Love you every minute, every second.
Love you everywhere and any moment .
--------
Rosé mendudukkan diri di samping Jennie, raut wajahnya terlihat seperti menahan amarah dengan rahangnya yang mengatup rapat. Jennie dan Lisa saling pandang satu sama lain melihat perubahan di mimik wajah sahabatnya itu setelah kembali dari kelas Beomgyu. Lisa mengangkat bahunya sekilas kemudian menatap Rosé yang masih tidak bergeming.
"Kau kenapa, Rosé?"
Rosé menatap Lisa sesaat mendengar pertanyaan dari gadis berponi itu. Dia menarik nafasnya dalam dalam kemudian membuangnya kasar, dadanya terasa sesak menahan amarahnya sendiri.
"Aku ingin bertanya pada kalian, apa sejak dulu Beomgyu selalu bersikap dingin kepada semua orang?" Rosé menatap kedua sahabatnya bergantian.
"Setahu kita dia memang seperti itu, dia tidak banyak bicara juga tidak banyak berinteraksi dengan orang." Lisa melihat raut wajah Rosé yang nampak semakin kesal mendengar jawaban darinya.
"Saat MOS dulu dia juga lebih suka menyendiri, bahkan ketika anggota OSIS ataupun siswa lainnya membuat lelucon dia tidak pernah tertawa karena lelucon itu. Jika lelucon itu benar-benar lucu dia mungkin hanya tersenyum tipis." Sambung Jennie.
Rosé masih diam setelah mendengar jawaban dari kedua sahabatnya. Ia masih bergelut dengan pikirannya sendiri, menerka-nerka siapa Winter bagi Beomgyu sampai laki-laki itu bisa bersikap hangat pada gadis itu. Jika memang hanya 'Teman' Beomgyu tidak pernah menunjukkan sikap hangatnya itu ke temannya yang lain.
"Apa itu berarti dia wanita yang special untuknya?" Rosé bertanya pada dirinya sendiri membuat Lisa dan Jennie saling memandang lagi satu sama lain.
"Wanita siapa, Rosé?" Tanya Jennie dengan tatapan bingung.
"Murid baru yang kalian bicarakan tadi." Jawab Rosé yang masih memandang lurus ke depan dengan tatapan kosongnya.
"Memang ada hubungannya apa Beomgyu dengan murid baru itu?"
Pertanyaan yang diajukan Lisa membuat Rosé lagi-lagi membuang nafasnya dengan berat. Dia melirik Lisa dan menyandarkan punggung ke kursinya.
"Entahlah, Beomgyu bilang dia hanya temannya sejak SMP." Raut wajah Rosé yang tadinya tampak kesal dan marah, kini mengisyaratkan kesedihan.
"Tapi Beomgyu terlihat begitu bahagia bersamanya. Matanya yang dingin terlihat hangat saat menatap gadis itu, dia bisa tersenyum begitu lebar bahkan tertawa kecil saat bersamanya." Rosé tersenyum getir mengingat kembali sikap Beomgyu yang lembut dan hangat saat bersama Winter, sangat berbanding terbalik ketika saat bersama dia.
Jennie merangkul pundak Rosé memberikan usapan lembut di lengan sahabatnya itu.
"Jangan berpikir terlalu jauh tentang Beomgyu dan murid baru itu. Bisa saja dia memang hanya teman Beomgyu, teman yang sudah sangat dekat dengan Beomgyu sehingga membuatnya lebih bisa mengekspresikan perasaannya."
Jennie memberikan masukan positif pada Rosé, ia tidak ingin Rosé terlalu berpikir berlebihan yang nantinya akan membuat sahabatnya itu stress sendiri memikirkan asumsinya yang belum tentu benar adanya. Karena Jennie tahu Rosé begitu menyukai laki-laki yang berstatus sebagai juniornya itu.
Lisa yang menjadi pendengar setia mengangguk setuju dengan perkataan Jennie.
"Jangan berpikir bahwa Beomgyu menyukai wanita itu karena aku tahu betul laki-laki seperti Beomgyu itu bukan tipe orang yang mudah jatuh cinta. Laki-laki sepertinya akan jatuh cinta pada seseorang yang benar-benar membuatnya merasa nyaman. " Ucap Lisa ikut meyakinkan sahabatnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
You Will Know How Much I Like You (Completed)
DiversosCerita tentang Rosé yang tergila-gila pada juniornya di sekolah. Junior yang dingin serta tidak memiliki banyak ekspresi, namun mampu membuat hidup Rosé memiliki banyak warna. Berhenti menjadi penguntitku, sunbae. Itu membuatku risih. - Beomgyu I l...
