Happy reading gais...
***
Disinilah sekarang Adel berakhir, yaitu di UKS ditemani oleh Haechan yang setia mengoles obat luka ke bagian dagunya. Lukanya tidak terlalu banyak mengeluarkan darah, tapi warna biru keunguan begitu tercetak dengan jelas. Sedaritadi Somi sibuk bolak-balik antara kantin dan UKS, hanya untuk mengambil handuk putih, tissue dan juga es batu.
Adel sendiri sampai bingung dengan kelakuan teman-temannya, padahal ia hanya luka dibagian dagu, tapi mereka khawatir secara berlebihan, seakan-akan Adel tengah mengalami luka tusukan dibagian perutnya.
“Udah sih anjir, gue gpp” gerutu Adel sembari menjauhkan tangan Somi yang hendak menaruh handuk berisikan es batu itu di dagunya.
Bukannya ia tak bersyukur karena telah dirawat seperti sekarang oleh mereka, hanya saja ia sudah merasakan ngilu luar biasa ketika es batu menempel pada dagunya. Bukan hanya ngilu, tapi rasa perih pun ikut menghiasinya.
“Udah yah, lu jangan banyak bacot. Diem aja, okay?” balas Somi
Sepertinya memilih opsi untuk menolak pun rasanya sulit jika itu adalah Somi, dia adalah orang yang keras kepala, keinginannya harus terpenuhi, jika tidak ia akan mengamuk. Seseram itu memang, tapi Somi memiliki hati yang sangat baik meskipun terkadang bobrok.
“Biar gue aja Som, lo sama yang lain masuk kelas aja” ucap Haechan
“Kok gitu?” sengit Somi
“Bukan apanya, lo gak pernah bolos. Udah sana, biar gue yang urus Adel. Minta tolong izinin dia, gue juga sekalian. Capek gue bolak-balik ruang BP anjir” gerutu Haechan
Somi mengercutkan bibirnya lalu menaruh handuk yang tadinya ia gunakan untuk membersihkan luka Adel diatas meja kecil, ia berdiri dari duduknya dan pamit kepada pasangan itu untuk kembali ke kelas. Selepas perginya Somi, dan keadaan didepan UKS sudah sepi, tersisa Haechan dan Adel yang saling bertatapan dalam diam.
“Masih sakit?” tanya Haechan
“Iya, perih” jawab Adel
“Lo tidur aja dulu, biar gue yang jagain lo”
Sebenarnya Adel sulit untuk tidur jika bukan dikamarnya sendiri, terlebih lagi sekarang ia diruang UKS ditambah diperhatikan oleh Haechan, semakin sulit baginya untuk terjun kedunia mimpi walaupun hanya sesaat.
“Kenapa diem?” tanya Haechan dengan kening dinaikkan satu.
“Aku gak ngantuk” ucap Adel
“Yah lo rebahin aja badan lo, gak usah merem. Beres, gitu aja lo ribet”
Jika Haechan tidak membantunya barusan, mungkin Adel sudah melemparinya menggunakan bantal yang ada disini. Sifat mengomelnya benar-benar sulit untuk dia hilangkan, bahkan omelannya itu terkadang penuh dengan kata-kata tajam.
“Kok kamu tadi nampar Yerim sih?” tanya Adel
“Yah dia yang duluan nyakitin lo” ucap Haechan
“Tapi kan kamu gak usah nampar dia”
“Terus gue harus apain? Gue cipok? Gitu?”
Spontan Adel menampar lengan kiri Haechan karena begitu menyebalkannya, bisa-bisanya Haechan terpikirkan kata seperti itu disaat Adel ingin serius membahas sesuatu.
“Kamu tuh yah, suka banget becanda” gerutu Adel
“Lagian sih lu” balas Haechan, yang kemudian ia fokus dengan layar ponselnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Lee Haechan : Dating [Completed]
FanfictionHanya kisah Adel yang selalu sabar menghadapi pacarnya yang cuek, yaitu Lee Haechan. "Haechan, kamu mau es krim gak?" tanya Adel "Gak" jawab Haechan *** Cover by iu_graphic
![Lee Haechan : Dating [Completed]](https://img.wattpad.com/cover/231137979-64-k852073.jpg)