11

207 26 0
                                        

Sudah memasuki bulan desember yg berarti natal sebentar lagi tiba, kemarin aku berbicara pada mom bahwa hari ini berencana menghias pohon natal seorang diri tanpa bantuan siapapun. mom hanya tertawa karna biasanya aku menghias pohon natal dengan kakak lelakiku bernama brian.

Yg harusnya diawal bulan desember dia sudah kembali ke monaco, tapi beralasan pekerjaan nya di new york tidak bisa ditinggal hingga menjelang natal. Aku mulai mengeluarkan pernak pernik pohon natal dari dalam dus, dan aku juga membeli beberapa pernak pernik baru sesaat setelah kembali dari abu dhabi.

Berbicara mengenai abu dhabi, malam itu saat aku tiba tiba keluar dari bar dengan menangis. Ternyata Lewis mengikutiku dan memberiku tumpangan untuk kembali ke hotel.

Aku berusaha menolak, tapi dia beralasan aku tidak mengenal siapapun dan tak banyak org abu dhabi yg bisa berbicara bahasa inggris. akhirnya aku menurut dan mengizinkan lewis mengantarkanku kembali ke hotel.

yang aku ingat saat itu air mataku tidak berhenti keluar, dan lewis memberiku tisu yg terletak di dashbord mobil. Dengan malu malu aku menerimanya

"apa kau sudah merasa baikan?" tanya nya saat kami sudah berhenti di basement hotel, kami berdua blm turun dan masih diam di dalam mobil yg menyala.

aku mengagguk patah patah mencoba menenangkan diri dan menghapus sisa air mata, jika aku mengingatnya sekarang itu adalah hal paling memalukan sepanjang hidupku. Menangis tersedu sedu di depan orang tak cukup dekat, bahkan sampai mengantarkan kembali ke hotel. Andai brian tau mungkin aku akan di tertawakan habis habisan olehnya.

Paginya charles mengetuk pintu kamar hotelku dengan tidak sabar, hingga aku merasa terganggu. Dengan mata yg masih berat dengan terpaksa aku membuka pintu, charles masuk dan langsung memelukku. Aku hanya mematung tak mengeluarkan sepatah katapun, rasanya aku sdh tak memiliki tenaga setelah menangis semalaman.

"oh lily mengapa kau pergi tanpa memberitahu"

"kau tidak tau betapa bingung nya aku dan charlotte mencarimu"

Bulshitt batinku saat itu.

"aku hampir saja menelpon polisi jika lorenzo tidak memberitahuku bahwa kau sdh berada di hotel"

"harusnya kau bilang jika ingin pulang, kau tau sendirikan ini negara orang bla bla bla" charles terus mengoceh panjang lebar, dan aku hanya diam tak menjawabnya.

"lil kau baik baik saja bukan? kau tidak terluka" saat charles berkata seperti itu rasanya aku ingin berteriak "hatiku yg terluka karna melihat kau dan kekasihmu berciuman mesra di depan publik"

aku hanya tersenyum tipis dan menggeleng pelan, dan sejak saat itu aku lebih banyak diam. Bahkan saking sunyinya arthur terus menerus menegurku, menanyakan apakah aku baik baik saja, atau apakah aku sakit. karna memang tak biasanya, jika sdh berkumpul seperti ini aku yg biasanya akan menjadi tukang onar atau tidak bisa diam hingga saking kesalnya charles pernah menutup mulutku dengan sapu tangannya hampir 10 menit. "kau harus menghemat suaramu, jika tidak kau tidak akan bisa bicara selamanya"begitu katanya waktu itu.

Aunt pun bingung mengapa mendadak aku menjadi diam, saat dipesawat aku duduk disebelah aunt "apa kau merasa sakit lil? kau baik baik saja?" aunt terlihat khawatir, aku menoleh dan tersenyum lebar

"no, aku baik baik saja aunt tak perlu khawatir" terlihat tatapan khawatir dr aunt, aku menepuk lengannya pelan meyakinkan bahwa aku baik baik saja.

aku menghela nafas perlahan, menatap lorenzo yg berada di depanku kebetulan kami menggunakan jet pribadi. jadi kami saling duduk berhadapan, untung nya saja didepanku bukan charles dan wanita itu. lorenzo menatapku dengan tatapan tak biasa, mendadak mataku terasa panas. Sepertinya lorenzo bisa menebak penyebab mengapa aku menjadi pendiam.

Beautiful Goodbye || Charles LeclercTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang