Hanya kisah Adel yang selalu sabar menghadapi pacarnya yang cuek, yaitu Lee Haechan.
"Haechan, kamu mau es krim gak?" tanya Adel
"Gak" jawab Haechan
***
Cover by iu_graphic
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Happy reading gais...
***
Semenjak kedatangan Dira, perlakuan Haechan semakin hari malah semakin perthatian pada Adel. Bahkan Adel sampai heran sendiri akibat kelakuan pacarnya itu, tak ada hari yang Haechan lewati tanpa menempel padanya. Saat libur pun, dia menyempatkan diri untuk menempel pada Adel meskipun mendapat omelan dari Jaehyun. Bukannya tidak suka, tapi Jaehyun agak kesal melihat kemesraan adiknya itu yang jelas-jelas Jaehyun masih jomblo sampai sekarang.
“Nempel teros!” gerutu Jaehyun, saat ia melihat pemandangan Adel dan Haechan untuk kesekian kalinya.
Ia sendiri sampai heran, kenapa Haechan malah bucin pada Adel yang dulunya masa bodo? Apa ini yang namanya karma? Entahlah, hanya mereka berdua yang tau. Jaehyun tidak ingin ambil pusing, yang terpenting ia harus cepat-cepat wisuda.
“Sirik aja jomblo” ejek Haechan, yang berakhir mendapat pelototan mata dari Jaehyun.
“Kalian berdua mau kemana? Tumbenan bangun pagi” ucap Jaehyun
“Gak kemana-mana sih kak, emang kenapa?” balas Adel sembari menyiram tanaman milik Mamah-nya.
“Aku kira mau keluar, kan kamu jarang tuh bangun pagi” ujar Jaehyun.
Adel hanya bisa menghembuskan nafasnya dengan kasar dan pasrah atas apa yang kakak-nya ucapkan padanya, karena yang Jaehyun katakan adalah 100% kenyataan. Adel mana mau bangun pagi jika tak ada janji terlebih dahulu? Tapi sekarang beda, dirumah ini ada Haechan dan Ibu-nya, mana mungkin Adel bangun kesiangan? Jaga image.
“Oiya Chan, entar lo temenin gue kedepan yah ambil pesanan Mamah” suruh Jaehyun ke Haechan.
“Pesanan apa kak?” tanya Adel
“Kue” jawab Jaehyun, dan Adel pun mengangguk paham lalu melanjutkan pekerjaannya agar cepat selesai.
Kemudian mereka pun hening, tak ada yang bersuara. Jaehyun sibuk lompat tali, sedangkan Haechan sibuk dengan gadgetnya. Adel yang melihat kegiatan mereka hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala, setelah selesai dengan tugasnya, Adel segera mengggulung selang dan menyimpannya di tempat semula.
Tungkainya ia langkahkan untuk masuk kedalam rumah, membantu Mamah-nya yang sedang di dapur tengah berperang dengan kompor. Diruang makan sudah ada Ibu Haechan yang tengah mengiris-iris buah, ia pun berinisiatif untuk menghampiri Ibu Haechan, kapan lagi mendekatkan diri lebih dalam kepada calon mertua?
“Eh, Del. Kamu udah selesai siram tanaman?” tanya Mamah-nya yang tiba-tiba muncul dengan beberapa piring dikedua tangannya.
“Iya udah Mah” jawab Adel
“Yaudah, kamu bantuin Mamah gih”
Padahal baru saja Adel ingin membantu Ibu Haechan, tapi Mamah-nya sudah menyuruhnya lagi. Mau tidak mau ia pun mengiyakannya dan menuruti keinginan Mamah daripada namanya di hapus dalam daftar keluarga, ia tak bisa membayangkannya.