Hanya kisah Adel yang selalu sabar menghadapi pacarnya yang cuek, yaitu Lee Haechan.
"Haechan, kamu mau es krim gak?" tanya Adel
"Gak" jawab Haechan
***
Cover by iu_graphic
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Happy reading gais...
***
Malam ini Haechan duduk sendirian di teras rumah Adel sembari memandangi langit ditemani segelas kopi hitam favoritenya, penghuni rumah sudah tidur, hanya tersisa dia yang sedaritadi tidak bisa tidur dan berakhir membuat kopi sendiri. Padahal waktu sudah menunjuk keangka setengah 1 dini hari, tapi tetap saja mata Haechan terbuka ibarat sedang siang hari.
Disaat sendiri seperti sekarang, ia suka mengingat masa lalunya dengan Adel yang terkesan tidak ada kenangan bagus. Selama ini ia bertindak sesukanya pada Adel, sedangkan balasan Adel malah berusaha sebaik mungkin, dia benar-benar sabar menghadapi Haehan sampai-sampai semua omongan kasar Haechan ia anggap angina lalu saja.
Harusnya Haechan bersyukur akan kehadiran Adel, dan ia pun mengakui jika Adel adalah perempuan bodoh yang bertahan dengan pria seperti dirinya. Entah itu karena cinta atau apa, Haechan tidak tau. Karena menurutnya, bisa saja Adel bertingkah seperti itu, tapi siapa tau kedepannya jika Adel hanya cinta monyet?
Ini masih masa SMA, jadi Haechan tidak terlalu menganggap jika Adel benar-benar serius dengannya. Ia hanya takut, jika ia menjadi serius, malah dia yang disia-siakan oleh Adel.
“Loh, Chan? Kamu belum tidur?”
Haechan langsung berbalik begitu saja saat mendengar suara dari arah pintu, yang ternyata adalah Adel. Gadis itu kemudian berjalan menghampiri Haechan dan mengambil posisi duduk disamping pacarnya itu, lalu menatap manik mata Haechan yang masih terbuka lebar.
“Ngapain lo disini?” tanya Haechan
“Aku tadi mau ngambil air minum di dapur, tapi ngeliat pintu kebuka makanya liat dulu. Kali aja ada maling, eh ternyata kamu yang belum tidur” jelas Adel
“Iya, mata gue belum bisa diajak buat tidur” ucap Haechan.
Adel mengangguk paham dan mulai memandangi langit yang dihiasi jutaan bintang menerangi bumi, terkadang kebahagiaan Adel itu sederhana, memandangi langit malam saja sudah membuat moodnya membaik. Entah karena apa pengaruhnya, tapi itu benar-benar ampuh bagi Adel.
“Kenapa lo masih disini? Masuk sana, lanjut tidur” ucap Haechan
“Entaran deh, aku mau nemenin kamu disini” balas Adel disertai senyum lebarnya, senyum yang benar-benar membuat Haechan tenang jika sedang dalam keadaan banyak masalah.
“Gue gak tanggungjawab kalo lo besok telat bangun”
“Iya Chan”
Setelahnya hening, tak ada lagi percakapan. Keduanya sama-sama diam, sibuk dengan pikiran masing-masing. Tapi dengan tatapan mata yang sama, yaitu memandangi langit malam.
“Gimana soal Ayah?” tanya Adel
Fokus Haechan spontan berpindah menatap Adel, sedangkan yang ditatap masih setia memandangi langit. Haechan mulai menghembuskan nafasnya dengan kasar lalu tersenyum miris, semenjak kejadian dimana ia menemukan Ibu nya berlumuran darah dikepala. Ia sama skali belum melihat wujud Ayah nya yang datang dengan ekspresi tanpa dosanya, dan mungkin saja sekarang Ayahn nya sudah dirumah, tak perduli atas apa yang terjadi pada anak dan istrinya.