidak akan kuberikan padamu"
Katanya dia berjalan keluar dapur, Wei Wuxian tidak menyerah hanya dengan satu kali penolakan dia mengikuti pria itu dan memolototinya dari belakang.

Lan Wangji menghentikan langkahnya dia menoleh kebelakang dan menahan kepala Wei Wuxian yang akan terbentur ke dadanya,
"Tidak akan kuberikan!"
Tegasnya lagi.

Wei Wuxian mengulurkan satu tangannya,
"Berikan padaku!"

"Tidak akan!"

"BERIKAN!"

"Wei ying, ada apa denganmu?! Itu hanya secangkir teh"

"Itu hanya secangkir teh"
Olok Wei Wuxian
"Lalu kenapa kau tidak mau memberikannya padaku?"

"Kenapa aku harus memberikannya padamu?!"

"KARENA AKU MAU!"

Lan Wangji berpegang teguh pada pendiriannya dia berbalik dan mengabaikan Wei Wuxian,
"Kau tidak bisa mendapatkan yang kau mau semudah itu"

Wei Wuxian mengikuti,
"Oh lalu apa?"

Lan Wangji,
"Kau segera pergi dari sini dan akan kuberikan bagianku"

Wei Wuxian,
"Ditolak! Aku mau menginap selama 3 tahun!"

"APA?!"
Lan Wangji spontan menghentikan langkahnya lagi, dia menatap tajam Wei Wuxian,
"Itu bukan 3 tahun! Tapi seumur hidupmu!"

Wei Wuxian,
"MEMANG!"

"WEI YING!"
Lan Wangji menarik tangan Wei Wuxian agak kasar, yang ditarik tidak peduli sedikitpun
"Apa?"
Tanya nya polos, dia mencolek hidung Lan Wangji,
"Pamanmu mengizinkanku, kakakmu, semuanya bilang BOLEH!"

"A Xian"
Panggil Jiang yanli, matanya tampak bengkak seperti habis menangis semalaman, dia berlari memeluk Wei Wuxian,
"Kenapa kau tidak mengatakannya pada shijie! Kenapa kau hanya memberi tahu acheng"

Ekpresi Wei Wuxian tiba tiba berubah total dia menunduk matanya tidak berani memandang kedepan, hanya bisa menyembunyikan wajahnya dibahu kakak angkatnya, jiang yanli.
Tangan Lan Wangji bergetar melihat ekpresi Wei Wuxian, bukan karena cemburu tapi dia takut jika mengetahui pria itu tersakiti karena ulahnya.

"Shijie, jangan dipikirkan 3 tahun itu waktu yang lama! Jangan ceritakan pada yang lain hanya paman jiang dan paman Lan zhan yang boleh tau.."
Ujar Wei wuxian dia melepaskan pelukan shijie nya dan segera mengelus air mata yang ada dipipinya.

"Pamanku?"
Tanya Lan Wangji.

"Mm! karena itu aku bisa menginap semumur hidupku HAHAHAHA!"

"Bagaimana bisa kau-.... kau tertawa disaat seperti ini... kau.."

"Wangji tolong jaga Axian"
Ujar jiang yanli, dia meraih tangan Lan Wangji.
Yang dipegang segara melepaskannya dia burjar agak dingin,
"Aku tidak-"
Wei Wuxian menyela, dia memukul tangan Lan Wangji, lalu mengelus tangan shijienya,
"Jika kau berani mengatakannya dihadapan shijie, aku tidak akan pernah memaafkanmu seumur hidupku"

"Aku tidak ingin memiliki hubungan dengan seorang mayat-"

"LAN WANGJI!"

"Mnn aku tidak akan meminta maaf untuk itu Kau bisa pergi sekarang"

Jiang yanli membeku, dia menatap adiknya nanar,
"A xian dia.."

Wei Wuxian memalingkan wajahnya terdiam beberapa saat lalu pergi begitu saja
"Dia tidak menyukaiku!"

....


Wei Wuxian pergi ke kamarnya, dia duduk dijendela, menyandarkan kepalanya dan menutupi matanya dengan lengan,
"Apa yang pria itu lakukan... dia memperlakukanku seperti aku melakukan kesalahan besar. Mati? bukankah semua orang akan mati, apa yang dia pikirkan dengan menjauhi seseorang yang akan menjadi mayat... catatan kematian miliknya bukan anugrah! Tapi kutukan!"

"Wei wuxian"
Tegur jiang cheng, dia bersandar di dingding sebelah jendala sembari melipatkan kedua tangannya didada,
"Mungkin dia tidak ingin terbebani dengan kenanganmu jika kau mati?"

Wei Wuxian menoleh,
"Begitukah"

Jiang Cheng,
"Ya mungkin saja, ngomong ngomong kau mau roti? Ibuku membuatkannya sebelum kami kemari."
Ujarnya dia mengulurkan satu potong roti pada Wei Wuxian.

Wei Wuxian yang belum sarapan pagi mengambil pemberian itu dengan semangat.
Dia memakannya sedikit demi sedikit.
Jiang cheng memiringkan kepalanya dia mengerenyit menatapi perut Wei Wuxian,
"Hey berapa banyak yang kau makan di perjamuan sampai membuat perutmu buncit?"

Wei Wuxian melongo,
"Hm..aku minum 3 gelas bir"

Jiang Cheng,
"Tidak jauh beda seperti perut babi milik paman rulan"

"HA? BAGAIMANA KAU BSIA MENYAMAKANKU DENGAN ITU!  KUBIS UNGU KAU MAU MATI?"
Tanya Wei Wuxian, dia spontan memuntahkan rotinya.

"Kau yang mati!"




....







Author note.
So, we have babies now? Or.. babi buncit?



HEARTLESS  [MDZS]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang