Hanya kisah Adel yang selalu sabar menghadapi pacarnya yang cuek, yaitu Lee Haechan.
"Haechan, kamu mau es krim gak?" tanya Adel
"Gak" jawab Haechan
***
Cover by iu_graphic
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Happy reading gais...
***
Seorang gadis menuruni anak tangga dengan langkah cepatnya sembari memperbaiki letak tasnya serta anak rambutnya yang sedikit berantakan, terlihat jelas di wajahnya jika saat ini ia sedang dilanda kata terlambat. Begitu ia tiba di lantai bawah, ia bisa mendapati kakak dan juga Mamah-nya memandanginya pasrah, kebiasaannya tak pernah berubah sejak jaman SMA, yaitu suka terlambat bangun dan berakhir panik sendiri.
Siapalagi jika bukan Adelia Jung, gadis yang kepribadiannya masih sama itu berhasil membuat Jaehyun angkat tangan jika harus mengurus Adik perempuannya ini. Padahal sudah semester 2, tapi Adel tak ada perubahan. Jika urusan nilai, setiap semester nilai Adel selalu memuaskan dan itu menjadi kelebihan tersendiri baginya meskipun terkadang membuat Jaehyun naik darah.
“Terlambat lagi?” tanya Mamah sembari memperhatikan Adel yang sudah dilanda kegelisahan.
“Enggak” balas Adel
“Loh, kenapa buru-buru?”
“Ada Haechan didepan, dia mau nganterin aku ke kampus makanya aku buru-buru”
Kening Jaehyun otomatis mengernyit, ia menyeruput kopinya terlebih dahulu sebelum ikut menimbrung dengan obrolan Mamah dan juga Adel.
“Gak berangkat bareng kakak?” tanya Jaehyun, dan dibalas sebuah gelengan kepala oleh Adel
Adel mengangguk sekilas lalu berpamitan dengan Mamah dan juga kakak-nya ini, selepas selesai dengan urusan dadah-dadah, Adel langsung berlari keluar dari rumah dan mendapati Haechan sudah stay diatas motor sembari memainkan ponselnya sekedar untuk menghilangkan rasa bosan menunggu Adel yang lumayan lama.
“Maaf, aku lama” ucap Adel sembari mengatur nafasnya yang sedikit ngos-ngosan.
Fokus Haechan kemudian berpindah menatap Adel dan menyimpan ponselnya kedalam jaket, ia pun memberikan Adel helm yang biasa dipakainya dan sang gadis pun bersiap-siap untuk naik ke jok belakang.
“Tumbenan kamu mau jemput aku” ucap Adel
“Jadwal aku agak siangan, makanya mau nganterin kamu” ucap Haechan
“Oh gitu, kamu udah sarapan belum?”
“Belum, kamu juga kan?”
“Iya, aku kira kamu bakal ada kelas makanya aku buru-buru”
Haechan terkekeh pelan lalu memasang helm dikepalanya sendiri, kemudian menyalakan mesin motor begitu ia rasakan Adel sudah duduk manis di belakangnya sembari memeluk pinggang Haechan.